Jatidiri Tidak Banyak Berubah

Lapangan bopeng-bopeng. Rumput tidak rata. Tribun penonton di berbagai sisi tetap kumuh. Suporter melakukan pelemparan botol ke tengah lapangan. Petasan yang dinyalakan di tengah pertandingan. Dan wasit masih memberikan banyak keuntungan buat tuan rumah.

Kondisi ini saya temui ketika menyaksikan PSIS vs PSS Sleman di lanjutan divisi utama Liga Indonesia, kemarin (7/4). Duduk di tribun barat sebelah selatan, sejak awal saya sudah antusias karena ini adalah kehadiran pertama setelah 5 tahun lebih tidak ke Jatidiri. Sejak kuliah di Jogja, saya memang tidak pernah lagi menyaksikan penampilan PSIS di kandang.

Bahkan hampir saja saya melupakan Laskar Mahesa Jenar. Selain karena persoalan jarak yang membuat saya semakin jarang menyaksikan pertandingan di Semarang, kualitas tim ini memang menurun jauh. Setelah menjadi juara 3 di Liga Indonesia tahun 2005 dan juara 2 di tahun  2006, PSIS terjun bebas.

Dari awalnya seorang panser biru yang fanatik dan selalu hadir pada pertandingan di Jatidiri, saya mendadak menjadi warga Semarang yang apatis. Kadang saya merasa aneh dengan situasi semacam ini. PSIS adalah tim yang menemani saya tumbuh besar. Juara Liga Indonesia 1999 yang didapatkan tim ini datang tepat ketika saya mulai mengenal sepakbola. Dan itu menimbulkan kesan yang mendalam.

Sayangnya antusiasme sore itu tidak bertahan lama. Sekitar pukul 14.30 saya datang ke stadion dan ternyata masih sepi! Saya kira, apa yang saya rasakan juga dirasakan banyak warga Semarang lain. PSIS tidak memberi lagi sebuah kebanggaan. Padahal, sebelum 2006, siapapun yang berniat menyaksikan PSIS dan datang lebih dari jam 14.00, hampir pasti tidak akan mendapatkan tempat duduk. Bahkan ketika PSIS bermain di divisi satu pasca degradasi setelah juara Liga Indonesia 1999, tribun tetap penuh.

Saya berusaha mengabaikan kekecewaan ini dengan fokus ke lapangan rumput. Tetapi gagal. Permainan membosankan. Duet Donny Siregar dan Han Ji Ho di lini tengah gagal menguasai lapangan tengah. Khusnul Yakin dan Vitor Borges di depan pun gagal melakukan manuver-manuver tajam untuk menembus lini belakang PSS. Vitor, terutama, berkali-kali gagal lolos dari hadangan Bruno, palang pintu PSS.

Kalau sudah begini, kadang saya rindu dengan permainan lini tengah Mahesa Jenar waktu Ali Sunan, Arilson de Oliveira, Julio Lopez, atau Gustavo Ortiz masih di tim ini. Di kaki para playmaker ini, PSIS bermain lebih bertenaga, agresif, dan indah. Mereka bisa berlama-lama membawa bola, tetapi juga bisa cepat mengumpan ketika tempo permainan sedang meninggi.

Karena permainan yang menjenuhkan, saya lebih tertarik mengamati suporter PSS Sleman yang bertandang ke Jatidiri. Saya kira ini juga dilakukan oleh Panser Biru di tribun selatan dan Snex di tribun utara yang lebih banyak diam. Apalagi saya berada satu tribun dengan mereka di tribun Barat. Berpakaian hitam-hitam, saya kira mereka Slemania. Tapi ternyata bukan. Slemania duduk di tribun utara ujung timur. Jumlahnya pun hanya puluhan. Saya baru ingat ternyata mereka adalah Brigata Curva Sud (BCS), salah satu suporter PSS garis keras.

Kata seorang kawan, mereka jauh lebih siap berhadapan dengan Slemania dibandingkan dengan suporter tim lain. Ini ciri khas yang sama seperti beberapa suporter klub di Indonesia yang terpecah menjadi beberapa kelompok. Sore itu saya harus mengapresiasi BCS yang jumlahnya ratusan. Mereka bernyanyi dan menari sepanjang pertandingan. Bahkan ketika di menit 10 PSIS berhasil menjebol gawang PSS, mereka tetap bernyanyi.

Beruntunglah mereka yang memiliki suporter militan seperti ini. Saya kira dukungan semacam ini dibutuhkan oleh klub ketika bermain tandang. Dukungan yang membesarkan hati. Seorang Jose Mourinho pun mengeluh ketika Madridistas tidak mendampingi mereka bermain di luar Santiago Bernabeu.

Emosi saya jelas tidak berada di lapangan. Saya tidak berteriak ketika beberapa kali Donny Siregar atau Khusnul Yakin kehilangan bola. Padahal, dulu saya termasuk orang yang rajin mengumpat. Kata-kata kasar semarangan nyaris selalu keluar setiap pertandingan di Jatidiri. Kata-kata kasar ini juga yang membuat Bapak dulu mengajakku selalu nonton di tribun barat. Mungkin Bapak berasumsi bahwa orang yang membayar tiket lebih mahal tidak akan mengumpat dengan kata-kata kasar dan tidak memberi pengaruh buruk buat anaknya.

Faktanya, sore itu masalah justru bersumber dari tribun VIP, tribun termahal di Jatidiri.

Pertandingan memasuki menit ke 72 ketika wasit Agus Apriliandi memberikan penalti kepada tuan rumah karena menganggap bola menyentuh tangan pemain PSS. Sontak para pemain Elang Jawa tidak terima dan melakukan protes keras. Beberapa pemain mendorong wasit. Sementara itu pelatih PSS, Widiyantoro, menginstruksikan pemainnya untuk meninggalkan lapangan. Mengenai aksi mogok main ini, rasa-rasanya Widiyantoro terinspirasi aksi Benny Dollo di final Piala Indonesia 2006.

Kala itu, Bendol mengajak pemain Arema meninggalkan lapangan karena menganggap wasit lebih memihak Persija. Dalam kasus semacam ini, saya kira tim harus diberi hukuman yang tegas. Apalagi tidak ada jaminan wasit akan bersikap lebih adil jika ada tim yang mogok main. Artinya, upaya membuat korps pengadil bersikap fair harus menggunakan langkah-langkah yang lebih revolusioner. Tapi saya kira PSSI tidak akan mampu menempuh tindakan semacam itu.

Kembali ke pertandingan. Para penonton yang berada di tribun VIP mulai melakukan pelemparan kepada pemain PSS yang meninggalkan lapangan. Aksi pelemparan ini tentu lebih mudah mengenai sasaran karena bangku cadangan PSS tepat berada di bawah tribun ini. Tidak terima dengan pelemparan itu, BCS terpancing. Mereka mulai membalas dan melempar ke tribun VIP yang tepat di samping mereka. Botol, makanan, bahkan kursi pun dilempar.

Saya dan Handika sudah was-was, menyiapkan diri untuk melompat ke lapangan jika situasi memburuk. Catatan, tinggi jarak antara tribun dan lapangan sekitar 3-4 meter.

Kondisi sudah memanas. Di depan tribun barat, mobil gas air mata sudah disiagakan. Aparat keamanan pun naik ke atas tribun untuk meredam kericuhan ini. Kericuhan tidak berlangsung lama. Saya sempat kasihan dengan para pendukung tuan rumah yang duduk di tribun barat dan berdampingan dengan BCS. Kebanyakan dari mereka adalah keluarga dan anak-anak. Artinya, mereka murni ingin menikmati pertandingan.

Sayangnya, sikap amatiran beberapa penonton di tribun VIP menodai hal itu. Saya yakin beberapa anak yang terjebak di tribun barat akan ketakutan. Barangkali mereka akan enggan menyaksikan lagi pertandingan di Jatidiri. Hal minus lainnya adalah kelalaian petugas keamanan yang tidak menempatkan personelnya di tribun. Padahal ini seharusnya menjadi standar keamanan ketika ada suporter tamu yang bertandang. Tapi sudahlah. Sepakbola Indonesia tidak akan pernah bisa menjadi industri yang menguntungkan ketika tidak ada rasa aman di stadion.

Pemain PSS mau masuk ke lapangan, pertandingan dilanjutkan kembali dengan penalti PSIS. Vitor Borges mengeksekusi dengan sempurna. Skor 2-1 bertahan sampai akhir pertandingan untuk kemenangan tuan rumah. PSIS masih menjadi pemuncak klasemen Grup II Divisi Utama.

Jatidiri tidak banyak berubah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s