Pelatihan bagi Pejuang Rakyat

21 Maret 2011

Berdiskusi dengan kawan-kawan mahasiswa yang masih muda (secara akademik) memang selalu menyenangkan. Ada semangat yang masih menyala-nyala, ada emosi yang membuncah ketika menyampaikan argumentasi. Diskusi dengan mereka kadang juga menuntaskan rasa rindu mendiskusikan kondisi bangsa yang karut-marut seperti saat ini. Harus diakui, diskusi ini susah ditemui dengan kawan satu angkatan yang sudah memiliki orientasi berbeda, lulus, lanjut kuliah S2, maupun langsung cari kerja. Karena itulah saya selalu antusias ketika ada kawan-kawan yang mau mengajak mendiskusikan arah bangsa ini ke depan. Tak terkecuali ketika hari Minggu (20/3) kemarin, Dewan Mahasiswa Justicia Fakultas Hukum mengundang saya untuk menjadi pemantik diskusi dengan anggota Dema yang baru.

Dema menamai kegiatan ini dengan nama yang bagi saya cukup gagah dan menggelegar, Latihan Dasar Pejuang Rakyat (LDPR). Membaca dari namanya saja sudah cukup membuat bulu kuduk merinding. Pejuang rakyat. Ada beban sejarah yang tidak main-main dalam kata rakyat ini. Dan ketika mahasiswa sudah berani mendeklarasikan dirinya sebagai pejuang rakyat, itu artinya dia siap menanggung beban maha berat yang menuntut keberanian berpihak dan konsistensi sikap. Setidaknya, apa yang dilakukan oleh Dema ini menjadi semacam harapan di tengah gempuran zaman yang menumpulkan nalar berpikir kritis mahasiswa. Kondisi yang selanjutnya memisahkan mahasiswa dari masyarakatnya. Setidaknya, membuat mahasiswa melupakan tanggung jawab sosialnya.

Menjadi sebuah kewajaran ketika kemudian organisasi internal baik tingkat universitas maupun fakultas yang lain lebih sibuk dalam isu-isu elitis. Jika kita lihat, organisasi internal di tingkat universitas seperti BEM KM, jauh lebih disibukkan dengan isu-isu nasional. Mereka bahkan lebih tertarik untuk go international alih-alih memperjuangkan masyarakat di akar rumput. Jangan heran jika agenda mereka tahun ini juga akan ke luar negeri lagi seperti tahun lalu.

Berbeda dengan mainstrem di atas, Dema Justicia, bagi saya, menjadi salah satu organisasi internal mahasiswa di UGM yang masih konsisten bergerak bersama rakyat.Mereka sampai saat ini masih setia mendampingi Pedagang Kaki Lima (PKL) di daerah Lembah UGM yang akan digusur oleh pihak kampus. Tidak hanya itu, Dema juga menjadi salah satu garda depan penolakan terhadap proses komersialisasi kampus di UGM yang salah satunya mewujud dalam kebijakan Kartu Identitas Kendaraan (KIK).

Kegiatan seperti LDPR, menjadi upaya untuk menyemai bibit-bibit muda yang akan terus berada di garda depan perjuangan mahasiswa UGM, dan tentu saja mahasiswa Indonesia. Dan jujur saja saya cukup kaget dengan respon anggota baru Dema yang aktif dan “keras” dalam diskusi, bahkan terkadang sambil menunjuk-nunjuk saya, hehe. Terima kasih Kaka, Bebe, Rahmat, Fandi, Soni, Sasa, Bintang, Dira, Ester, Gultom, Dani untuk diskusinya yang “hangat”. Semoga Dema tetap bisa konsisten di jalan perjuangan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s