Menggugat Penelitian Perguruan Tinggi

DALAM dinamika kehidupan masyarakat modern, perguruan tinggi merupakan salah satu elemen yang menjadi benteng ilmu pengetahuan. Artinya, perguruan tinggi berperan untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat. Peran itu kemudian dimanifestasikan dalam tridarma perguruan tinggi, antara lain penelitian.

Tak mengherankan jika banyak perguruan tinggi beramai-ramai menjadi universitas riset. Cita-cita itu wajar, karena menjadi universitas riset merupakan conditio sine qua non. Apalagi di tengah kemandekan kultur akademik di Indonesia yang kering dari tradisi penelitian. Bahkan kalaupun ada penelitian, tidak bisa sampai ke tahap menggugat narasi besar dan metodologi yang tercantum dalam teks lama.

Dengan menjadi universitas riset diharapkan muncul inovasi baru dari universitas. Sebagaimana diidealkan, riset yang dilakukan dan berdasar realitas sosial akan menjawab karut-marut persoalan yang kini melanda masyarakat. Universitas pun tak hanya menjadi menara gading yang terpisah dari lingkungan.

Kontestasi Ekonomi Politik

Namun ketika melihat kondisi saat ini, barangkali kita harus mengurut dada. Cita-cita menjadi universitas riset masih jauh panggang dari api. Alih-alih melahirkan riset yang dapat menjawab berbagai keresahan di tengah masyarakat, penelitian yang dilakukan malah menjadi arena kontestasi ekonomi politik. Heru Nugroho (2006) menyebut hal itu sebagai arena perebutan kekuasaan. Mengapa?

Sebagaimana dipaparkan Heru, kegiatan penelitian universitas memiliki sisi lain yang memiliki keuntungan ekonomi bagi sang peneliti. Sivitas academika, baik dosen maupun mahasiswa, yang memiliki akses luas ke penelitian akhirnya juga akan memiliki akses ekonomi lebih banyak. Bahkan akses itu kemudian bisa membentuk jejaring patronase yang memiliki keuntungan politik.

Sebagai contoh, keuntungan ekonomi itu diperoleh dari dana penelitian yang diberikan kampus atau lembaga donor. Tak jarang para peneliti lebih sibuk mencari penelitian yang “basah” dengan dana melimpah. Meskipun untuk keperluan itu, integritas sebagai ilmuwan harus mereka korbankan. Penelitian yang dilakukan salah satu perguruan tinggi terbesar di negeri ini menunjukkan hal itu.

Beberapa saat lalu, kita diguncang oleh penelitian mengenai analisis isi terhadap majalah Tempo. Penelitian itu kontroversial karena sang pemberi donor sedang tersangkut kasus pengemplangan pajak terbesar dalam sejarah republik ini. Ironis.

Penelitian yang dilakukan mahasiswa pun sering menunjukkan hal yang sama. Saya tak bermaksud menggeneralisasi. Namun, berdasar pengalaman, mahasiswa sering hanya meneliti sekenanya. Manipulasi data dalam pengumpulan laporan penelitian juga sering dilakukan. Tidak hanya penelitian yang didanai universitas, tetapi juga penelitian semacam Program Kreativitas Mahasiswa yang setiap tahun didanai Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.

Achmad Choirudin (2009) mengemukakan, riset yang dilakukan mahasiswa terkadang bisa membentuk jejaring perkoncoan. Jejaring yang menetap itu mengelompok sendiri untuk bisa mengakses dana penelitian. Bisa kita lihat, mahasiswa yang aktif ikut program penelitian hanya itu-itu saja.

Tidak hanya secara horizontal, Achmad juga menjelaskan jejaring itu bergerak secara vertikal. Dosen yang mendampingi kelompok mahasiswa itu juga dosen yang itu-itu saja. Kondisi itu terjadi karena ikatan emosional sudah terbentuk antara mahasiswa dan dosen. Bukankah itu kemudian akan menutup akses bagi mahasiswa lain?

Peran Negara dan Masyarakat

Melihat kondisi tersebut, tentu bukan saatnya kita menanggapi dengan pesimisme. Justru di titik ini, peran negara dan masyarakat begitu sentral dalam mengawal berbagai penelitian yang dilakukan universitas. Negara memiliki peran penting untuk memberi subsidi (terutama dana) terhadap penelitian yang dilakukan universitas. Jadi universitas tidak lagi hanya mengandalkan dana dari lembaga donor yang terkadang bisa bias kepentingan. Selain itu, negara juga harus mengawal agar riset yang dilakukan universitas memiliki keluaran serta kegunaan jelas, terutama dalam mengembangkan ilmu pengetahuan di Indonesia.

Sementara itu, masyarakat sebagai bagian dari masyarakat madani juga bertanggung jawab untuk terus mengawal agar riset yang dilakukan universitas tetap di jalur yang benar. Apa yang dilakukan warga Kulonprogo barangkali bisa menjadi contoh. Tahun 2009, ribuan warga melakukan aksi demonstrasi di depan universitas yang terlibat penelitian di Kulonprogo. Penelitian itu dianggap bermasalah karena memberikan legitimasi bagi proyek penambangan pasir besi.

Sinergi antara negara, masyarakat, dan universitas memang sudah seharusnya dilakukan. Sebab, berbagai penelitian yang dilakukan toh akhirnya akan kembali ke negara dan masyarakat. Jadi universitas tidak hanya menjadi menara gading yang terpisah dari rakyat Indonesia. Semoga.

(dimuat di Suara Merdeka, 18 September 2010)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s