Kota yang Membentuk Dunia


  • Judul Buku    : 5 Kota Paling Berpengaruh di Dunia
  • Penulis           : Douglas Wilson
  • Penerbit          : Gramedia Pustaka Utama
  • Cetakan          : 2012
  • Tebal               : xxii + 211 halaman

Kota adalah representasi ambisi warga dunia. Di dalamnya terdapat imajinasi kesejahteraan dan kemakmuran. Kota menunjukkan hasrat manusia modern untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Kerlip lampunya di malam hari seolah ingin menegaskan mimpi-mimpi modernitas.

Namun, di dalamnya juga terdapat ambivalensi. Sebagai ruang perjumpaan sejarah, identitas, termasuk juga utopia, kota sesak dengan tragedi. Sejarah kota merekam bagaimana kepahitan tragedi tersebut melanda umat manusia. Ia meninggalkan jejak luka yang traumatik dan sedih.

Buku 5 Kota Paling Berpengaruh di Dunia ini menarasikan sejarah 5 kota besar di dunia yang memiliki peran penting dalam membentuk kehidupan masyarakat modern namun penuh dengan kegetiran. Kelima kota tersebut adalah Yerusalem, Athena, Roma, London, dan New York.

Douglas Wilson, penulis buku ini, mengatakan bahwa kelima kota ini adalah pewaris dari ide-ide kebebasan sebagai konsekuensi perkembangan ilmu pengetahuan umat manusia. Dengan nalar kemajuan yang kuat, pola hidup primitif pelan-pelan berubah menjadi modern. Perubahan tidak hanya berada pada struktur ruang kota (place), tetapi juga seperangkat kegiatan (work), dan dinamika penduduk (folk).

London melambangkan kebebasan dunia sastra dengan kelahiran tokoh-tokoh besar di bidang kesusastraan. Athena adalah ruang persemaian ide-ide filsafat dan demokrasi yang membentuk dunia. Yerusalem melambangkan spiritualisme yang begitu kuat dalam posisinya sebagai kota suci bagi tiga agama besar. Roma menjadi kota yang menaruh fondasi hukum dan keadilan. Sementara New York menjelma kota perdagangan dan menjadi pusat industrialisasi.

Ciri khas yang melekat dan ikonik pada kelima kota itu tidak hadir dengan sendirinya. Ada jalinan peristiwa getir di masa lalu yang berkelindan dan kemudian mengonstruksi imaji atas kota tersebut. Kegetiran bermula dari gesekan-gesekan kekuatan yang saling bersaing. Kekuatan yang meneguhkan hasrat mendasar manusia, kehendak untuk berkuasa (will to power).

Pada titik ini kota menjadi ruang kontestasi identitas. Siapapun yang memenangi persaingan akan menjadikan kota sebagai simbol identitas selanjutnya. Simbol ini muncul dalam  penataan ruang, bangunan-bangunan, pusat kegiatan, dan sebagainya yang menunjukkan struktur kekuasaan saat itu.

Sebagai contoh adalah Yerusalem. Posisinya sebagai kota suci ternyata justru menjadikannya sebagai arena konflik yang tak habis-habis. Dalam ribuan tahun periode hidupnya, kota ini berada dalam persimpangan sejarah tersibuk yang diakibatkan oleh perang. Peperangan terus melanda dari mulai era Raja Daud, perang Salib yang melibatkan Islam- Kristen, dan pada periode kontemporer adalah benturan antara Israel dan Palestina.

Setiap pihak ingin mendominasi kota ini sendirian. Barangkali, perseteruan  terus menerus inilah yang menjadi pesona sejarah Yerusalem (halaman 3). Tak mengherankan jika sampai sekarang banyak wisatawan –baik yang ingin melakukan ziarah agama atau sekadar ingin berkunjung – ramai-ramai datang ke kota ini.

Roma juga memiliki cerita yang senada. Kisah epik dua bersaudara Remus dan Romulus yang mendirikan Roma menunjukkan bahwa kota ini dibangun di atas genangan darah. Romulus membunuh saudaranya dalam perebutan untuk menguasai kota.

Kisah ini seolah ingin menegaskan bahwa pendirian kekaisaran besar di dunia selalu bermula dari pembunuhan (halaman 86). Sejarah menunjukkan bagaimana kota ini menjadi pusat salah satu imperium terbesar di muka bumi, Romawi. Ilham pengetahuan mengenai militer, keadilan, dan hukum bermula dari sini.

Episode-episode getir semacam itu dipaparkan penulis dalam buku ini. Penulis ingin menunjukkan bahwa untuk melihat tatanan sosial ekonomi politik yang menyusun dunia hari ini, kota adalah referensi yang tidak boleh diabaikan. Apalagi, usia kota hampir sama tuanya dengan peradaban manusia.

Karena itu, membaca sejarah kota adalah melihat potret masa lalu peradaban manusia. Ia menampilkan kisah-kisah getir dibalik kesuksesan sebuah kota yang memberikan banyak pelajaran. Pesan ini seharusnya membuat kita bisa bersikap lebih arif untuk menghadapi masa depan. Termasuk menghidupi kota tempat tinggal kita yang semakin penuh sesak dengan beragam persoalan kehidupan. Ragam persoalan yang nyaris membunuh keberadaannya.

(dimuat di Koran Jakarta 23 April 2012)

Iklan

2 pemikiran pada “Kota yang Membentuk Dunia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s