Membaca Ulang Aksi Mahasiswa

Selain pertikaian elite politik, apa yang tersisa dari kisruh rencana kenaikan harga BBM adalah maraknya demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa. Selama bulan Maret 2012, Mabes Polri mencatat setidaknya ada 1.063 kali unjuk rasa terkait kenaikan harga BBM di berbagai daerah di Indonesia (kompas.com, 2/4).

Kenyataan yang mengganjal dalam sebagian besar demonstrasi tersebut adalah kekerasan yang cenderung digunakan sebagai metode aksi. Ada apa dengan gerakan mahasiswa? Apakah ciri khas intelektualnya sudah menghilang dan berganti dengan pemaksaan kehendak yang berujung kekerasan?

Tidak mudah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Tapi, kita bisa memulainya dengan mengutip apa yang pernah disampaikan oleh Ariel Heryanto. Dalam Perlawanan dalam Kepatuhan (2000), Ariel mengatakan bahwa makna demonstrasi sebenarnya adalah pemberontakan terhadap kekuasaan. Artinya, pemberontakan ini merupakan upaya melakukan komunikasi kepada rezim yang tertutup dan totaliter.

Pernyataan tersebut dikonfirmasi setidaknya dari pengalaman republik di bawah cengkeraman Orde Baru. Ketika itu katup-katup aspirasi tertutup rapat, media dikontrol, kebebasan berpendapat dibatasi dengan ketat. Semua harus patuh atas nama stabilitas pembangunan. Konteks situasi seperti itu yang membuat aksi-aksi demonstrasi mahasiswa dari yang paling halus sampai keras bisa diterima.

Ia memang menjadi satu-satunya cara untuk menyampaikan aspirasi dengan bebas tanpa batasan. Meski memang represi dari rezim begitu kuat. Ini bisa dilihat dari banyaknya aktivis mahasiswa yang dipenjara bahkan diculik dan tidak pernah kembali sampai saat ini. Namun pengorbanan itu tidak sia-sia. Rezim yang sudah berkuasa puluhan tahun akhirnya tumbang secara dramatis.

Persoalannya kemudian muncul ketika mahasiswa menganggap pengalaman tersebut sebagai referensi. Metode gerakan yang sama dilakukan tapi tidak dibarengi dengan refleksi kritis terhadap zaman yang sudah berubah signifikan. Ini yang membuat munculnya disorientasi peran. Simak saja kondisi sekarang. Jarak dengan

Reformasi 1998 sudah mencapai angka 14 tahun namun kegagapan gerakan masih juga belum menemukan solusinya.

Dalam kondisi seperti ini laku refleksi mutlak digelar. Ikhtiar ini merupakan upaya pembacaan terhadap keadaan obyektif di mana saat ini mahasiswa berada. Setelah ini dilakukan, respon dan perumusan metode gerakan ke depan bisa ditentukan,

Budaya Populer

Perkembangan budaya populer yang bersamaan dengan kapitalisme, industrialisasi dan juga konsumerisme harus diakui telah memberikan lingkungan baru bagi mahasiswa. Persenyawaan kebudayaan ini kemudian menimbulkan apa yang disebut Jean Baudrillard (1994) sebagai hiperrealitas.

Baudrillard menjelaskan bahwa hiperrealitas adalah kondisi di mana realitas telah runtuh. Realitas digantikan oleh rekayasa model-model (citraan, halusinasi, simulasi) yang kadang dianggap lebih nyata dari realitas sendiri sehingga batas keduanya menjadi kabur.   Kaburnya batas-batas ini yang membuat pola habitus mahasiswa berubah.

Sebagai bagian dari kelas menengah yang memiliki akses ekonomi luas, apa yang dicari selanjutnya adalah kesenangan dan hiburan. Kedangkalan yang menegasikan kedalaman berpikir jernih dan logis. Penegasian ini terutama menyangkut persoalan-persoalan kemanusiaan yang menyangkut hidup orang banyak. Sebab, hal tersebut dianggap tidak memiliki unsur kesenangan dan hiburan.

Kedangkalan semacam ini kemudian bisa terlihat dalam mentalitas sumbu pendek yang melanda sebagian besar mahasiswa. Tanpa landasan argumentasi yang jelas, mahasiswa melakukan demonstrasi, itupun seringkali berakhir dengan ricuh. Mahasiswa juga seringkali terlibat tawuran dengan sesama mahasiswa sendiri.

Contoh lain misalnya bisa kita lihat dalam era sosial media yang kemudian melahirkan istilah click activism. Pola-pola semacam ini terlihat dari respon atas kondisi sosial politik yang muncul di jejaring sosial media seperti Facebook atauTwitter. Hanya dengan bermodal aktivitas click, banyak mahasiswa yang merasa sudah ikut dalam agenda perubahan sosial. Ini tentu sebuah ironi.

Tepat di titik inilah titik pijak reorientasi gerakan mahasiswa. Mula-mula, ia harus merupakan perjuangan melawan kedangkalan. Meminjam istilah Lenin, tidak ada tindakan revolusioner tanpa teori yang revolusioner. Artinya, gerakan intelektual progresif ini mesti memiliki basis keilmuan dan landasan konseptual yang jelas.

Hal ini diperlukan agar mahasiswa tidak hanya terjebak pada ranah teknis-mekanistis peran, tetapi juga mampu merumuskan solusi atas persoalan dengan konsep yang detail dan sistematis. Apalagi dalam himpitan budaya populer, strategi kebudayaan adalah hal mutlak yang mesti dilakukan. Tradisi kritis dengan rasionalitas argumentasi untuk mengabdi pada ilmu pengetahuan.  Kita bisa belajar dari founding fathers republik untuk melihat hal ini.

Hatta misalnya, menyebut bahwa tradisi keilmuan ini memang sudah seharusnya melekat pada kaum intelegensia. Kita menjadi saksi bahwa kaum intelegensia di awal pembentukan republik memiliki kemampuan bersikap kritis terhadap situasi kehidupan masyarakat kolonial dengan segala sistem diskriminasi serta eksploitasinya. Basis pengetahuan yang luas tidak dapat dipungkiri menjadi fondasi kokoh dalam ikhtiar menjadi Indonesia.

Lantas untuk tidak memisahkan antara teori dan praktik, selanjutnya yang perlu dilakukan adalah turun ke bawah, belajar langsung dari masyarakat. Ini merupakan langkah untuk menumbuhkan kesalehan sosial mahasiswa. Dengan demikian, mahasiswa tidak tercerabut dari basis sosialnya.

Ketika hal itu sudah dilakukan, aksi demonstrasi kemudian tidak akan kehilangan makna reflektifnya. Demonstrasi justru menjadi katarsis untuk meningkatkan “ruang publik politis” ketika saluran itu disumbat rezim. Ia menjadi sarana, bukan tujuan. Dan yang pasti tidak dengan aksi-aksi vandalisme yang justru merugikan masyarakat. Bagaimana, mahasiswa?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s