Suporter, Kekerasan, dan Kreativitas

Di negeri ini, menjadi suporter sepakbola ternyata juga bisa membahayakan nyawa. Minggu (27/5) kemarin, ada beberapa peristiwa tragis yang menjelaskan pernyataan tersebut. Di Jakarta, 3 suporter tewas setelah menyaksikan pertandingan Persija vs Persib. Penyebabnya sederhana, korban salah kostum. Karena tidak mengenakan kaos oranye, korban dianggap sebagai suporter tim tamu yang menjadi musuh bebuyutan pendukung tuan rumah. Ironis karena belakangan diketahui bahwa korban adalah pendukung tuan rumah dan baru pertama kali menyaksikan pertandingan bola di GBK.

Sementara di Sleman, anak SMP berusia 14 tahun dibacok setelah menyaksikan pertandingan PSS vs PPSM. Anggota Brigata Curva Sud (BCS) – salah satu kelompok suporter PSS – ini diserang oleh oknum suporter PSS Sleman juga. Warisan konflik lama namun masih hangat yang disebabkan perpecahan di tubuh suporter PSS. Konflik membawa korban yang tidak perlu. Sampai tulisan ini dibuat, korban masih dirawat dan menjalani operasi di RS Sardjito. Hampir setiap pertandingan PSS, pasti ada serangan dalam skala kecil maupun besar terhadap BCS.

Kalau mau ditarik lebih jauh, kasus kekerasan yang melibatkan suporter jumlahnya begitu banyak. Tidak perlu menghitung jumlah kasus di berbagai daerah, cukup melihat dari apa yang terjadi di Yogyakarta dalam beberapa bulan ini. Beberapa bulan lalu, persoalan perpecahan suporter PSIM menyebabkan satu orang meninggal; Pertandingan usiran Persija vs Persipura di Mandala Krida menghasilkan kerusuhan antar suporter kedua tim; Pertandingan usiran Persija vs Persebaya di Sultan Agung Bantul juga sama saja. Oknum suporter Persebaya menjarah warga di sekitar stadion.

Sedangkan di Sleman, beberapa pertandingan yang saya saksikan langsung di Maguwoharjo pun berakhir dengan kekerasan. Misalnya saja dalam laga antara PSS vs Persis. Laga yang sebenarnya berjalan biasa-biasa saja menjadi begitu pelik ketika kasus kekerasan melibatkan suporter tuan rumah, BCS-Slemania, Pasoepati, bahkan pemain! Setidaknya ada satu motor yang dibakar dan puluhan orang luka-luka. Beberapa kawan saya di BCS, Slemania, maupun Pasoepati ikut menjadi korban.

Menjelaskan siapa yang salah dalam kasus ini sungguh sulit. Lebih sederhana kalau kita lemparkan kesalahan kepada provokator yang bermain. Ini yang lebih masuk akal. Kalau tidak ada provokator, bagaimana mungkin seorang Javier Rocha –bintang Persis – yang mencoba menenangkan para pendukung, dilempar batu dari atas tribun oleh suporternya sendiri?! Saya betul-betul kaget ketika menyaksikan adegan aneh-tapi-nyata itu.

Oh iya, saya kaget, tidak bisa menerima, tetapi hal seperti memang sebuah kewajaran.

Pertengahan dekade 1980-an, psikolog sosial Peter Marsh memberikan analisis yang menarik mengenai kekerasan yang melibatkan suporter dalam sepakbola. Dalam tulisannya yang berjudul Life and Careers on the Soccer Terraces, Marsh melacak bagaimana kelahiran hooligans di Inggris pasca tahun 1960an yang didominasi anak-anak muda. Analisis Marsh ini dalam konteks yang lebih jauh bisa digunakan untuk melihat kekerasan yang terjadi di dunia sepakbola.  Menurutnya,  kekerasan adalah hal yang melekat dalam sepakbola.

Suporter datang ke lapangan pertandingan tidak hanya untuk menyaksikan pertandingan sepakbola, tetapi juga untuk kekerasan. Kekerasan, adalah hal yang sifatnya alami dan instingtif pada manusia. Ia melekat dalam insting bertahan manusia. Sewaktu-waktu ia akan muncul ketika lingkungannya begitu menekan dan menyebabkan frustasi sosial. Tentu saja butuh sarana untuk menyalurkan frustasi sosial yang menghimpit. Sepakbola menyediakan hal itu. Dengan gengsi, identitas, eksistensi, dan kebanggaannya, sepakbola menjelma menjadi ruang yang tepat bagi saluran itu.

Nah, bagi anak-anak muda ini, kekerasan menjadi semacam kenikmatan (jouissance) tersendiri. Perjumpaan antara gegap gempita sepakbola dengan periode usia yang sedang berada dalam puncak kegalauan adalah kunci utamanya. Eksistensi kemudian tidak hanya dimaknai sebatas mendukung tim kesayangan. Lebih dari itu, eksistensi juga ditunjukkan dengan fanatisme anti. Anti tim ini, anti tim itu, anti suporter ini, anti suporter itu. Karena fanatisme anti ini, seringkali kerusuhan sepakbola di Indonesia terjadi karena hal yang berada di luar pertandingan.

Fanatisme anti bahkan tidak peduli pada kemampuan diri sendiri. Maksudnya begini, jarang kita melihat perang yang terjadi antar suporter adalah perang kreativitas atau perang prestasi. Perang telah menjelma dalam arti yang sebenar-benarnya, dengan kekerasan fisik. Kesenangan muncul ketika berhasil melukai, mencederai, (bahkan membunuh!) suporter lawan. Banyak kasus seperti ini di Indonesia. Tahun lalu,  ada kawan saya – anggota Panser Biru – yang dipenjara beberapa bulan karena terlibat kasus penyerangan suporter Persijap Jepara.

Saya ragu kasus kekerasan ini akan segera hilang. Bahkan saya juga tidak yakin bahwa kuantitas kekerasan akan berkurang. Selain membutuhkan pemecahan lintas sektor,  perpecahan kompetisi (karena bajingan-bajingan di tubuh PSSI), menjadi faktor yang akan semakin memperuncing kekerasan. Hampir setiap hari di media sosial saya melihat “perang” antara pendukung LPI dan LSI, antar suporter beda klub, bahkan antara suporter sesama klub. Belum lagi ditambah berita-berita provokatif dari media yang berpihak di masing-masing kubu.

***

Tentu saja, saya tak ingin kehilangan harapan. Di tengah atmosfer pesimisme yang memenuhi republik, harapan adalah satu-satunya hal yang mesti dijaga. Dalam kondisi ketika PSSI sebagai otoritas tertinggi dalam sepakbola Indonesia gagal memberikan cuaca yang nyaman bagi sepakbola, suporter mesti bertindak sendiri. Anarki. Bukan dengan kekerasan, tetapi dengan kreativitas yang terus menerus dikembangkan.

Di Yogyakarta, BCS adalah salah satu kelompok suporter yang layak untuk diapresiasi karena kreativitasnya. Saya tidak banyak mengetahui tentang kelompok suporter ini sebelumnya. Pertama kali mendengarnya pun ketika saya menyaksikan pertandingan PSIS vs PSS di Jatidiri beberapa bulan lalu (baca Jatidiri tidak Banyak Berubah). Itu pun saya sempat agak mangkel karena BCS sempat terlibat lempar-lemparan dengan suporter PSIS. Dan saya terjebak di tribun itu!

Apresiasi muncul setelah menyaksikan tiga pertandingan terakhir PSS di Maguwoharjo. Duduk di tribun selatan, saya selalu ikut dalam atraksi koreo di setiap pertandingan. Ada gairah yang tak terkatakan selama berada di stadion. Ini yang pernah saya rasakan beberapa tahun lalu saat masih di Semarang. Sebagai seorang Panser Biru, impuls selalu terangsang setiap kali menyaksikan PSIS di Jatidiri. Saat itu, prestasi Mahesa Jenar sedang bagus-bagusnya.

Nah, bersama BCS ini, saya seolah mengalami deja vu. Ini suporter gila. Beberapa kali koreo dengan menyusun huruf dari potongan-potongan kertas sungguh luar biasa. Sulit untuk membuatnya dengan kondisi tribun yang tidak memiliki tempat duduk sendiri-sendiri. Ini berbeda dengan di Eropa yang mudah membuat susunan huruf atau gambar tertentu karena kursi sendiri-sendiri. Beberapa koreo BCS bisa dilihat di gambar-gambar ini:

Puncaknya tentu pertandingan kandang terakhir PSS musim ini melawan PPSM Magelang kemarin (27/5). Koreo yang membentuk angka “1976” terlihat begitu menggelegar. Apalagi di awal pertandingan sempat menghujani lapangan dengan atraksi papper rain. Gambarnya bisa dilihat di bawah ini.

Sejauh ini, di Indonesia, saya jarang melihat koreo yang membentuk huruf seperti yang dilakukan BCS. Sepanjang pertandingan bernyanyi dan tidak fokus menyaksikan pertandingan. Saya pernah tidak melihat gol di pertandingan karena lebih perhatian untuk sorak-sorak. Saya kira BCS menjadi generasi suporter kreatif di tanah air melanjutkan kelompok-kelompok suporter yang sudah lama berdiri seperti Aremania, Pasoepati, Jakmania, Viking, dan lainnya.

Suporter-suporter kreatif semacam ini yang perlu dikembangkan oleh mereka yang mengaku sebagai suporter setia klub. Kekerasan sudah tidak relevan untuk mengaktualisasikan diri. Atau, kekerasan bisa menjadi ajang aktualisasi diri karena hanya itu satu-satunya cara yang mereka ketahui untuk mendukung tim kesayangan.

Jika kita lihat dalam jejak historis suporter sepakbola di berbagai belahan dunia, suporter kreatif merupakan antitesis dari pendukung yang mengandalkan kekerasan ala hooligans. Kita bisa melihat dari “pasukan tartar” ala Skotlandia, drilos pendukung Norwegia, roligans suporter Denmark, bahkan oranji yang merupakan fans Belanda. Nama-nama ini adalah pioner bagi suporter kreatif di Eropa. Mereka bernyanyi, menari, berteriak, dan penuh hiruk pikuk di dalam stadion. Tujuannya mendukung tim sendiri sekaligus mengintimidasi lawan. Bukankah ini yang harus dilakukan oleh para fans jika memang mereka ingin mendukung tim kesayanganya?

Iklan

3 pemikiran pada “Suporter, Kekerasan, dan Kreativitas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s