Reorientasi Gerakan Mahasiswa

Sidang paripurna DPR yang membahas Bank Century menyisakan banyak persoalan. Tidak hanya persoalan di wilayah elite, tetapi juga gerakan mahasiswa yang disayangkan berakhir antiklimaks. Seiring selesainya kerja Pansus, aksi mahasiswa justru terjebak pada kerusuhan, paling tidak di Jakarta dan Makassar.

Dalam kasus berbeda, beberapa waktu yang lalu mahasiswa UIN Sunan Kalijaga bentrok dengan aparat kampus. Selasa (24/3), aksi beberapa elemen mahasiswa yang tergabung dalam Serikat Kebudayaan Masyarakat Indonesia juga diwarnai bentrokan.

Melihat serpihan peristiwa tersebut, kita seperti dipaksa kembali mendiskusikan posisi dan peran gerakan mahasiswa dalam dinamika perubahan sosial politik negeri ini.

Tulisan Mohamad Fathollah berjudul “Disorientasi Gerakan Mahasiswa” (22/3) di halaman ini mencoba ikut urun rembuk mengenai orientasi gerakan mahasiswa. Tulisannya menunjukkan kegusaran yang berawal dari artikel berjudul “Aksi Mahasiswa dan Disorientasi Gerakan” di harian ini (19/3) yang menurutnya mendistorsi gerakan mahasiswa secara umum.

Aksi anarkis yang dilakukan gerakan mahasiswa, seperti disebutkan Fathollah, tidak dapat digeneralisasi dan dikreasikan pada ranah ideologi massa aksi. Ia juga menjelaskan, kita terburu- buru menghakimi jika hanya melihat gerakan mahasiswa hanya dari aksi- aksi anarkis karena kenyataannya, aksi-aksi mahasiswa tahun 1965, 1974, dan 1998 juga melahirkan anarkisme. Namun, karena hanya fokus pada ranah mekanistis-teknis aksi-aksi mahasiswa, Fathollah justru tampak hantam krama dan justru mengesankan gerakan mahasiswa memiliki jarak dengan rakyat. Sebagai pembaca, saya cukup gusar atas kegusarannya.

Ketika membincangkan gerakan mahasiswa, mau tidak mau kita memang harus membicarakan konteks historis yang cukup panjang. Dalam buku Penakluk Rezim Orde Baru: Gerakan Mahasiswa 1998 (1999), Soewarsono mengajukan sebuah pernyataan krusial. Baginya, gerakan mahasiswa adalah sebuah keluarga. Ikatan ini terjalin dari serangkaian tonggak-tonggak yang disebut sebagai angkatan. Tak heran jika kita cukup familier dengan angkatan 1908, 1928, 1966, 1974, 1990, dan 1998. Karena menjadi sebuah keluarga, tentu saja angkatan- angkatan tersebut tidak berdiri sendiri. Sebagai contoh, membaca hasil yang diperoleh angkatan 1998-menumbangkan rezim Orde Baru- tidak lepas dari serangkaian proses angkatan sebelumnya.

Dari semua angkatan yang ditonggakkan tersebut, ada satu hal krusial yang patut menjadi perhatian bersama. Gerakan mahasiswa mendapatkan dukungan yang besar dari rakyat.

Sebagai contoh di Yogyakarta pada tahun 1998 ketika pecah peristiwa reformasi. Ibu-ibu sukarela menyediakan makanan dan minuman bagi para peserta aksi demonstrasi baik itu di Bunderan UGM maupun di tempat-tempat lain. Dari mulai aksi yang halus sampai yang paling anarkis pun masyarakat mendukung. Dari kondisi tersebut dapat dilihat bahwa mahasiswa mampu merumuskan isu-isu yang bersifat kerakyatan yang membela masyarakat banyak. Inilah masa bulan madu antara rakyat dan mahasiswa.

Namun, bulan madu itu barangkali harus segera diakhiri. Pasca Reformasi 1998, gerakan mahasiswa mengalami disorientasi. Berbagai hal yang dulu pernah diperjuangkan justru menyerang balik mereka. Wacana kebebasan pers, demokratisasi, hak asasi manusia, sampai kebebasan berpendapat justru membuat posisi mahasiswa terdesak. Gerakan mahasiswa kini tidak lagi menjadi satu-satunya saluran aspirasi kepentingan masyarakat, cenderung menjadi menara gading kampus. Aksi-aksi yang dilakukan bahkan membuat mahasiswa berhadapan dengan rakyat.

Disorientasi ini membuat mahasiswa mudah terjebak dalam wilayah politik praktis. Indikasinya, organisasi gerakan mahasiswa ekstrakampus yang sering kali mendominasi lembaga intrakampus memperlihatkan afiliasi yang bisa dirasakan terhadap parpol tertentu. Afiliasi tersebut bahkan seperti tidak bisa disangkal ketika mahasiswa hanya menyibukkan diri untuk merespons isu-isu elite.

Reorientasi

Dulu, mahasiswa memiliki musuh bersama untuk ditumbangkan, rezim Orde Baru. Ini memudahkan berbagai elemen untuk bersatu. Tak heran ketika musuh bersama tumbang, gerakan kocar-kacir tanpa arah. Jika mengamini Fathollah, musuh bersama tidak lagi diperlukan. Sebab, kini musuh tersebut mewujud dalam pemerintah serta segala bentuk keotoriteran yang dipraktikkan orang atau oknum yang melacuri kekuasaan demi kepentingan parsial. Hal terpenting adalah gerakan mahasiswa mempunyai tujuan bersama menumbangkan ketidakadilan dan segala macam bentuk diskriminasi.

Sekalipun demikian, logika tersebut saya kira perlu dipertanyakan. Jika gerakan mahasiswa yang penting antipemerintah, ini melupakan masyarakat sebagai entitas yang diperjuangkan. Bahkan bisa cenderung terjebak pada isu elitis. Padahal, aksi-aksi mahasiswa pada dasarnya ditujukan untuk membela rakyat, bukan dirinya sendiri. Sebuah tonggak diperlukan untuk membuat mahasiswa kembali memahami peran dan posisinya. Zaman sudah berubah sehingga mahasiswa tidak lagi bisa memakai cara yang sama untuk mendekati permasalahan yang berbeda. Reorientasi harus dilakukan.

Reorientasi tersebut saya kira lebih tepat diarahkan pada usaha pemberdayaan masyarakat. Mahasiswa harus turun ke bawah sebagai upaya melakukan pendidikan serta pengabdian kepada rakyat. Belajar langsung di tengah-tengah rakyat akan membuat mahasiswa mampu menguji teori-teori yang selama ini dipelajari di kelas. Pembuktian ini akan memperlihatkan, apakah teori-teori itu bermanfaat bagi masyarakat. Turun ke bawah membuat mahasiswa mempelajari kemandirian rakyat. Mahasiswa akan menemukan potensi serta kekuatan rakyat yang sesungguhnya. Potensi inilah yang sangat penting.

Ketika masyarakat sudah paham kekuatan yang dimilikinya, ia tidak akan mudah ditindas penguasa yang diskriminatif. Ia akan mampu berdiri sendiri, mandiri, kreatif, dan tidak selalu menjadi sosok yang pasif menunggu pertolongan. Selain itu, mahasiswa sendiri juga tidak akan mudah goyah karena sudah memperoleh dukungan yang berakar dari masyarakat.

Membicarakan gerakan mahasiswa seharusnya tidak dilepaskan dari masyarakat yang menjadi basis awalnya. Aksi-aksi mahasiswa harus dibarengi upaya pemberdayaan masyarakat dan ditujukan untuk menyasar kepentingan rakyat banyak, bukan elite. Ketika muncul slogan-slogan kerakyatan dalam aksi mahasiswa, ia tidak sekadar romantisme kelas menengah yang ingin menjadi dewa penolong rakyat miskin.

(dimuat di Kompas 28 Maret 2010)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s