Pasca Pep

Duel dua tim anti-spanyol di final Copa del Rey  menandai berakhirnya kompetisi di liga-liga Eropa. Pep Guardiola mengakhiri karier kepelatihan di Catalan ini dengan senyum, Barcelona menang 3-0. Ketika menerima trofi, ia tertawa lepas, seperti telah menyelesaikan tugas berat dengan sukses. Deja vu.

Pep meraih trofi pertamanya bersama Barca dengan mengalahkan Bilbao di final kompetisi yang sama tiga tahun lalu. Dan kini, kemenangan pengunci gelar ke 14 Pep selama di Barca ini juga diraih atas Bilbao. Pertandingan ini jelas akan mengawali era baru Barcelona di bawah kepemimpinan Tito Vilanova yang dalam pertandingan semalam terus disorot oleh kamera televisi.

Menjadi pengganti pelatih tersukses sepanjang sejarah Barca tentu akan membuat tidur-tidur malam menjadi tidak nyenyak. Apalagi musim perdana Tito sebagai pelatih Barca akan diawali dengan status sebagai pemburu Real Madrid yang musim ini menjadi juara Spanyol. Dalam sejarahnya, Barca hampir selalu gagal memberikan fokus ke beberapa kompetisi sekaligus jika berada dalam posisi seperti ini.

Barca sebelum era Frank Rijkaard menunjukkan kecendurungan tersebut. Kecenderungan yang pernah diolok-olok dengan kalimat sindiran oleh harian Marca, “Barcelona berhasil menjadi juara Spanyol jika dalam satu musim bisa mengalahkan Real Madrid di Camp Nou dan Santiago Bernabeu.”

Jika tesis krisis ala Thomas Kuhn itu bisa digunakan untuk membaca transisi pergantian pelatih di Barca, maka musim depan tim ini akan mengalami sedikit kegoncangan. Para pemain akan membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan Tito sebagai pelatih utama. Saya ragu para pemain seperti Puyol, Xavi, Iniesta, bahkan Messi masih memiliki gairah bermain yang sama seperti beberapa tahun belakangan ini.

Sementara Tito akan berupaya keras agar tidak terus berada dalam bayang-bayang kebesaran Pep. Dengan rekor pengalaman “hanya” sebagai asisten pelatih di Barcelona sejak 2007, kemampuan untuk mengatur bintang-bintang Barca yang sudah kenyang gelar juara patut diragukan. Belum lagi jika kita bandingkan dengan pelatih tim-tim lain yang jelas akan memanfaatkan transisi di Barca ini.

Marcelo Bielsa –kalau tidak pindah ke luar Spanyol – akan semakin canggih memainkan tiki-taka dan menggabungkannya dengan umpan-umpan silang seperti musim lalu. Ini adalah keunggulan Bilbao yang tidak dimiliki Barca. Ketika tiki-taka macet, umpan-umpan silang akan terus menerus membombardir gawang lawan. Fernando Llorente di depan menjadi jaminan mutu.

Atletico dengan Diego Simeone adalah ancaman selanjutnya. Tangan dingin mantan pemain Inter Milan ini terbukti mampu membawa Atletico juara di Liga Europa. Dengan mengandalkan kemampuan fisik para pemainnya, Atletico adalah tim yang paling agresif selama paruh kedua Liga Spanyol musim lalu.

Dan tentu saja, musuh terbesar Barca dan Tito musim depan masih hadir dalam sosok Mou. The Special One memiliki modal yang besar setelah mampu membawa Madrid menjuarai La Lagi muim lalu. Gelar juara yang membuat Madrid melepaskan diri dari bayang-bayang Barca.

Nah. Dalam keadaan yang demikian, madridistas mulai bisa kembali menyombongkan diri sebagai penguasa Spanyol. Perpanjangan kontrak Mou sampai 2016 akan meneguhkan dominasi tim kesayangan Jenderal Franco ini. Trofi Liga Spanyol rasa-rasanya baru akan kembali mampir ke Catalan dua-tiga tahun lagi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s