Narasi di Sekitar Reformasi 1998


 

  • Judul              : Reformasi dan Jatuhnya Soeharto
  • Penulis            : Basuki Agus Suparno
  • Penerbit          : Kompas
  • Cetakan          : Februari 2012
  • Tebal               : x + 238 halaman

Episode-episode perubahan sosial politik sebuah bangsa selalu memiliki narasi komunikasi yang menarik untuk dikaji. Pemikiran, kepentingan, dan tindakan aktor-aktornya selalu tercermin dalam komunikasi politik yang dilakukan. Serpihan pesan meninggalkan jejak benturan komunikasi beragam kepentingan di gelanggang pertandingan. Dalam hal ini, tingkat keberhasilan untuk melakukan perubahan ditentukan oleh kapasitas para aktor dalam mengartikulasikan ide-ide dalam praktek komunikasinya.

Jejak-jejak pesan dalam praktek komunikasi itulah yang hendak ditampilkan dalam buku ini. Melalui pesan yang berserak di media massa, Basuki Agus Suparno melihat bagaimana tingkah laku politik aktor-aktor yang saling bersaing dalam Reformasi 1998. Dalam peristiwa politik yang problematis tersebut, masing-masing aktor berusaha meminggirkan wacana lain melalui proses legitimasi dan delegitimasi.

Selain tragedi 1965, Reformasi 1998 menjadi peristiwa politik yang paling dramatis dalam perjalanan republik pasca kemerdekaan. Peristiwa ini menandai babak baru dalam kehidupan masyarakat. Kekuasaan rezim 32 tahun berhasil diruntuhkan. Bedanya, tragedi 1965 memisah publik secara diametral. Sementara dalam Reformasi, fragmentasi mewujud dalam banyak kepentingan. Inilah pentingnya melihat praktek komunikasi aktor-aktor yang berkepentingan.

Menurut Basuki, praktek komunikasi ini signifikan untuk dilihat karena dari sana kita bisa mendapatkan gambaran fragmentasi yang terjadi. Bagi mereka yang menghendaki perbaikan pembangunan, komunikasi digunakan untuk mempertahankan keberlangsungan sistem yang sedang berjalan (pro status quo). Sementara yang menghendaki keruntuhan rezim, komunikasi dimanfaatkan untuk memperkuat distorsi yang semakin mendeligitimasi pemerintah (halaman 96).

Bermula dari dua perbedaan pandangan tersebut kemudian gradasi fragmentasi berkembang. Masing-masing terpecah kembali. Sebagian dari mereka yang awalnya berada pada posisi status quo berpindah posisi menjadi anti pemerintah. Lihat saja begitu banyak orang-orang dekat Soeharto yang pada akhirnya meminta sang presiden untuk turun. Paling vulgar terlihat tentu dari pernyataan Harmoko yang saat itu menjadi ketua DPR.

Sosok yang awalnya selalu bersandar pada “petunjuk bapak presiden” ini tiba-tiba justru meminta Soeharto untuk mundur di saat-saat paling kritis. Sebaliknya, mereka yang menghendaki presiden “mundur sekarang juga” tiba-tiba berubah menjadi oportunis ketika sudah dekat dengan kekuasaan. Kelompok orang tipe ini adalah mereka yang membajak reformasi.

Seperti diungkapkan Basuki, aktor-aktor yang terkenal reformis bahkan mendadak menjadi oportunis menjelang pemilihan umum 1999. Ini adalah sikap yang menunjukkan bahwa gradasi fragmentasi menyebar terlalu luas dan datang secara prematur. Pasca Soeharto jatuh, masing-masing disibukkan dengan kegiatan membangun popularitas guna memperoleh dukungan dan afiliasi kepentingan.

Merebaknya oportunisme reformis gadungan ini juga bisa dilihat dari kondisi pasca 1998. Praktis, reformasi hanya berhasil dalam dua hal. Pertama,  memaksa Soeharto lengser dari jabatannya. Kedua, mengubah formasi sosial di lingkaran elite kekuasaan. Sementara itu mengenai agenda perubahan bangsa ke arah yang lebih baik belum terbukti. Bahkan sampai saat ini, 14 tahun pasca reformasi. Bahkan banyak yang mengatakan bahwa reformasi telah mati suri dan reformasi Indonesia tanpa konsep (halaman 3)

Analisis mengenai praktek komunikasi politik yang mencerminkan fragmentasi elite ini sebenarnya menarik. Sayangnya, Basuki hanya menjadikan satu media massa (Kompas) sebagai sumber data utamanya. Sebab tidak dapat dipungkiri bahwa media selalu menggunakan framing atas tulisan berita yang dibuatnya. Kepentingan media selalu bisa dilihat dari mulai penentuan tema sampai pemilihan narasumber.

Pemilihan satu sumber utama menjadi kekurangan yang cukup mengganggu. Apalagi hal ini akan berpengaruh kepada kesimpulan yang diambil. Dan yang pasti, tidak bisa dijadikan generalisasi untuk menjelaskan sebuah fenomena. Meski demikian, buku ini bisa digunakan untuk menambah referensi pengetahuan mengenai konteks situasi di sekitar 1998. Referensi berharga dalam mendudukkan secara objektif peristiwa sejarah yang diselimuti kontroversi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s