Sepakbola Politik, Politik Sepakbola

Sepakbola tidak akan pernah bebas dari intevensi politik. Mulanya saya sempat ragu dengan pernyataan tersebut. Tentu saja karena sempat saya beranggapan bahwa sepakbola adalah olahraga yang seharusnya bebas dari kepentingan politik apapun. Olahraga adalah olahraga, sepakbola adalah sepakbola. Sayangnya pandangan ini lantas menjadi naif. Politik akan selalu memanfaatkan sepakbola untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Apalagi di Indonesia, negeri di mana politik dan tetek bengek demokrasi masih sekadar cara untuk mengeruk suara Tuhan sebanyak-banyaknya.

Pertandingan ujicoba tim LPI Selection vs Internazional (24/5) dan Sriwijaya vs Persipura kemarin (27/5) bisa menjadi bukti terbaru. Saya kaget melihat Fauzi Bowo menyalami para pemain sebelum pertandingan. Barangkali dia berharap mendapatkan dukungan dari para pemain Inter Milan. Atau bisa jadi, sebenarnya ia adalah penggemar berat Inter, seperti saya. Tapi tentu dugaan semacam ini patut diragukan. Ia jelas memanfaatkan momen langka ini untuk menjual diri, meskipun hanya sekilas. Warga Jakarta saya kira tidak akan lupa bahwa Gubernur ini pernah membiarkan stadion Menteng digusur.

Sementara pada pertandingan bigmatch di Palembang, wajah Alex Noerdin mendominasi layar ANTV. Saya tidak menyaksikan babak pertama. Tapi di babak kedua, saya menghitung setidaknya ada sembilan kali momen kamera menyorot wajah calon gubernur DKI ini. Empat puluh lima menit jika dibagi sembilan kali, kita akan menemukan angka lima. Bayangkan, setiap lima menit sekali kita dipaksa untuk melihat wajahnya!

Duduk di pinggir lapangan, Alex terlihat berusaha menampilkan diri sebagai seorang penggila bola. Sayangnya ia gagal. Gesture tubuhnya di pinggir lapangan jelas menunjukkan bahwa ia tidak menikmati pertandingan yang menentukan bagi kedua tim tersebut. Ia malah terlihat kikuk setiap kali kamera menyorot wajahnya. Antara melirik kamera dan berupaya menikmati pertandingan. Jujur saja, wajahnya semakin membuat pertandingan malam itu semakin membosankan.

Kondisi semacam ini jamak terjadi di Indonesia. Apalagi, rata-rata ketua umum klub eks perserikatan adalah kepala daerah. Eksploitasi melalui sepakbola semakin mudah saja. Saya teringat ketika masih sering menyaksikan pertandingan bola di Jatidiri, 7-8 tahun yang lalu. Mantan Walikota Semarang, Sukawi Sutarip, sering sekali keliling stadion dengan menggunakan mobil jeep selama jeda babak pertama. Ia melambaikan tangan ke seluruh stadion, dan saya hampir yakin bahwa di benaknya ia membatin “pilih saya ya jadi walikota Semarang.”

Kalau mau menyaksikan kepalsuan wajah para politisi lebih jauh simak saja Piala Asia 2007 atau Piala AFF 2010. Di Piala Asia 2007, SBY yang awalnya tidak menyaksikan pertandingan Indonesia di GBK, mendadak menyaksikan laga langsung di dua pertandingan selanjutnya. JK lebih lihai memanfaatkan momentum turnamen ini.  SBY bukan penggemar bola. Saya ingat betul dalam sebuah debat presiden di pemilu 2004, SBY dan Megawati tidak bisa menjawab pertanyaan sederhana, siapa juara Liga Indonesia tahun 2004?

Nah. Kebusukan lainnya ada di Piala AFF 2010. Politisasi yang menjemukan dan dilakukan dengan telanjang bulat. Kunjungan ke rumah Aburizal Bakrie dan ke pesantren sebelum laga final adalah faktor penting yang bisa dikambingkan hitamkan untuk kekalahan dari Malaysia. Tak mudah melupakan betapa jengkel dan lelahnya wajah Irfan Bachdim ketika pipinya dicubit oleh penggemar. Jangan lupakan juga foto Ical, SBY, dan Hatta Rajasa yang berderet-deret nampang di Bukit Jalil. Menjijikkan.

Saya – tentu saja – bosan dan eneg dengan para politisi murahan yang seenak jidatnya menggunakan sepakbola sebagai sarana untuk mengeruk keuntungan politik. Tapi, perasaan eneg ini toh tidak akan berarti apa-apa. Sepakbola tidak akan pernah lepas dari pengaruh politik. Ini harus diakui dan dimaklumi. Sejarah sepakbola adalah sejarah tingkah laku politik. Bahkan sejak era sepakbola mulai ditemukan.

Untuk melihat jejak historis ini, kita bisa merujuk pada buku Richard Giulianotti yang berjudul Sepakbola: Pesona Sihir Permainan Global (1999). Pengajar di University of Aberdeen ini menjelaskan bagaimana intervensi politik hadir di lapangan. Selama era Dinasti Ming tahun 1389, China melarang melarang rakyatnya bermain sepakbola. Sementara di Inggris, Raja Edward II melarang sepakbola supaya rakyat bisa lebih banyak berlatih panahan.  Situasi yang sama sudah jelas bisa dilihat di era modern.

Gambaran apa yang terjadi di Indonesia di atas adalah beberapa contoh saja. Dalam skala internasional, politisasi sepakbola juga terjadi di berbagai belahan dunia. Jenderal Franco barangkali salah satu penguasa yang paling brutal dalam mengintervensi sepakbola. Para pendukung Barcelona seharusnya tahu ini. Tahun 1938, Jenderal Franco memerintahkan militer menjatuhkan bom di atas kandang Barcelona. Tercatat 3.486 pendukung Barca meninggal. Sementara di atas lapangan, Barca dipaksa menyerah dari tim kesayangannya, Real Madrid. Pada tahun 1941 Barca dipaksa kalah 1-11 dari Madrid. Beberapa pemain Barca bahkan diskorsing tidak boleh bermain seumur hidup.

Persaingan ini bahkan mengakar dan mengendap dalam masing-masing tim sampai sekarang. Paling mutakhir, otoritas pengelola Santiago Bernabeu “menolak” final Copa del Rey Barcelona dan Athletic Bilbao dimainkan di tempat itu. Alasannya sederhana, stadion sedang berada dalam tahap renovasi toilet dan bangku penonton. Terkesan dibuat-buat bukan? Tentu saja. Banyak yang menganggap bahwa pihak Madrid enggan menyaksikan rumahnya dibuat tempat pesta oleh dua tim anti-Spanyol itu.

Deretan unsur politik ini selanjutnya juga bisa kita simak dalam beberapa contoh berikut: Intervensi pemimpin fasis Italia Benito Mussolini pada Piala Dunia 1934; Sepakbola menjadi perantara perang Honduras dan El Salvador tahun 1969; Tragedi Port Said 2011 di Mesir yang diduga merupakan konspirasi militer pro Husni Mubarak yang digulingkan revolusi rakyat; Bahkan politik juga muncul dalam larangan FIFA dalam pemakaian jilbab bagi sepakbola wanita, meskipun belakangan larangan ini dicabut. Ini baru bicara tentang beberapa contoh kasus intervensi politik dari penguasa. Belum lagi jika kita ingin melihat contoh bagaimana sepakbola juga menjadi perjuangan (politik) kelas pekerja, kelas menengah, bahkan kaum borjuasi.

Jadi, mengatakan bahwa sepakbola harus bersih dari unsur politik adalah hal yang hampir tidak mungkin dan ahistoris.

Sejarah sepakbola adalah sejarah tingkah laku politik. Kita tinggal berharap bahwa politik yang menggunakan sepakbola sebagai alatnya digunakan dalam kerangka – meminjam istilah Amien Rais – high politics. Maksudnya, politik tidak hanya dilakukan hanya dengan tujuan-kepentingan taktis-pragmatis seperti yang dilakukan para kepala daerah dan politisi sampah-murahan itu.

Lebih dari itu, politisasi sepakbola seharusnya membawa pesan-pesan dalam memperjuangkan kebebasan. Seperti Palestina yang menggunakan sepakbola untuk menggugah kesadaran dunia bahwa negerinya masih terjajah. Seperti Prancis –juara Piala Dunia 1998 dan Euro 2000 – yang kemenangannya mengingatkan tentang betapa indahnya perbedaan dan menjadi negeri multirasial. Seperti Irak yang kemenangannya pada Piala Asia 2007 membawa kegembiraan luar biasa bagi masyarakat di negerinya yang luluh lantak karena perang. Seperti Frederick Kanoute –seorang muslim –  yang menolak mengenakan kostum Sevilla karena sponsor di dadanya adalah rumah judi. Atau bahkan seperti para founding fathers  yang menggunakan sepakbola untuk memperjuangkan kemerdekaan republik. Kira-kira begitu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s