Bubarkan Liga Indonesia!

Jujur saja, saya menangis menyaksikan video pengeroyokan suporter Persib pada pertandingan Persija v Persib di Gelora Bung Karno (27/5) kemarin. Insting paling purba manusia ditunjukkan dengan begitu telanjang. Teriakan “Matiin! Matiin!” diiringi dengan pukulan beruntun kepada korban. Ini jelas bukan duel yang seimbang. Kerumunan menghajar satu orang. Polisi hanya mampu menyaksikan dan tak mampu berbuat apa-apa ketika korban diseret keluar stadion.

Di media sosial juga, beberapa orang yang terindikasi ikut melakukan pengeroyokan dengan bangga memamerkan perilakunya itu. Entah apa yang ada dalam benak mereka. Tapi dari cuplikan video tersebut saya memiliki keyakinan, sepakbola negeri ini sedang berada pada titik terendahnya. Dan rasa-rasanya akan tetap seperti itu beberapa tahun ke depan.

Komentar yang muncul dari beberapa pejabat publik dan pengurus PSSI terkait meninggalnya suporter tersebut membuat saya semakin yakin. Selain cenderung meremehkan persoalan yang sudah terjadi berkali-kali, komentar-komentar yang muncul menunjukkan bahwa mereka tidak paham akar persoalan.

Djohar Arifin mengatakan bahwa klub perlu memberikan pendidikan kepada suporter agar tidak mudah menimbulkan kekerasan. Andi Mallarangeng berpendapat senada. Seperti dia bilang, “setiap tim kesebelasan harus membina suporternya untuk menonton dengan damai”. Pernyataan yang paling fatal dikeluarkan La Nyalla Matalitti. Dalam wawancara dengan Radio Elshinta (28/5) ia mengatakan bahwa  kematian suporter tersebut sudah takdir dan bukan tanggung jawab panitia penyelanggara.

Seolah belum cukup, komentar-komentar tersebut masih ditambah dengan pernyataan Polda Metro Jaya yang mengusulkan bahwa pertandingan Persija vs Persib di masa mendatang tidak boleh dilakukan di GBK dan sebaiknya tanpa penonton. Mungkin polisi berpikir bahwa pertandingan yang dilakukan tanpa penonton bisa meminimalisir aksi kekerasan. Atau boleh jadi mereka ingin lepas tangan. Seperti yang dilakukan dalam peristiwa ini dengan mengatakan bahwa kasus kekerasan terjadi di luar area yang mereka amankan.

Orang-orang yang merasa mampu mengurus sepakbola ini sepertinya lupa. Barangkali mereka memang tidak tahu. Kasus kekerasan yang melibatkan suporter sepakbola semacam ini tidak pernah berdiri sendiri. Ia merupakan akumulasi berbagai problem sepakbola dalam negeri yang kusut. Problem yang sudah akut menggurita dan berkelindan dengan masalah ekonomi, politik, bahkan cuaca kultural. Menyalahkan fanatisme sempit suporter sama sekali tidak akan menghasilkan solusi yang efektif. Fanatisme sempit bisa dijadikan kambing hitam sementara, tapi jelas bukan faktor tunggal.

Kasus pengeroyokan yang berujung kematian ini sudah terjadi berulang kali. Kekerasan yang dilakukan suporter sudah menjadi kebiasaan. Pada hari yang sama, di Sleman, anggota Brigata Curva Sud (BCS) suporter PSS Sleman, dibacok oleh oknum suporter sesama pendukung PSS. Kalau mau dilihat lebih jauh, kasus kekerasan yang menewaskan suporter selama tahun ini setidaknya sudah mencapai angka 11 orang.

Kekerasan semacam ini bukan sebab, ia adalah akibat. Langkah radikal harus segera dilakukan.

***

Banyak analis yang mengatakan bahwa vandalisme dan kekerasan dalam sepakbola yang dilakukan oleh suporter adalah sebentuk katarsis. Katarsis dari problem kehidupan yang kadang sama sekali tidak berhubungan dengan sepakbola. Di Indonesia, padatnya lapangan pekerjaan telah menjadi faktor yang semakin membuat tingkat pengangguran menjadi tinggi. Dan ini juga berkorelasi positif dengan waktu luang yang semakin banyak. Rutinitas kehidupan masyarakat modern yang begitu menekan tidak dapat dipungkiri telah menyebabkan stress dan kebosanan.  Akibatnya, mereka mencari kegiatan untuk menginterupsi hidup yang monoton.

Sepakbola menyediakan ruang sempurna untuk stress dan kebosanan itu. Seperti diungkapkan Bagus Takwin, sepakbola mampu menyalurkan emosi-emosi negatif untuk merusak dan menyakiti (tellic-negativistic), memperoleh rangsangan dan kenikmatan (paraletic-negativistic), memperoleh perasaan berharga dan kekuasaan (telic-mastery), dan dorongan mendominasi pihak lain untuk memperoleh kenikmatan (paraletic-mastery).

Metamotivasi ini yang menggerakan suporter untuk terlibat dalam sebuah aksi kekerasan. Fakta di Indonesia yang menjelaskan rendahnya hubungan emosional antara suporter dengan klub yang didukung mempertegas metamotivasi tersebut. Tidak dapat dipungkiri, mayoritas suporter di Indonesia masih sebatas meminjam klub untuk dijadikan sebagai simbol identitas semata. Tentu saja, identitas untuk meneguhkan eksistensi sekaligus menjadi pembeda dengan kelompok lain. Klub tidak benar-benar didukung.

Hal ini berbeda, misalnya, dengan kelompok suporter di Inggris dan beberapa negara Eropa. Di sana, klub terikat dengan komunitas di lingkungan sekelilingnya. Ian Taylor mengungkapkan bahwa komunitas masyarakat yang menjadi suporter klub menganggap bahwa fans adalah suatu “demokrasi partisipatoris”. Artinya, fans memiliki daya tawar dalam ruang dewan pengurus klub maupun di lapangan.

Konteks kelahiran hooligans pun lebih merupakan konsekuensi dari perjuangan kelas yang terjadi. Klub dengan logika bisnis akan menjadikan suporter dari kelas menengah dan borjuis sebagai konsumen. Kelas pekerja yang menjadikan sepakbola sebagai hiburan akhirnya terpinggirkan. Mereka bahkan teralienasi. Maka meledaklah kekerasan hampir di setiap pertandingan.

Kembali ke Indonesia. Minimnya ikatan emosional ini sebenarnya juga merupakan kegagalan dari industrialisasi sepakbola. Klub dengan mudah berpindah-pindah kota yang mampu menyediakan uang untuk menghidupinya. Simak misalnya seperti kasus Gelora Dewata, Sriwijaya, Pelita Jaya, dan juga Persijatim. Kelahiran instan tim-tim ala IPL beberapa saat lalu juga bisa dijadikan contoh. Suporter pada akhirnya juga menjadi pendukung instan.

Pendukung instan pun pada tahap selanjutnya akan melahirkan konflik antar suporter yang kekanak-kanakan. Tanpa basis ideologis dan historis yang jelas. Simak saja betapa suporter saat ini sudah terkotak-kotak ke dalam beberapa blok. Dan suporter dalam blok yang sama akan bersolidaritas untuk ikut menyerang kelompok suporter dari blok yang lain. Blok-blokan yang melibatkan kelompok suporter seperti Aremania, Jakmania, Slemania, BCS, Panser Biru, Pasoepati, Bonek, Viking, dan lainnya sudah terlihat begitu jelas.

Beberapa kerusuhan dalam laga tradisional seperti “Persija v Persib” maupun “Arema v Persebaya” pun banyak melibatkan anak-anak muda yang sebenarnya tidak pernah punya sangkut paut dengan dendam masa lalu. Bahkan, banyak anak-anak muda ini yang gagal memahami siapa sebenarnya musuh bebuyutan klub yang didukungnya. Saya garis bawahi, musuh bebuyutan antarklub, bukan musuh bebuyutan sesama suporter. Sebagai contoh di Semarang, kawan-kawan saya suporter PSIS akan dengan mudah menunjuk hidung suporter Persijap sebagai musuh bebuyutan. Padahal, konflik ini hanya terjadi beberapa waktu belakangan saja.

Kalau ingin tahu musuh bebuyutan dan tradisional PSIS ya jelas Persebaya. Tidak hanya semata-mata antar suporter, tetapi juga prestasi. Bapak sering bercerita tentang hal ini. Dan saya yakin, tidak banyak yang mengerti sisi historis semacam ini. Tentu saja saya tidak sedang melakukan provokasi, saya hanya ingin mengkritik kekerasan yang begitu kekanak-kanakan ini. Pertanyaan selanjutnya adalah pertanyaan yang disukai oleh Lenin, what is to be done?

***

Untuk menyelesaikan persoalan tentang kekerasan suporter sepakbola ini, pendekatan yang dilakukan semestinya interdispliner. Tapi saya ingin mulai dengan cara yang –menurut saya- paling sederhana. Bubarkan dulu liga Indonesia. Baik LPI maupun LSI sama saja. Atau kalau perlu, pemerintah mestinya juga membubarkan PSSI lebih dahulu. Hentikan selama 2-3 tahun, dan biarkan semua pihak berpikir ulang tentang sepakbola negeri ini. Liga sudah sedemikian busuk tidak hanya dengan kekerasan suporter tetapi juga kisruh pengurus klub, wasit yang acakadut memimpin pertandingan, bahkan pemain yang kadang sudah tidak ingin bermain bola karena lebih mengincar untuk mencederai lawannya. Pertandingan di LPI dan LSI adalah kisah tentang itu.

Kita bisa belajar dari Yunani tahun 2007 yang menghentikan liganya karena kasus kerusuhan suporter. Belajar dari Mesir 2012 yang menghentikan liga pasca tragedi Port Said. Atau minimal belajar dari Brasil tahun 2011 di mana klub yang suporternya terlibat kerusuhan dihukum berat. Beberapa suporter yang terlibat juga tidak boleh ke stadion seumur hidup.

Kalaupun tidak mampu seberat itu, PSSI bisa menghukum klub. Bagaimanapun juga, suporter mesti diberi pelajaran bahwa tindakan mereka bisa berimbas negatif terhadap klub yang didukung. Kalau perlu, suporter yang terus menerus melakukan kerusuhan, klubnya didegradasi. Tapi, saya pun ragu dengan PSSI. Menyelesaikan persoalan organisasi saja mereka tidak mampu. Rasa-rasanya saya sudah menjadi seorang fatalis.

Atau, anda punya saran yang lebih baik? Saya sudah jengah. Begitu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s