Di Antara Prestasi dan Bunuh Diri

Judul Buku        : After Orchard                                                                                                             Penulis             : Margareta Astaman                                                                                                Penerbit            : Penerbit Buku Kompas                                                                                               Tebal                : vi +193 halaman                                                                                                     Cetakan            : Pertama, 2010

Singapura menjadi salah satu negara yang menjadi tujuan favorit pelajar Indonesia untuk meneruskan studi di perguruan tinggi. Kualitas pendidikan yang berstandar internasional, biaya yang murah, serta jarak yang relatif dekat menjadi daya tarik tersendiri. Untuk mencapai negeri singa tersebut hanya dibutuhkan waktu penerbangan satu jam dari Jakarta. Tidak hanya itu, kehidupan yang serba teratur juga menjadi alasan lain mengapa banyak yang tertarik kuliah di sana.

Namun, bayangan-bayangan yang indah itu ternyata hanya bertahan sampai di Bandara Internasional Changi. Begitu turun dari pesawat anda akan disuguhkan senyuman-senyuman manis yang menyambut kedatangan tamu. Setelah itu, bisa dipastikan hidup anda akan dipenuhi dengan tekanan demi tekanan sepanjang perkuliahan. Banyaknya tekanan, beban, serta tuntutan ini tidak main-main. Hal tersebut bahkan bisa menggiring anda pada pikiran untuk mengakhiri hidup, alias bunuh diri.

Kenyataan pahit itulah yang coba dihadirkan oleh Margareta Astaman dalam bukunya ini. Sebagai alumnus Jurusan Jurnalisme Nanyang Technological University (NTU), ia berbagi pengalaman selama menjadi mahasiswa di Singapura. Magie, begitu ia akrab disapa, mengatakan bahwa mengakhiri hidup bagi seorang mahasiswa cerdas di Singapura adalah hal yang sangat masuk akal. “Di permukaan, hidup kami tak kurang satu apapun. Tapi, apa perlunya mempertahankan hidup jika seseorang hanya dilihat sebagai mesin dan benda mati?”(halaman 16).

Seperti diungkapkan Magie, menjadi mahasiswa di Singapura tidak ada bedanya dengan menjadi robot yang harus selalu siap berkompetisi. Kompetisi ini dimulai sejak pemilihan kamar asrama sampai pengerjaan tugas akhir atau Final Year Project (FYP). Untuk mendapatkan kamar asrama universitas, mahasiswa harus mengumpulkan standar nilai minimal yang didapat dari kegiatan ekstrakurikuler. Nilai minimal pun belum cukup, sebab nanti akan dibandingkan dengan nilai mahasiswa lain. Artinya, mahasiswa harus mengikuti kegiatan ekstrakurikuler sebanyak-banyaknya agar memperoleh nilai tinggi.

Jika tidak mampu mendapatkan nilai tinggi, jangan harap bisa mendapatkan kamar. Menyewa kamar di luar kampus hampir dikatakan tidak mungkin sebab jarak rumah susun yang sangat jauh. Padahal kegiatan kuliah menuntut mahasiswa untuk tinggal di kampus sejak pagi sampai dinihari. Dengan kata lain, menyewa kamar di luar kampus sama saja dengan menyiksa diri sendiri. Pilihan yang paling mungkin adalah melakukan squating, menitipkan barang di kamar orang lain dan tidur berpindah-pindah setiap malam (halaman 21).

Sementara itu dalam kegiatan perkuliahan, ketika ujian jangan sekali-kali mengharapkan bantuan contekan seperti yang biasa terjadi di Indonesia. Jika ada yang memberi contekan patut diwaspadai bahwa ia sedang memberikan jawaban yang salah. Segala cara memang akan dilakukan untuk mendapatkan nilai tertinggi. Dalam tugas kelompok pun tidak perlu berharap akan muncul interaksi pertemanan yang hangat. Sebab, kewajiban menyelesaikan tugas membuat semua tindakan hanya dinilai berdasarkan relasi terhadap kewajiban ini. Selesai tugas dikerjakan, selesai juga hubungan pertemanan.

Minimnya interaksi yang hangat itu terjadi karena waktu untuk bersosialisasi memang sangat minim. Sebagai gambaran, mahasiswa semester awal akan dihadapkan dengan minimal tiga project dalam setiap mata kuliah. Dengan 5 mata kuliah yang disarankan diambil di semester awal, artinya seorang mahasiswa memiliki beban minimal 15 project berupa penelitian, esai, presentasi kelompok, maupun event management. Itu belum termasuk praktikum di laboratorium dan riset di perpustakaan.

Dengan jadwal sepadat itu, sedikit saja waktu luang akan digunakan untuk beristirahat alih-alih bersosialisasi. Puncak kompetisi adalah skripsi atau Final Year Project (FYP). Jangan berharap topik penelitian akan disetujui jika tidak memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Jika topik yang dipilih mahasiswa tidak “menjual”, caci-maki dari dosen pembimbing hampir pasti akan menjadi makanan sehari-hari.

Kompetisi-kompetisi yang dilalui tersebut tidak memberi tempat bagi mereka yang gagal. Sekadar kesempatan pun tidak. Maka, mereka yang tidak sanggup menanggung kegagalan berkompetisi memilih mengakhiri kompetisi dengan bunuh diri. Pada tahun 2006, setidaknya ada 416 kasus bunuh diri di Singapura yang artinya lebih dari satu orang bunuh diri dalam sehari. Dalam setiap tujuh kematian, ada satu kematian karena bunuh diri. Angka ini naik 21 persen dari 2003, dan trend menunjukan kenaikan yang signifikan. Anda tak perlu heran jika beberapa saat lalu ada mahasiswa Indonesia yang dikabarkan bunuh diri setelah menikam profesornya.

Magie sendiri selama kuliah mengaku sempat tiga kali berpikir bahwa mati adalah jalan terbaik daripada hidup tapi tidak berprestasi. Karena banyaknya orang yang mencoba bunuh diri, pemerintah sampai perlu memberikan denda bagi mereka yang berusaha untuk bunuh diri. Untuk diketahui, usaha percobaan bunuh diri yang gagal akan berakibat denda S$ 500 (halaman 57). Denda ini dimunculkan karena bunuh diri dianggap sebagai kegiatan orang gagal yang layak untuk mendapatkan hukuman.

Buku ini ingin mengatakan bahwa selalu ada yang terhempas dibalik kemajuan. Sistem pendidikan ala Singapura yang sangat keras tersebut, terbukti telah membawa negeri tersebut menjadi salah satu negara maju di dunia. Pertumbuhan ekonomi berlangsung dengan pesat. Mahasiswa yang menjadi alumnus pendidikan Singapura hampir dipastikan “laku” di dunia kerja.

Namun di saat yang bersamaan, kemajuan tidak memberi tempat bagi kegagalan. Melalui kisah ini, Magie menampilkan sesuatu yang selama ini tidak pernah disampaikan. Kegagalan yang ditutupi mimpi-mimpi indah negeri singa. Ia sekaligus ingin berpesan kepada mahasiswa yang ingin meneruskan kuliah di Singapura. Jika tidak memiliki persiapan mental dan fisik yang baik, jangan sekali-kali berani kuliah di negeri itu. Jika hanya bermodal nekat, bukan kesuksesan yang diraih, bisa-bisa pulang hanya tinggal nama saja.

(dimuat di Jawa Pos 5 Desember 2010)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s