Ketika Kampus Memilih Pemimpinnya

Agenda pemilihan rektor ternyata tidak jauh berbeda dengan pemilihan kepala daerah. Panas, menegangkan, dan penuh dengan intrik politik. Kondisi ini dapat dilihat di kampus tertua di Indonesia, UGM. Sebulan terakhir, UGM memang sedang menghangat seiring proses pemilihan rektor periode 2012-2017.

Panasnya proses rutinitas lima tahunan ini bisa kita simak dari dinamika yang terjadi. Belum juga proses pemilihan dimulai, beberapa dosen sudah menggugat Majelis Wali Amanat (MWA) mengenai aturan pembatasan usia bakal calon rektor. MWA membatasi usia calon rektor maksimal 60 tahun. Gugatan yang diajukan ke PTUN itu dilatarbelakangi pendapat bahwa MWA seharusnya membuka kesempatan kepada siapa saja untuk menjadi rektor tanpa membatasi usia.

Tidak hanya dosen, gugatan ini juga dilakukan oleh mahasiswa. Sekelompok mahasiswa yang menamakan dirinya Gerakan Aliansi Peduli UGM (Garpu) mengadakan aksi di Gedung Pusat (Rabu, 14/3). “Kami menuntut ketua MWA (Sofyan Effendi) mundur dari jabatannya”, ungkap Pandhuri Jayadi, koordinator Garpu. Menurutnya, Sofyan tidak serius dalam menjalankan tugas. Hal ini terbukti dengan tahap pemilihan rektor yang ditunda-tunda. Lebih lanjut, ia menuduh bahwa MWA telah melakukan jual-beli tatacara pemilihan rektor.

Dalam aksi yang sempat diwarnai pembakaran ban dan sepeda tersebut, mahasiswa mendesak untuk bertemu dengan perwakilan MWA. Mereka bahkan terlibat baku hantam dengan satpam kampus karena memaksa masuk ke ruang MWA meski sudah dijelaskan bahwa ketua MWA sedang tidak di tempat. Demonstran tetap keukeuh dengan tuntutannya dan akan melakukan aksi lanjutan sampai tuntutan dipenuhi. Aksi ini sempat menarik perhatian para karyawan yang bekerja di Gedung Pusat.

Proses Pemilihan

Sampai tulisan ini ditulis, proses pemilihan sudah berlangsung hingga penjaringan 5 besar bakal calon rektor. Setelah melalui proses seleksi administrasi dan penjaringan dari 7 menjadi 5 calon. Kelima calon terpilih adalah Danang Parikesit, Djagal Wiseso Marseno, Suryo Hapsoro, Marsudi Triatmodjo, dan Pratikno. Lima calon yang terpilih ini kemudian akan disaring lagi menjadi tiga besar.

Sedangkan pada 22 Maret, tiga besar tersebut akan menyampaikan visi dan misinya di hadapan Majelis Guru Besar (MGB) dan Senat Akademik (SA). Setelah rektor terpilih, proses pemilihan belum usai. MWA akan menyerahkan ketiga nama tersebut kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang memiliki hak suara sebesar 35 %. Di tangan Mendikbud lah keputusan akhir diletakkan. Ini berarti, nama yang dipilih oleh MGB dan SA tidak akan berarti apa-apa jika tidak disetujui oleh Mendikbud.

Sementara itu, berbeda dengan proses pemilihan yang panas, para calon rektor sendiri terlihat akrab satu sama lain. Hal ini terlihat dalam acara debat calon rektor UGM 2012-2017 yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bulaksumur (Selasa, 13/3). Alih-alih berkomentar terkait dinamika pemilihan rektor, para calon justru banyak membahas rencana ke depan yang akan dilakukan ketika mereka terpilih sebagai rektor.

Danang Parikesit misalnya, akan lebih banyak membuka ruang diskusi dengan mahasiswa dalam pembuatan kebijakan di kampus. “Selama dua periode kepemimpinan terakhir, tidak ada social dialogue yang luas antara rektorat dan mahasiswa,” tegasnya. Kondisi ini membuat sering kali terjadi kesalahpahaman terkait kebijakan kampus.

Sedangkan Pratikno, mengatakan bahwa pendidikan saat ini sudah menyerupai pasar dengan berdasarkan pada logika untung-rugi. “Saya menolak logika market driven dalam dunia pendidikan,” ujarnya. Kondisi ini diskriminatif karena membuat hanya orang kaya yang bisa mengakses pendidikan tinggi.

Calon yang sedang menjabat sebagai Dekan FISIPOL UGM ini juga mengatakan bahwa jika ia terpilih, UGM akan lebih memberikan kontribusi kepada kehidupan berbangsa dan bernegara. Kontribusi ini meliputi berbagai sektor keilmuan agar Indonesia bisa merdeka dari segala permasalahan yang menghimpit. “Bangsa ini tidak boleh dihina lagi oleh masyarakat internasional,” tegasnya.

Debat ini sendiri menunjukkan pelajaran berharga dari agenda pemilihan rektor. Proses pemilihan boleh berlangsung dengan panas tetapi etika akademik tetap harus dijunjung tinggi. Apalagi, pemilihan rektor berada di wilayah akademik, bukan politik. Kampus adalah rumahnya para “begawan” yang memiliki kedalaman ilmu pengetahuan. Sudah sewajarnya para “begawan” ini memberikan contoh yang bijaksana kepada masyarakat dan politisi.

(dimuat di Kompas 21 Maret 2012)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s