Hasil Seri yang Membanggakan

Di halaman muka edisi Senin 4 Juni 2012 kemarin, Bola menulis “Filipina vs Indonesia : Serius, Sebab Berdampak Pada Rangking FIFA”. Membaca ini, saya cukup antusias menunggu pertandingan yang akan dimainkan di Manila tersebut. Antusiasme yang beberapa saat sebelumnya sempat menguap.

Entah kenapa, sejak SEA Games usai, saya merasa kehilangan ikatan emosional dengan timnas. Kekalahan 0-10 dari Bahrain, 0-2 dari Brunei Darussalam, 1-2 dari Palestina akhirnya saya terima sebagai sebuah kewajaran. Tidak ada lagi kekecewaan seperti ketika kalah dari Malaysia di final Piala AFF 2010. Tidak ada lagi tangisan seperti saat kalah dari Malaysia lewat adu penalti yang menyesakkan di Final SEA Games 2011. Benar-benar biasa. Sungguh hambar menyaksikan pertandingan-pertandingan tersebut.

Ketika pertandingan eksibisi melawan Inter Milan –tim idola saya sejak kecil – saya pun tidak merasakan gairah itu.

Beberapa hal yang saya ingat justru adegan-adegan yang menunjukkan bagaimana kualitas liga Indonesia. Andik yang berkali-kali memaksa melewati beberapa pemain. Diego Michels yang memancing emosi Ivan Cordoba dengan cara yang sungguh konyol. Okto yang tetap ngeyel melewati Maicon dan malas mengumpan meskipun banyak teman yang terlihat tidak dijaga. Barangkali ia terinspirasi Gareth Bale yang pernah melewati Maicon dalam pertandingan di Liga Champions 2 tahun lalu. Tapi tentu saja ia bukan Bale.

Karena itu ketika muncul tanda-tanda gairah itu muncul lagi, saya pastikan akan menonton pertandingan sejak menit awal. Rupanya niat saja tidak cukup. Kadang ia bisa gagal hanya karena tabloid Bola salah nulis jadwal kick off pukul 19.30 WIB. Padahal kick off sudah dimulai pukul 18.00. Ya sudah, saya baru sadar setelah pertandingan sudah berjalan setengah jam.

Pola permainan cepat yang dimainkan timnas sempat beberapa kali menyentak emosi saya. Beberapa kali terlihat kerja sama cepat dari kaki ke kaki para pemain Indonesia. Komentator berbahasa Inggris dengan dialek Tagalog yang kental sempat mengatakan bahwa Indonesia meniru pola permainan Barcelona. Saya mbatin ini komentator lebay. Tapi memang patut diakui kerja keras para pemain asuhan Nil Maizar.

Salah satu momen satu-dua sentuhan yang brilian dilakukan Patrich Wanggai dan Irfan Bachdim. Bachdim dijatuhkan dua bek Filipina di kotak penalti. Itu jelas penalti. Sayang wasit tidak meniup peluit. Pertahanan timnas yang dipimpin Novan Setya sempat menyulitkan penyerang-penyerang tuan rumah. Meski, beberapa kali terjadi kecerobohan fatal yang salah satunya berujung pada gol pertama Azkals.

Saya sungguh gembira ketika Patrich Wanggai berhasil mencetak gol ke gawang Filipina. Meskipun tidak lama kemudian disamakan skor, timnas berhasil bangkit kembali setelah Bachdim solo run dari tengah lapangan dan menceploskan bola dengan kaki kirinya. Tapi, kegembiraan saya berakhir di sini. Tepat setelah mencetak gol, Bachdim berlari ke tribun belakang gawang. Dan ia meloncat naik ke pagar menyalami suporter timnas. Okto juga ikut meloncat meskipun hampir terjatuh.

Adegan ini menyadarkan saya. Kebahagiaan yang begitu ekspresif para pemain timnas ini ditunjukkan ketika menghadapi Filipina, dalam sebuah pertandingan uji coba. Kenangan saya terlempar ke Piala Tiger 2002 ketika Bambang Pamungkas mencetak 4 gol ke gawang Filipina dan menutup skor akhir menjadi 13-1. Gol-gol dirayakan dengan sederhana, jalan kaki, dan berpelukan. Hampir semua maklum bahwa tidak ada yang perlu dibanggakan dari kemenangan besar melawan tim seperti Filipina.

Jadi, pasti ada yang salah ketika kebanggaan merayakan gol ke gawang tim ini hampir sama dengan kebahagiaan para pemain setelahWidodo Cahyono Putro mencetak gol salto ke gawang Kuwait di Piala Asia 1996, kegembiraan pemain pasca Ponaryo Astaman mencetak gol indah ke gawang Qatar di Piala Asia 2004 yang menyebabkan Philipe Throussier dipecat, atau meledaknya para pemain setelah Bambang Pamungkas mencetak gol penentu ke gawang Bahrain di Piala Asia 2007.

Ternyata timnas kita benar-benar sedang terjun bebas. Tidak hanya kering prestasi, tetapi juga semakin tertinggal dari negara tetangga sendiri. Setelah pertandingan ini saya iseng mencari peringkat FIFA terbaru. Dan ternyata hasilnya agak, atau lebih tepat sangat, mengagetkan. Secara keseluruhan, Indonesia berada di peringkat 151. Dan khusus untuk kawasan Asia Tenggara, timnas berada di urutan empat, di bawah Vietnam (97), Thailand (141), dan Filipina (148). Malaysia yang mengalahkan kita di final Piala AFF dan Sea Games hanya menempati urutan 153.  Singapura di peringkat 158, Myanmar 175, dan Brunei Darussalam 201.

Jika menyimak posisi tersebut, artinya memang hasil seri 2-2 melawan Filipina ini adalah hasil yang membanggakan. Timnas menahan seri negeri yang berada di atasnya. Apalagi dengan punggawa yang bukan merupakan pemain terbaik hasil dididikan Liga Indonesia.

Nah, karena hasil ini cukup membanggakan, maka patut kita terima dengan kewajaran jika Indonesia tidak akan menjadi juara Piala AFF 2012 nanti. Lolos dari babak penyisihan grup pun sepertinya susah.

Iklan

2 pemikiran pada “Hasil Seri yang Membanggakan

  1. pesimis khas jurnalis. tapi ya ga papa sih. wajar juga pesimis (kritis) melihat yang terjadi dengan sepakbola Indonesia saat ini. mungkin bachdim dan pemain lain begitu gembira karena di tengah krisis dan tidak full team, kita masih bisa kompetitif lawan ‘pemain-pemain asing’ filipina.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s