Sultan yang Cebol

Makassar, 18 November 1667. Setelah perang bertahun-tahun yang memakan ribuan korban dari rakyatnya, Sultan Hasanuddin menyerah. Sang Ayam Jantan dari Timur tak kuasa menolak tawaran perdamaian dari pihak Belanda. Perjanjian Bungaya (Cappaya ri Bungaya) ditandatangani dengan berbagai syarat yang merugikan kerajaan Makassar. Kompeni mendapatkan kekuasaan mutlak.

Selepas itu, bentang Somba Opu yang menjadi pusat kekuasaan kerajaan Makassar dihancurkan. Ini adalah salah satu isi dari Perjanjian Bungaya. Semua bangunan yang ada di dalamnya diratakan. Masjid, gereja, istana, loji-loji Inggris dan Denmark. Semua rata dengan tanah. Dan yang tersisa adalah kesunyian. Salah satu kekalahan memilukan dalam sejarah perlawanan rakyat di Nusantara terhadap Belanda.

Entah mengapa saya selalu mengingat kisah ini setiap kali menginjakkan kaki di Makassar. Kisah ini adalah pengetahuan sejarah dasar yang diajarkan di SD, SMP, dan SMA. Dan saya bayangkan, Makassar pasca Perjanjian Bungaya adalah Makassar yang sunyi dengan tanda kekalahan perang yang terlihat di mana-mana. Tapi itu dulu. Ratusan tahun yang lalu. Kesunyian itu sudah tidak nampak. Ku kira, Makassar saat ini adalah kota yang angkuh. Terlalu hiruk pikuk. Barangkali seangkuh Jakarta.

Keluar dari Bandara Hasanuddin, banjir dan kemacetan langsung menghadang. Eh! Kasian patung besar Sultan Hasanuddin yang ada di depan bandara. Ia langsung menghadap ke arah banjir dan kemacetan itu. Entah bagaimana perasaan sang Sultan kalau saat ini masih hidup. Barangkali akan marah-marah kepada bawahannya yang tidak bisa mengurus tata kota dan membuat Makassar menjadi semrawut. Dan yang pasti saya yakin Sultan tidak akan bersikap seperti Pak Beye yang cuma bisa menyampaikan pidato keprihatinan.

Oh iya, ngomong-ngomong soal patung Sultan Hasanuddin ini rupanya sempat menjadi kontroversi. Patung ini diresmikan tanggal 19 Oktober 2011. Patung ini sekaligus menjadi kado ulang tahun Sulawesi Selatan ke 342. Dimas, kawan saya yang mahasiswa Peternakan Unhas, bilang bahwa ini adalah patung Sultan yang aneh. “Terlalu gendut”, katanya. Benar juga. Patung ini memang membuat Sultan terlihat lebih gendut dan pendek. Tidak seperti gambar di beberapa buku sejarah yang pernah kubaca dan menggambarkan Sultan sebagai sosok yang tinggi dan gagah.

Karena penasaran dengan versi mainstream sebenarnya seperti apa, saya iseng nyari di Google.Majalahversi.com menulis begini ; Sebagai seorang Karaeng Kerajaan Gowa yang sangat disegani baik oleh kawan maupun lawan, aura tersebut tidak nampak dalam patung berbahan baku perunggu dan stanless yang dicampur dengan tembaga itu. Sarung yang Sultan kenakan –yang dibuat agak mengembang bagai tertiup angin- terkesan sebagai rok. Dan bila kita menilik dari dekat patung ini nampak berwajah tua, berbadan gempal, pendek bahkan terkesan cebol, sedikitpun tidak melukiskan keperkasaan dan kejantanan.

Saya sepakat soal uraian ini. Bagi yang pernah melihat patung di depan bandara ini, coba bandingkan dengan lukisan Sultan Hasanuddin karya Basuki Abdullah. Meskipun hanya menggambarkan separuh badan, terlihat kegagahan sang Sultan. Kumisnya tebal, alisnya naik, rambut panjang, dengan tangan kiri yang memegang badik. Sultan yang revolusioner dan pemberani. Simak saja keberanian Sultan ini dari kata-kata yang ia ucapkan waktu menjawab tuntutan Belanda yang melakukan monopoli perdagangan di Makassar:

“Kami berada pada pihak yang benar, kami diserang, dan oleh karena itu kami ingin mempertahankan kebenaran dan kemerdekaan negeri kami”.

Mattulada dalam bukunya Menyusuri Jejak Kehidupan Makassar dalam Sejarah (2011) merekam bagaimana gagah beraninya tentara Makassar dalam menghadapi Belanda. Tentara Makassar mempertahankan kerajaan mereka dengan terus membombardir tentara Belanda dengan meriam dari benteng Panakkukang, Somba Opu, dan Ujung Pandang. Sultan Hasanuddin dengan luar biasa memimpin perlawanan ini. Sayangnya, nuansa revolusioner dan ilham keberanian itu tidak kita dapatkan ketika melihat patung di depan bandara. Saya kira pembuatnya memiliki imajinasi sendiri soal menerjemahkan kata revolusioner ini. Dan semoga patung Sultan gendut ini tidak memancing anak-anak yang melihatnya untuk menganggap bahwa pahlawan mereka adalah orang yang tidak gesit. Demikian.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s