Kaiserslautern : Di Antara Dongeng dan Mimpi Buruk

Selama bola masih bundar, saya kira masih banyak kisah-kisah fairytale yang akan muncul dari lapangan hijau. Ini yang membuat sepakbola menjadi menarik. Tim lemah bisa menang, dan sebuah dreamteam bisa kalah dengan cara yang menyakitkan. Siapa mengira Barcelona dengan tiki-takanya itu bisa berakhir dengan tragis di akhir musim ini? Siapa yang tidak terkesima dengan kisah tim kecil Nantes menjuarai liga Prancis 2001? Kemenangan Yunani di Euro 2004? Bagaimana dengan akhir karier Zidane yang antiklimaks karena provokasi Materazzi? Atau kisah PSIS Semarang yang berhasil menjadi juara liga Indonesia 1999 lantas degradasi di musim berikutnya?  Kalau mau diperpanjang, banyak cerita  semacam ini yang bisa dikisahkan. Sebagian berakhir dengan happy ending, sebagian lain berakhir tragis-dramatis.

Tentang kisah-kisah fairytale  di lapangan hijau ini saya teringat dengan Kaiserlautern. Ingatan yang muncul karena kisah itu menjadi salah satu kisah paling dramatis dalam sejarah liga Jerman. Oh, iya. Tentu saja itu bukan cerita musim ini. Akhir musim ini,  Lautern degradasi karena hanya mampu berada di urutan 17 klasemen liga Jerman. Kisah dari negeri dongeng ini terjadi 14 tahun yang lalu, 1998.

Saat itu, tidak banyak yang mengenal tim kecil dari kota yang terletak di baratdaya Jerman ini. Maka wajar ketika pada musim tersebuttim ini menjadi juara, banyak orang terhenyak. Bayangkan, setahun sebelumnya, tim ini masih bermain di divisi dua liga Jerman. Setelah bersusah payah di kompetisi kelas dua mereka melesat promosi ke Bundesliga, dan menjadi juara!

Jangan lupa, Liga Jerman saat itu tengah berjaya di Eropa. Bundesliga begitu kompetitif dengan banyaknya pemain top yang masih bermain di liga ini. Anda yang mengikuti kompetisi ini tentu familiar dengan nama-nama seperti Ulf Kristen (Leverkusen), Fredi Bobic (VFB Stutgart), Stephane Chapuisat (Dortmund), bahkan Toni Polster bintang Austria yang bermain di FC Koeln.

Ya mirip-mirip Liga Inggris dan Liga Spanyol beberapa tahun belakangan. Bisa dilihat, tahun 1997 Borussia Dortmund menjuarai Liga Champions dan Schalke 04 memenangi Piala UEFA. Jadi bisa dibayangkan tim-tim seperti apa yang dikalahkan Lautern agar bisa meraih trofi Bundesliga. Kesuksesan ini tentu tidak main-main karena mereka juga berhasil mengangkangi kekuatan tradisional Jerman, Bayern Muenchen, yang kala itu masih dilatih Giovanni Trapattoni.

Ingatan saya mengenai tim ini sebenarnya samar-samar. Periode 1997-1998 adalah permulaan saya mengenal sepakbola. Tidak ada siaran langsung liga Jerman di televisi. Saya mengenal Lautern melalui cuplikan pertandingan yang ditayangkan di televisi. Salah satunya Planet Football yang tayang setiap sabtu siang di RCTI. Selebihnya saya mengenal tim ini dari ulasan di tabloid Bola. Ulasan yang memancing penasaran dan berhasil memaksa saya untuk bersimpati.

Keberhasilan Lautern sendiri diraih dengan perjalanan yang ajaib sejak awal. Di partai pembuka, tim ini membungkam tuan rumah Bayern Muenchen 1-0 di Olympiastadion! Otto Rehhagel, sang pelatih, tersenyum puas karena dua tahun sebelumnya dipecat Muenchen. Hanya cukup empat pekan, King Otto berhasil membawa tim yang baru saja promosi ke Bundesliga  menempati puncak klasemen. Kecerdikan pelatih yang semakin bersinar sejak membawa Yunani juara Euro 2004 ini sebenarnya sederhana.

Dengan modal pemain pas-pasan. King Otto berhasil membangkitkan semangat pemain-pemain tua dan medioker untuk bekerja sesuai keinginannya. Di lini depan, Olaf Marschall, berhasil menjadi runner up top skorer di akhir liga dengan 21 gol. Kalah satu gol dari Ulf Kristen. Di lini tengah, pembelian Ciriazo Sforza adalah salah satu transfer penting yang dilakukan King Otto. Sforza yang sudah mandeg kariernya di Inter Milan bangkit kembali dan menjadi tukang sulap di lapangan hijau.

Playmaker bernomor punggung 10 ini memiliki andil besar dalam kemenangan-kemenangan yang didapatkan Lautern. Tendangan bebasnya sering menjadi faktor penentu kemenangan. Ia juga menjadi pemain pertama yang mematahkan serangan lawan. Pola permainannya mirip dengan Andrea Pirlo. Perbedaannya, Sforza lebih agresif dalam melanggar lawan. Jangan lupakan juga bek tangguh Jerman yang pernah mencetak gol kemenangan di final Piala Dunia 1990, Andreas Brehme. Brehme saat itu memasuki masa akhir kariernya.

Meski tidak banyak bermain, King Otto menjadikan pemain ini untuk “berbagi inspirasi” kepada pemain lainnya. Siapa yang tidak bangga jika bermain dengan pahlawan Jerman yang pernah membawa negeri itu menjadi juara dunia?  Oh iya, bgi anda penggemar Michael Ballack, Lautern berandil besar dalam mematangkan visi permainan mantan kapten Jerman ini. Ballack memang tidak menjadi pemain inti tapi ia selalu menjadi supersub.

Dengan kombinasi tua-muda seperti itulah tim racikan King Otto berhasil mengejutkan dunia. Gunter Netzer, mantan pemain terbaik Jerman era 1970an, menyebut keberhasilan ini sebagai the most impressive performance in the history of German soccer. Sampai saat ini, tidak ada tim yang mampu promosi ke Bundesliga dan langsung juara di tahun pertamanya. Di akhir musim, Lautern hanya kalah empat kali. Fritz Walter menjadi kandang yang angker bagi lawan-lawannya.

Sayangnya, sejarah selalu merupakan kisah tentang roda. Dan untuk roda Lautern kali ini berputar dengan cepat. Kejutan luarbiasa tersebut hanya semacam shock therapy sementara bagi kekuatan-kekuatan tradisional. Mereka hanya tumbuh menjadi tim kuda hitam dan beberapa kali melahirkan pemain berbakat seperti Halil Altintop, striker asal Turki. Tidak ada kejayaan ala Manchester United yang mampu mendominasi liga Inggris. Atau Lyon yang tujuh tahun berturut-turut menjuarai liga Prancis. Manajemen tim yang buruk membuat tim prestasi tim ini menurun drastis. Tahun 2002 bahkan tim ini terancam bangkrut.

Musim 2005-2006 tim ini terdegradasi ke divisi dua. Semusim kemudian bahkan nyaris aja terdegradasi ke divisi tiga setelah berada satu peringkat persis di atas zona degradasi. Setelah berkutat di kompetisi kedua Jerman ini, Lautern akhirnya berhasil promosi ke Bundesliga musim 2009-2010. Namun, tidak ada kejutan untuk kali kedua. Lautern hanya mampu bertahan dua tahun di Bundesliga. Musim ini mereka degradasi lagi setelah menempati posisi ke 17 dari 18 tim.Lautern adalah pelajaran bahwa dalam sepakbola, fairytale tidak selalu berakhir dengan happily ever after, melainkan juga nigtmare. 

Iklan

Satu pemikiran pada “Kaiserslautern : Di Antara Dongeng dan Mimpi Buruk

  1. Trima ksih …setelah membaca ulasan saudara ,,ingatan saya jadi melambung jauh ke tahun itu…
    apalagi saudara juga membahas RCTI yng menayangkan siaran sepakbola ..juga planet Fotball yang dipandu Dik Doank….hahahah…jadi sedih kalo melihat RCTI yang dulu menjadi proklamir tayangan sepakbola kini malah menjadi TV Sinetron…..dan sangat disayangkan Planet Fotball juga sudah tidak ada…..Kaiserslautern layaknya dongeng hahahah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s