Sastra Menarasikan Demonstrasi

Demonstrasi adalah keniscayaan demokrasi. Dalam sejarah republik, demonstrasi menjadi tradisi kolektif yang mengambil peran penting dalam setiap perubahan sosial politik. Ia menggugat dan melawan. Ketika katup aspirasi tertutup rapat, demonstrasi menjebol. Karenanya, sebuah rezim otoriter dan totaliter bisa mencengkeram republik. Sebaliknya, ia juga bisa meruntuhkan rezim yang sama secara dramatis.

Sebuah demonstrasi bermakna karena pemberontakannya. Ia menjelma ruang berkomunikasi terhadap kekuasaan yang menindas. Dulu di tanah Jawa, misalnya, ruang komunikasi ini hadir dalam laku pepe yang dilakukan rakyat di tengah alun-alun. Di bawah terik matahari, wong cilik mengadukan berbagai kompleksitas permasalahannya. Laku pepe menjadi cara untuk mendapatkan keadilan.

Ikhtiar mencari keadilan ini meninggalkan serpihan kegetiran, kebencian dan trauma.Narasi teks-teks tentang demonstrasi juga memotret betapa selalu ada kesedihan di balik hiruk pikuk demonstrasi. Agus Sarjono, sebagai contoh, mengisahkan tentang seorang prajurit bawahan yang bertugas mengamankan demonstrasi mahasiswa. Dalam cerpennya yang berjudul Prajurit Jatiman, pergolakan batin seorang aparat keamanan ditampilkan dengan satir.

Jatiman, sang tokoh utama, sedang penuh dengan masalah di suatu hari ketika ia menjalani tugas menjaga aksi demonstrasi. Kondisi finansial yang kekurangan, istri banyak menuntut, komandan marah-marah, sampai beban kerja yang berat membuatnya tertekan. Belum lagi, Jatiman juga tidak bisa sarapan sebelum berangkat bertugas karena memang tak ada uang untuk memasak. Ia bertugas dalam kondisi kelaparan.

Kegalauan itu memuncak ketika demonstrasi berlangsung. Provokasi mahasiswa yang berkali-kali melemparkan batu ke arah aparat membuatnya kehilangan kesabaran. Ia kalap. Jatiman maju dan memukuli demonstran yang ada di hadapannya. Simaklah teriakannya ketika memukuli demonstran;”Kalian demonstrasi! Tapi kalian bukan orang susah! Sebentar lagi kalian jadi sarjana. Jadi ahli hukum pembela konglomerat busuk dan koruptor! Jadi ahli ekonomi yang menguntungkan orang kaya dan bikin miskin rakyat jelata!

Sialnya, aksinya itu tertangkap kamera televisi. Karena terbukti melakukan penganiayaan, Jatiman akhirnya dipecat. Ia dianggap mencemarkan nama baik militer dan mendapat hukuman penjara. Ironi memendar dari posisi dilematis seorang aparat keamanan yang bertugas menjaga demonstrasi. Di satu sisi ia dituntut untuk tidak bersikap represif. Sementara di sisi lain, ia juga manusia yang menanggung silang sengkarut beban kehidupan.

Demonstrasi adalah perjumpaan antara kebebalan dengan hati nurani. Aparat dengan demonstran. Negara hadir dalam bentuk aparat keamanan dengan klaim memegang kekuasaan. Demonstran datang dengan klaim kedaulatan yang melekat dalam dirinya. Ada nada getir yang tak tertanggungkan di antara keduanya. Kegetiran yang lantas menyuburkan kebencian.

Romo Mangun dalam  Saran “Groot Majoor” Prakoso menangkap momen ini. Pada sebuah demonstrasi menuntut rezim untuk lengser, aparat keamanan membubarkan demonstran karena dianggap sudah “mengganggu stabilitas”. Aparat menembaki demonstran dengan gas air mata. Karena kesakitan, salah seorang demonstran berteriak lantang “Gas Air Mata! Gas Asu! Aparat brengsek!” Setelah itu mahasiswa-mahasiswa dikejar, dipukul, digebuki.

Dalam cerpen ini, militer menjadi apa yang disebut Louis Althusser sebagai Repressive State Apparatus. Militer adalah alat negara untuk menegakkan kekuasaan dengan menggunakan kekerasan. Ia menjelma juggernaut (semacam buldozer) untuk menertibkan masyarakat yang enggan mendukung agenda-agenda pembangunan. Siapa yang memiliki pandangan berbeda dan vokal, ditumpas.

Intimidasi, penganiayaan, dan penculikan yang dilakukan oleh militer telah menggoreskan luka traumatik.  Kemudian yang muncul adalah kebencian  mengurat akar, military syndrome. Luka mengendap dan nyaris berkarat dalam kesadaran mahasiswa dan masyarakat.

Endapan luka ini muncul karena teror dan stigmatisasi yang tak berkesudahan. Indra Tranggono dalam Menari di Atas Mayat, mengisahkannya. Indra menggambarkan arogansi rezim politik yang menggunakan aparat keamanan dan teror untuk melanggengkan kekuasaannya. Melalui sudut pandang pembunuh bayaran, para demonstran yang kritis dan vokal itu dibungkam dan dihabisi nyawanya.

Simak saja penggalan kalimat yang diungkapkan sang pembunuh bayaran; “umumnya yang kubunuh adalah mereka yang dipersalahkan oleh bosku karena memiliki sifat kritis.” Demonstrasi adalah gurita subversif. Ia mesti dipotong dan dihancurkan agar tidak menggerogoti kekuasaan.

Namun, demonstrasi juga kisah tentang heroisme yang menyala-nyala. AA Navis dalam cerpennya Kaus Kaki mengisahkan heroisme tak terduga dari sebuah demonstrasi. Berbagai demonstrasi mahasiswa tak juga mampu meruntuhkan rezim pemerintah. Mahasiswa semakin apatis karena hanya mau demonstrasi jika mendapat bayaran. Rakyat bosan, tak tahu harus bersandar kepada siapa. Tak ada yang diharapkan.

Karatang, sang tokoh utama, jengah melihat kondisi tersebut. Ia harus menggoncangkan situasi politik di negara dunia ketiga, dengan kaos kakinya. Kaos kaki adalah simbol budaya asing dan rezim harus diruntuhkan dengan simbol ini. Rezim terlalu menghamba kepada asing dan menyengsarakan rakyatnya sendiri. Akhirnya ia memutuskan untuk membawa kaos kakinya yang berbau busuk itu ke dalam demonstrasi.

Ketua Parlemen sedang berorasi menyala-nyala.Rasa muaknya terhadap pemerintahan dan demonstrasi yang gagal memuncak. Ia maju dan menyumpal mulut Ketua Parlemen dengan kaos kaki busuknya. Mengagetkan. Demonstrasi bubar, dan setelah itu rezim runtuh secara dramatis. Kaos kaki busuk menjadi provokator tengik ketika rezim sedang menikmati dan membagi manisnya kue kekuasaan.

Tak ada yang lengkap tanpa cinta. Demonstrasi menjadi kisah perjumpaan kasih sayang yang datang di bawah ancaman moncong senapan aparat keamanan. Melalui cerpen Renjana, Dwicipta mengisahkan pertemuan itu. Cinta datang ketika situasi chaos tak terhindarkan dan disangka-sangka.

Demonstrasi yang mulanya menjadi medan perlawanan lantas menjelma medan perasaan yang romantis dan mengharu biru. Kekuasaan boleh melahirkan (demonstrasi) anti kekuasaan. Kekerasan demi kekerasan terjadi, darah dan nyawa seolah tak berharga,  namun cinta tetap menyeruak dan menembus dinding tebal arogansi manusia. Cinta adalah bahasa universal yang melampaui batas-batas sekadar persoalan ekonomi politik.

Teks-teks sastra menarasikan demonstrasi dengan segala tragedinya. Teks-teks ini hadir sebagai politik ingatan melawan tirani lupa. Bahwa, di setiap demonstrasi ada kesedihan, kebencian, trauma, frustasi, dan cinta yang tertinggal. Berbagai problem emosional ini adalah eksperimen politis yang mesti ditanggung untuk mendapatkan keadilan dan kesetaraan. Selama imaji, hasrat, dan kehendak akan kebebasan masih ada, demonstrasi akan selalu  hadir dan menjadi kabar buruk buat penguasa!


Iklan

2 pemikiran pada “Sastra Menarasikan Demonstrasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s