Occupy Gedung Pusat UGM!

Aksi teatrikal dalam demonstrasi di Gedung Pusat UGM (5/11), jelas sebuah tindakan subversif. Seorang mahasiswa mengenakan topeng bergambar rektor UGM menari-nari. Ada beberapa mahasiswa di depannya yang duduk. Ada “oknum” yang ikut menari, menghampiri sang “rektor” dan memberikan beberapa lembar rupiah. Bahasa tubuh “rektor” jelas menunjukkan bahwa ia dengan senang hati menerima lembaran-lembaran rupiah itu. Ia seperti sengaja menunjukkannya di depan mahasiswa-mahasiswa yang duduk dengan lemas. Ratusan mahasiswa berbaju hitam dengan ikat kepala merah bersorak sorai bertepuk tangan menyaksikan adegan tersebut. Dan saya selalu bergairah dengan sebuah aksi subversif.

Saya bisa pastikan bahwa ini adalah aksi yang secara kuantitas, melibatkan mahasiswa UGM dengan jumlah terbanyak dalam 4-5 tahun terakhir. Militansi peserta aksi pun tidak perlu dipertanyakan. Sampai tulisan ini dibuat, berarti sudah 2 hari mahasiswa Sekolah Vokasi menginap di Gedung Pusat. Tenda-tenda didirikan di halaman, spanduk-spanduk berisi tuntutan dibentangkan di lantai dua dan tiga. Setiap malam, mahasiswa berkumpul mengelilingi tiang bendera yang ada di lapangan dan menyalakan lilin. Doa dipanjatkan, harapan dibincangkan bersama.

Barangkali mahasiswa sekolah vokasi ini terinspirasi oleh aksi Occupy Wall Street yang kemudian menyebar ke berbagai penjuru dunia. Karena itu mereka memutuskan untuk menginap di Gedung Pusat. Aksi ini pun jarang, bahkan sudah lama tidak dilakukan mahasiswa UGM. Tapi saya ragu inspirasi itu muncul dari Wall Street. Inspirasi menginap di Gedung Pusat ini jelas muncul dari ekspresi kekecewaan yang mendalam. Kekecewaan yang berjumpa dengan kebebalan dari pejabat berwenang di kampus yang enggan mendengarkan aspirasi mahasiswa.

Keengganan ini terlihat gamblang ketika aksi hari Senin kemarin. Tuntutan demonstran jelas, mereka ingin ketemu Rektor. Tapi oleh perwakilan rektorat yang menemui mahasiswa di awal aksi, dikatakan bahwa Pak Rektor sedang berada di Bandung. Karena sedang di luar kota, tentu saja tidak bisa bertemu dengan demonstran. Eh, ketika demonstran bertahan sampai menjelang magrib, tiba-tiba Rektor keluar dari ruangannya. Bapak-bapak yang paginya bilang kalau Rektor sedang di Bandung mengubah omongannya sendiri, “ternyata Bapak tidak jadi ke Bandung”. Konyol. Ini strategi yangfailed banget kalau ingin membohongi mahasiswa.

Padahal tuntutan mahasiswa sekolah vokasi sederhana. Mereka ingin kejelasan keberlangsungan studi sekolah vokasi (D3) dididirikan 2008 berdasarkan Peraturan Rektor UGM nomor 518/P/SK/HT/2008.. Lebih spesifik tuntutannya, Sekolah Vokasi ditutup dan kembali pada program studi Diploma. Selain itu, akses masuk bagi mahasiswa Sekolah Vokasi/Diploma III ke jenjang strata I (S-I) di lingkungan UGM harus dibuka lebar dan program studi D4 mesti dibuka. Tuntutan ini muncul karena ketika mereka masuk ke Sekolah Vokasi, upaya untuk melanjutkan studi ke jenjang S1 akan susah.

Seperti diungkapkan Direktur Sekolah Vokasi UGM, M. Arrofiq di beberapa media ( selengkapnya baca di http://bit.ly/vVgtrG ), sistem pendidikan vokasi secara konsep tidak menyiapkan mahasiswanya untuk meneruskan pendidikan ke level lebih tinggi. Vokasi dirancang untuk membentuk mahasiswa yang memiliki keterampilan tinggi.Konsep pendidikan vokasi mengedepankan penguasaan keterampilan, sementara S1 menekankan kemampuan akademik. Karena konsep keduanya berbeda, menurut dia mahasiswa vokasi sulit ditransfer ke jenjang S1.

Salah satu solusi yang ditawarkan adalah, mahasiswa vokasi yang bersikeras ingin meraih gelar kesarjanaan, menurut dia manajemen vokasi bisa menawarkan pembukaan jalur Diploma IV (D4) atau sarjana terapan. Masalahnya, peningkatan status tersebut memerlukan payung hukum dan kesiapan setiap program studi.Menurut dia jenjang D4 telah memiliki payung hukum SK Rektor 599/P/SK/HT/2010, tetapi operasionalnya belum dilaksanakan karena memerlukan kesiapan program studi. Selain itu, pembukaan D4 perlu kajian pasar dan kelengkapan fasiltias terutama jumlah dosen. Atau tawaran mudah, lugas, cepat diungkapkan Humas UGM Suryo Baskoro, “kalau ada yang ingin melanjutkan ke S1 atau alih jalur bisa menempuh di perguruan tinggi swasta”.  (selengkapnya baca di http://bit.ly/s9WOe9 )

Persoalannya berikutnya muncul. Peraturan Rektor UGM nomor 518/P/SK/HT/2008 yang menjadi landasan didirikan Sekolah Vokasi tahun 2008 bermasalah. Tidak ada kejelasan mengenai keberlanjutan studi mahasiswa vokasi ke jenjang yang lebih tinggi. Sampai saat ini sarana dan prasarana untuk Sekolah Vokasi belum memadai bahkan belum layak dan juga tidak dapat menampung seluruh jurusan yang ada dalam sekolah vokasi. (baca di http://bit.ly/udwMcy ).

Sampai di sini, ada yang patut diperhatikan lebih dahulu. Logika program diploma dan sarjana jelas berbeda. Program diploma dipersiapkan untuk bidang yang lebih bersifat teknis -praktis. Sementara, sarjana fokus pada keilmuan-konseptual. Dengan dua hal yang berbeda itu, kira-kira perbedaannya semacam SMA-SMK. Yang menjadi masalah kemudian, seringkali mahasiswa masuk ke program diploma dengan harapan bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Nah, ketika calon mahasiswa baru yang akan masuk ke diploma tidak (diberi) tahu pihak kampus bahwa mereka tidak bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, njuk piye?

Oke mari kita lepaskan perdebatan soal diploma-sarjana itu, itu persoalan yang problematis dan butuh waktu membincangkannya.  Kita bisa diskusikan secara lebih “ilmiah-akademis” di lain kesempatan. Saya ingin kembali ke persoalan aksi menginap di Gedung Pusat ini. Ini aksi yang revolusioner dan menggegerkan UGM setelah sekian lama. Pak Mursito, komandan SKKK UGM sayap timur mengatakan kepada saya, “Ini urusan mahasiswa dan pimpinan kampus mas, anak buah saya akan saya tarik dan hanya berjaga-jaga biasa saja”. Benar. Penjagaan SKKK dalam aksi ini tidak lebih banyak dari aksi-aksi sebelumnya di Gedung Pusat.

Pejabat-pejabat kampus yang masih punya nurani seharusnya malu melihat mahasiswa-mahasiswanya mendirikan tenda-tenda dan tidur di halaman Gedung Pusat UGM. Yang menarik, organisasi kemahasiswaan formal di tingkat universitas tidak ikut andil dalam menggalang aksi ini. Demikian juga dengan organisasi mahasiswa ekstra kampus. Aksi ini murni tanpa embel-embel kepentingan politik tertentu kecuali kejelasan status vokasi tadi. Tapi ternyata, tanpa tetek-bengek kepentingan tersebut, solidaritas justru bisa tumbuh secara massif. Dan ini jelas pukulan telak di akhir kepengurusan Rektor UGM saat ini. Kepengurusan yang disambut dengan demonstrasi pada 2007 lalu, dan diakhiri dengan aksi menginap di Gedung Pusat tahun ini. Aksi ini sekaligus menjadi peringatan kepada pemimpin yang bebal dan tidak mau mendengar.

Saya merinding ketika ikut menginap di Gedung Pusat. Bukan karena angin malam. Tapi karena semangat yang terang menyala terlihat di wajah mahasiswa-mahasiswa vokasi. Ini adalah aksi yang merupakan puncak dari perjuangan panjang melakukan negosiasi, menggelar propaganda, menawarkan gagasan yang tidak didengar. Dan semakin merinding ketika mengikuti aksi lanjutan pada hari Rabu (7/12). Jumlah mahasiswa yang datang jauh lebih banyak. Halaman Gedung Pusat penuh orang, hiruk-pikuk. Mereka masih menunggu hasil rapat pleno yang memutuskan nasib mereka ke depan. Rapat pleno yang yang diikuti semua unsur pimpinan fakultas dan universitas akan dilangsungkan Rabu (7/12) malam mulai pukul 19.00 WIB.  Dan saya mengamini ayat yang menyatakan bahwa Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubahnya. Apa yang dilakukan oleh mahasiswa vokasi adalah ikhtiar memperjuangkan hak. Salut. Semoga apa yang mereka lakukan tidak sia-sia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s