Ultras dan Sepotong Perlawanan

Pertandingan Genoa melawan Siena di Luigi Ferraris baru memasuki menit ke 52, skor sementara 0-4 untuk Siena. Tifosi garis keras – Ultras – tuan rumah menyalakan flare dan kembang api dan melemparnya ke tengah lapangan. Mereka kemudian masuk ke lapangan dan menghentikan pertandingan. Polisi kewalahan. Sebagian Ultras menutup lorong agar tidak ada pemain Genoa tidak ada yang masuk ke kamar ganti. Sementara yang lain, memaksa para pemain tuan rumah untuk melepas kaos mereka.

Marco Rossi, kapten tim, menghampiri pimpinan Ultras dan melakukan negosisasi agar pertandingan bisa dilanjutkan. Negosiasi gagal. Rossi mulai mengumpulkan kaos semua pemain. Para pemain harus melepas kaos karena dianggap tidak pantas mengenakannya karena tidak becus bermain dan membuat Genoa terpuruk di posisi 17 klasemen sementara Serie A.

Giandomenico Mesto menangis. Bek tuan rumah ini tidak rela melepas kaosnya. Sementara Sebastian Frey, kiper asal Prancis, sempat berteriak emosional kepada Ultras. Barangkali akumulasi rasa frustasi. Sampai di pekan ke 33 ini gawangnya sudah kebobolan 62 gol. Rekor paling buruk jika dibandingkan dengan tim-tim Serie A yang lain.

Dalam situasi yang merupakan perjumpaan antara cinta, sakit hati, frustasi, dan marah tersebut, Giussepe Sculli menunjukkan aksi heroik. Striker Genoa ini menolak melepas kaosnya.

Ia ngotot menemui Ultras, naik ke pagar, bernegosiasi agar pertandingan bisa dilanjutkan. Ia memanjat ke pagar, terlihat berdiskusi dengan pimpinan Ultras. Beberapa kali terlihat sikap emosionalnya. Ia menunjuk-nunjuk logo Genoa di dada kaos. Sculli bahkan menarik jaket yang dipakai salah seorang Ultras. Tepat pada momen ini, Rossi sudah mengumpulkan kaos semua pemain – kecuali kaos Sculli – dan hampir menyerahkannya kepada Ultras.

Dramatisnya, aksi Sculli ini berhasil. Ultras luluh. Mata Sculli terlihat berkaca-kaca. Rossi mengembalikan lagi kaos para pemain. Dan pertandingan kembali dilanjutkan. Skor akhir 1-4. Saya hampir yakin negosiasi ini berhasil karena Ultras segan kepada Sculli. Sekadar info, Sculli adalah cucu Giuseppe Morabito, bos besar mafia bernama ‘Ndrangheta di kawasan Calabria, dekat Genoa. Siapa berani berurusan dengan mafia Italia?!

Saya merinding menyaksikan video pertandingan tersebut. Barangkali ini yang disebut oleh Richard Giulianotti sebagai sepotong perlawanan (piece de resistance) Ultras. Kecintaan, harga diri, impian, dan cita-cita terhadap klub ternyata tidak bertemu dengan kenyataan. Klub gagal memenuhi ambisi itu. Para pemain dianggap pengkhianat karena tidak bermain dengan kebanggaan.

Sepotong perlawanan seperti ini adalah manifestasi kecintaan suporter terhadap klubnya. Dalam tradisi di Italia, Ultras melambangkan praktik sosial yang kompleks. Ada kecintaan dan komitmen yang mendalam terhadap klub, ideologi politik, bahkan paramiliterisasi masyarakat Italia pasca fasisme Mussolini. Wajar saja ketika Ultras menjadi begitu fanatik-radikal. Entah apa yang ada di benak para Ultras ketika menghentikan pertandingan itu. yang pasti mereka punya filosofi sendiri dalam mencintai klubnya.

Pasca pertandingan ini, presiden Genoa mengatakan bahwa anggota Ultras yang terlibat aksi ini akan dihukum seumur hidup tidak boleh menyaksikan pertandingan Genoa. Wow! Bisakah anda bayangkan mencintai seseorang tapi tidak boleh menemuinya seumur hidup? Barangkali mereka mengamini pernyataan bahwa cinta itu buta. Saya juga mengamini pernyataan tersebut, tidak dalam konteks hubungan personal, tapi dalam sepakbola.

Di Indonesia pun begitu, meski memang tidak seradikal Ultras Eropa dan kadang terlihat lebih menjengkelkan karena konflik yang “tidak dewasa”. Dalam kasus terakhir misalnya ketika saya menyaksikan pertandingan Divisi Utama LPI di Maguwoharjo, (21/4). PSS Sleman vs Persis Solo. Pertandingan berakhir 2-0 untuk tuan rumah. Stadion riuh dengan “duel” antara Pasoepati, Slemania, dan Brigata Curva Sud (BCS). Awalnya duel kreativitas dengan koreo dan aksi atraktif lainnya. Dan kemudian duel dalam arti sesungguhnya. Aksi saling lempar batu, keramik, kanopi,  flare, dan botol minuman terjadi di antara tribun timur-utara, dan timur-selatan.

Polisi diam saja. Dengan jumlanya yang demikian sedikit, polisi seperti tidak mengantisipasi pecahnya kerusuhan dalam skala masif. Javier Rocha, pemain Persis, yang mencoba menghentikan kericuhan tersebut datang ke tribun timur. Dia begitu emosional dan berteriak marah. Rocha bahkan dilempar batu besar pecahan bangku tribun penonton oleh oknum suporter berbaju merah. Saya kira yang melempar bukan anggota Pasoepati. Mungkin provokator. Untung lemparan tersebut tidak mengenai Rocha.

Kericuhan ini berlanjut sampai pasca pertandingan. Di luar stadion ada satu motor yang dibakar, perang batu tak terhindari. Entah siapa yang memulai, tapi dari komentar di Facebook dan Twitter, tidak ada yang mau disalahkan, bahkan menyalahkan.  Ya, aksi semacam ini yang melibatkan suporter “Ultras” sebuah klub sepertinya akan terus ada dalam pertandingan sepakbola di Indonesia. Konflik kecil, awalnya sekadar salah paham, pelan-pelan berubah menjadi kebencian dan dendam antar suporter. Sepakbola memang soal identitas dan harga diri. Kira-kira begitu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s