Pemira UGM yang Tidak Menarik

“Apakah anda mendukung UGM yang akan memberikan gelar honoris causa kepada Sultan?” Pertanyaan dari panelis, mas Sigit Pamungkas, ini saya kira cukup provokatif. Terlihat dari wajah-wajah panik yang diperlihatkan para kandidat tadi sore (17/12). Aufa, dengan berusaha diplomatis, menjawab bahwa untuk masalah dukung-mendukung perlu melakukan kajian dan riset terlebih dahulu. Setelah ditemukan data empirik, maka bentuk penyikapan bisa dilakukan. Begitu katanya. Tapi saya mencatat dengan jelas bahwa di akhir jawaban dia bilang, “Secara pribadi saya mendukung pemberian gelar ini”.

Sementara Sinyo pun sama, berusaha diplomatis. Ia menjawab dengan dua standar, pertama menolak, kedua menerima.  Katanya, pertama, “Secara prosedur, saya menolak pemberian gelar ini karena tidak mengikuti standar-standar akademis yang berlaku”, dan kedua, “Secara posmo atau substansi, saya mendukung pemberian gelar ini”.  Saya yakin kedua orang ini tidak siap mendapatkan pertanyaan semacam itu, dan jawaban yang keluar pun jelas memperlihatkan kebingungan mereka. Wajah tidak bisa berbohong.

Pertanyaan berbeda diajukan mas Sigit Pamungkas kepada Aje dan Ozi. “Apakah anda mendukung atau menolak tambang pasir besi di Kulonprogo?” Jawaban keduanya persis. Sama-sama menolak. Cuma argumentasi yang mendukung bangunan penolakan itu berbeda. Aje mengatakan bahwa tambang pasir besi tidak berpihak kepada masyarakat di Kulonprogo. Katanya, ketidakperpihakan ini terlihat dari kriminalisasi dan kekerasan yang dialami oleh petani di Kulonprogo.

Sedangkan Ozi dengan lebih keras berkomentar bahwa kasus tambang pasir besi di Kulonprogo memperlihatkan bentuk feodalisme baru. Ia mengatakan bahwa keluarga Keraton saat ini tipikalnya mirip dengan keluarga Pak Harto di era Orde Baru. Bagi-bagi tanah termasuk lahan bisnis yang dimonopoli membuat masyarakat Kulonprogo tertindas. Untuk itu, kata Ozi, mahasiswa harus melawan bentuk-bentuk ketidakadilan yang ada di depan mata ini.

Pertanyaan-pertanyaan di atas muncul dalam debat calon presiden BEM KM UGM 2012 yang berlangsung adem ayem di parkiran lembah UGM tadi sore (17/12).  Oh iya, bagi yang belum tahu, Aje, Ozi, Aufa dan Sinyo ini adalah mahasiswa-mahasiswa yang ikut mencalonkan diri sebagai calon presiden BEM KM UGM 2012. Sebenarnya ada lima calon bersama Irvan, tapi tadi tidak hadir dalam debat. Debat terakhir ini sekaligus menandai penutupan masa kampanye pemilihan raya tahun 2011 ini.

Dalam sebuah debat semacam ini, pemikiran seorang calon bisa diketahui. Ada di mana posisinya, apa yang sudah dilakukannya, bagaimana dia melangkah ke depan, serta tetek bengek lainnya terlihat dengan jelas. Perubahan mimik muka, gaya bicara, struktur kalimat, bahkan sampai gesture bisa menunjukkan sejauh apa kapasitas kepemimpinan mereka. Eits, tapi tulisan ini tidak akan menganalisis itu. Nanti dikira tendensius, dikira kampanye, eh tapi sebenarnya tidak ada masalah dianggap kampanye. Toh foto profil di dinding Facebook saya sudah menunjukkan di mana keberpihakan saya.

Ah tapi sudahlah, abaikan saja. Kita toh manusia politik. Punya pilihan masing-masing. Selama tidak menggunakan cara-cara kotor khas politisi busuk, tentu tidak ada masalah menunjukkan posisi. Ehngomong apa ini. Padahal tidak maksud kampanye. Jadi begini, saya cuma ingin bilang bahwa ini pemira yang paling tidak menarik selama saya menjadi mahasiswa di UGM. Tidak ada hal baru kecuali rutinitas yang membosankan. Baliho-baliho kampanye yang memenuhi berbagai tempat strategis di kampus, wajah-wajah asing yang tanpa malu-malu menjual diri, sampai slogan revolusioner yang dengan lantang diteriakkan. Intinya : pilih aku, kecap nomor satu! Tentang manis tidaknya rasa kecap, itu urusan nanti.

Silakan tengok baliho-baliho bergambar wajah yang saat ini menyerang kawasan kampus UGM. Bisa jadi anda akan melihat wajah yang sudah anda kenal. Atau barangkali, anda akan melihat wajah asing yang namanya bahkan baru anda kenal saat itu juga. Tidak ada masalah kalau sudah kenal, tapi persoalannya muncul kalau belum kenal, minimal pernah mendengar namanya, apa iya anda mau milih?

Saya tidak pernah percaya baliho, apalagi website yang dibuat hanya untuk kepentingan pemilihan raya. Setelah itu dibiarkan terlantar tak terurus. Rasa-rasanya setiap tahun ini terjadi. Lihat saja website calon-calon presiden BEM beberapa tahun ini. Setelah acara tahunan ini selesai, selesai pula fungsi website “resmi” sang calon. Bagi saya, baliho, website, stiker, poster, dan berbagai alat peraga semacamnya itu hanya bentuk pembodohan tersistematis. Instrumen-instrumen untuk menokohkan calon yang selama ini tidak pernah (kelihatan) kerja.

Eits, jangan buru-buru menuduh saya anti pembaruan ketika mengatakan bahwa berbagai instrumen tadi adalah bentuk pembodohan. Menurut saya begini, berbagai sarana tadi hanya alat untuk mengkristalkan berbagai kerja yang sudah dilakukan oleh para calon.  Jadi intinya adalah, si calon mesti kerja dulu. Ia mesti bisa menunjukkan bahwa selama ini dia sudah mengerjakan sesuatu.

Tentu saja ini kerja atau sesuatu ini dimaknai dalam ranah perjuangan kemahasiswaan. Track recordsemacam apa yang sudah dilakukan selama ini. Misalnya begini, kok berani-beraninya mencalonkan diri sebagai koki kalau selama ini pengalamannya cuma masak mie rebus, atau mentok-mentok, masak air. Memangnya menjadi koki hanya bisa dipelajari dengan membaca bumbu resep masakan? Memangnya menjadi koki bisa dilakukan hanya karena ada orang-orang yang di-tokoh-kan  bilang serta mempromosikan, “mie rebus buatannya enak, jadi dia layak jadi koki”.

Ini yang terjadi dalam pemira kali ini. Opini publik dimainkan sedemikian rupa melalui berbagai media. Pendapat para opinion leader digunakan untuk mempengaruhi pendapat publik. Padahal, tidak ada hubungan antara pendapat-pendapat ini dengan kapasitas seorang calon. Tapi ada calon-calon yang bahkan over meminta dukungan dari para opinion leader ini. Bagi saya ini menunjukkan ketidak-pede-an kepada kemampuan diri sendiri. Ketidak-pede-an dengan “nama” sendiri di kampus. Tapi jangan-jangan, selama ini memang tidak punya “nama” di kampus karena memang tidak pernah menunjukkan kerja nyata? Entahlah.

Mengenai dinamika selama pemira tahun ini. Saya kira biasa saja, namun bagi sebagian orang, pemira tahun ini panas. Jualan utama tentu saja masalah penggulingan rezim yang sudah bertahun-tahun mendominasi di kampus. Tapi kata beberapa orang, dan saya sedikit banyak menyepakatinya, rezim sedang mengalami pembusukan internal. Proses pembusukan yang embrionya sudah berlangsung beberapa tahun, dan tahun ini memuncak. Perang terbuka digelar di berbagai tempat, termasuk media sosial. Saya penontonnya. Kawan saya yang ada dalam lingkaran rezim bilang, benalu jama’ah harus dikasih pelajaran, Nu.

Itu soal rezim, sedikit saja ya, nanti saya kena lagi repot. Padahal ini cuma omongan ngalor-ngidul.Sekarang soal tim sukses. Ada yang arogan, merasa menang dengan mudah karena sudah punya massa solid. Ada yang merasa dikhianati. Ada yang lebay, merasa dizalimi, dan harus dikasihani, dan lain sebagainya. Ada sms gelap yang beredar, satu calon menuduh, calon lain dituduh. Yah tidak jauh beda dengan sms yang diduga kiriman dari Nazarudin yang beberapa waktu lalu sedikit mengguncang jagat perpolitikan nasional. Saya tidak sepakat dengan black campaign, itu konyol dan bodoh apabila mahasiswa melakukannya. Tapi dalam sebuah proses politik, tentu itu hal yang sangat wajar. Dan saya hanya mbatin, jangan manja! Kegetiran, keputusasaan, sakit hati, pengkhianatan, dan semacamnya adalah sebuah proses yang harus dilalui. Dan biasa saja, jangan berlebihan.

Saya merasa, pemira ini cuma panas dan getir bagi mereka yang menjalaninya. Dalam titik ini, mahasiswa UGM yang jumlahnya puluhan ribu itu kemudian hanya dianggap sebagai angka statistik. Hanya suaranya yang dicari, setelah itu, kata Ebiet G. Ade, tanyakan saja pada rumput yang bergoyang. Yah, setiap tahun prosesnya selalu seperti ini. Janji-janji ditebar, slogan perjuangan diteriakkan. Lamat-lamat memudar. Pemira menjadi rutinitas membosankan. BEM KM pun membosankan. Semua membosankan. Galau.

Eh, sepertinya tulisan ini sudah salah arah. Saya cuma sedang ngomyang sendiri. Abaikan saja dan jangan diletakkan dalam logika benar-salah. Anggap saja ia semacam jamu. Kalau anda suka, ya diminum. Kalau tidak suka, ya dilihat saja. Tapi, saran saya memang harus tetap diminum. Jamu itu meskipun pahit, tapi bikin sehat je. Oke. Jangan lupa memilih di pemira tanggal 20- 22 Desember! 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s