Berharap dari Pemilihan Rektor UGM

(20 Maret 2012)

Sungguh menarik mengamati apa yang terjadi di UGM sebulan terakhir ini. Proses pemilihan rektor periode 2012-2017 tak ubahnya sebuah drama politik. Berbagai manuver persis seperti politisi dilakukan. Syahwat politik terlihat dengan gamblang dengan polarisasi identitas yang terjadi. Simak saja bagaimana panasnya situasi di kampus negeri trtua di Indonesia ini.

Aksi-aksi demonstrasi sampai bakar ban dilakukan mahasiswa. Sekelompok dosen dan alumni mengajukan gugatan ke PTUN terkait peraturan pembatasan umur calon rektor. 12 dekan di fakultas bahkan sampai perlu memberikan pernyataan bersama agar proses pemilihan ini berlangsung dalam suasana yang kondusif.

Mengamati fakta yang demikian, mau tak mau saya segera menyetujui pernyataan Prof Sudjito. Guru Besar Fakultas Hukum UGM ini mengatakan bahwa di pemilihan rektor UGM tahun ini terdapat orang-orang yang beliau kategorikan sebagai “komedian, oportunis, haus jabatan, dan amanah”.

Tiga kategori pertama telah merusak iklim akademik di kampus karena menggunakan segala cara untuk mendapatkan jabatan. Tujuannya tentu untuk mendapatkan kepentingan-kepentingan golongannya sendiri. Padahal, jabatan sebagai rektor adalah jabatan akademik, bukan politik. Sebagai pemimpin tertinggi di lingkungan masyarakat ilmiah kampus, ia memiliki beban moral dan intelektual yang luar biasa.

Karena itu proses pemilihan pemimpin para “begawan” seharusnya diiringi dengan kedewasaan untuk bertindak. Cermati pernyataan Ahmad Rizky dalam Politik Para Begawan (2012). Ia mengatakan bahwa universitas adalah tempat etika etika dijunjung tinggi dalam konteks akademik. Di dalamnya terdapat para begawan yang memiliki kedalaman ilmu pengetahuan. Logikanya, perilaku politik para begawan pun mestinya senantiasa diliputi kearifan dan dilakukan dengan elegan.

Dengan proses yang arif, harapan terpilihnya rektor yang amanah pun tidak mustahil. Bukankah ini karakter pemimpin yang dibutuhkan tidak hanya UGM tetapi juga masyarakat? Selain amanah, rektor terpilih nanti mestilah orang yang memiliki kepekaan akademik (sense of academics) dan kepekaan politik (sense of politics) yang tinggi.

Pertama, mengenai kepekaan akademik. Prof Heru Nugroho pernah mengatakan bahwa UGM sedang mengalami banalisisasi intelektual. Dosen-dosen jarang menulis buku, dan penelitian yang dipublikasikan pun jauh lebih minim lagi. Simak saja fakta bahwa jumlah buku yang diterbitkan oleh dosen UGM pada tahun 2011 hanya berjumlah 100 buku. Menurun dari tahun 2010 yang mencapai angka 162 buku. Untuk ukuran kampus seperti UGM, kondisi ini tentu memprihatinkan.

Melihat kondisi tersebut, rektor terpilih nanti memiliki tugas untuk meningkatkan produktivitas ilmu pengetahuan ilmiah di kampus. Tidak semata-mata pengetahuan ilmiah yang hanya memenuhi hasrat intelektual, tetapi juga ilmu pengetahuan yang berpihak kepada masyarakat. Peningkatan produktivitas ini akan terlihat dari parameter standar seperti publikasi laporan penelitian, jurnal, maupun dalam bentuk buku.

Untuk inilah  dibutuhkan kepekaan yang kedua, kepekaan politik. Kita semua tahu bahwa para intelektual tidaklah hidup di atas angin (a free floating intellegentia). Tidak terkecuali dengan intelektual UGM. Mereka tidak lepas dari konteks masyarakat di mana mereka berada. Tidak hanya masyarakat Yogyakarta, tetapi seluruh rakyat Indonesia. Kesadaran inilah yang bisa dilihat dalam dalam Tri Dharma Pendidikan Tinggi yang terdiri dari pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat.

Kepekaan politik (bukan dalam arti politik praktis) dibutuhkan untuk menerjemahkan bagaimana berbagai kebijakan yang dilakukan kampus memiliki manfaat bagi masyarakat. Kader-kader pemimpin bangsa digembleng dalam kawah candradimuka sehingga nanti mereka siap untuk mengabdi kepada rakyat. Ilmu pengetahuan yang diproduksi haruslah bersifat transformatif. Dan penelitian-penelitian yang dilakukan mampu menjadi solusi alternatif atas berbagai problem bangsa yang semakin menghimpit akhir-akhir ini.

Dengan demikian, kampus tidak hanya menjadi menara gading yang angkuh dan tercerabut dari lingkungan masyarakatnya. UGM pun semakin menegaskan jatidirinya sebagai universitas kerakyatan yang mengabdi pada kepentingan masyarakat Indonesia. Bukan kepentingan golongan oportunis pragmatis. Dari pemilihan rektor UGM kali ini, kita semua berharap. Semoga.

Iklan

Satu pemikiran pada “Berharap dari Pemilihan Rektor UGM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s