Keberanian Bernama Suu

Film ini sepenuhnya kisah tentang cinta, keberanian dan dedikasi  untuk demokrasi.

Kabar buruk itu datang dari kampung halaman. Sang ibu sedang tergolek sakit di rumah sakit. Tidak ada pilihan lain, Suu harus segera pulang ke Myanmar. Sampai di bandara, petugas imigrasi menanyainya.

“Sampai kapan berada di Myanmar?”, tanya sang petugas

“Selama yang aku perlukan.” Ungkap Suu, tegas.

Suu langsung beranjak ke rumah sakit. Sementara petugas imigrasi melaporkan jawaban tersebut kepada aparat keamanan. Keluarga Suu memang dalam pengawasan otoritas militer Myanmar. Sebagai keturunan pahlawan kemerdekaan Myanmar, jenderal Aung San, yang populer di mata rakyat, Suu memang dianggap sebagai ancaman kekuasaan. Apalagi, rezim ini memulai kekuasaannya dengan membunuh Aung San.

Adegan ini ada dalam film The Lady (2011) yang dibintangi Michelle Yeoh dan David Thewlis. Film ini berkisah tentang Aung San Suu Kyi, aktivis prodemokrasi Myanmar. Setelah kemerdekaannya, Myanmar jatuh ke dalam junta militer yang memimpin dengan tangan besi. Siapapun yang bersebarangan dihabisi. Keluarga Suu salah satunya. Rezim begitu menaruh perhatian kepada keluarga yang dianggap sebagai lawan politiknya ini.

Karena itu, kedatangan Suu ke Myanmar ini mendapatkan perhatian ekstra. Pengawasan terhadap keluarga Suu diperketat. Rumahnya bahkan diawasi 24 jam oleh aparat. Gerak-gerik mereka dibatasi. Suu sengaja tidak ditangkap karena pemimpin junta militer percaya dengan ucapan dukun pembisiknya. Penangkapan Suu hanya akan membuat radikalisasi gerakan perlawanan rakyat semakin menguat. Karena itu ia dibiarkan kembali ke Myanmar untuk menengok ibunya.

Tak disangka, kepulangan Suu ke tanah kelahirannya ini berbarengan dengan semakin masifnya aksi-aksi demonstrasi menentang kekuasaan militer. Protes merebak di mana-mana, mahasiswa menjadi motor utama penggerak. Kegeraman terhadap rezim memuncak karena otoritarianisme dan totalitarianisme yang kian membabi-buta. Teror puluhan tahun telah membuat rakyat Myanmar begitu menderita. Gelombang protes ini disambut dengan aksi represif.

Puluhan mahasiswa dikejar, diculik, bahkan dibunuh. Salah episode dramatis yang membuat Suu tersentuh ketika militer menyerang mahasiswa di rumah sakit. Di depan matanya mahasiswa ditembak. Inilah titik balik Suu. Ia yang sebelumnya hanya akan di Myanmar sampai ibunya sembuh, akhirnya mengubah keputusannya. Ia akan ikut pemilihan umum yang sebentar lagi dilaksanakan. Demokrasi harus dihadirkan di negeri seribu pagoda.

Niat ini semakin membesar setelah dukungan muncul dari berbagai elemen masyarakat. Akademisi, mahasiswa, pedagang, petani, dan berbagai elemen lain menyampaikan permohonannya agar Suu mau maju dalam pemilihan umum untuk memilih perdana menteri. Niat ini pun didukung oleh Michael Aris, suaminya.

Setelah itu Suu bersama tim suksesnya mendirikan partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD). Mereka masuk ke desa-desa menyambangi masyarakat yang selama ini menjadi korban kebijakan militer. Sebagai anak pejuang kemerdekaan Myanmar, Suu mendapatkan dukungan yang luas dari rakyat yang memang sudah merindukan perubahan.

Bukti dukungan ini terlihat dari satu juta orang yang hadir dalam demonstrasi damai menuntut pemilu yang bersih. Suu membacakan pidato yang menantang rezim dalam demonstrasi ini. “The democracy process provides for political and social change without violence,” kata Suu.

Setelah pidato ini, banyak pendukung Suu yang disiksa dan dipenjara. Akademisi dari Universitas Yangoon yang mendukungnya dijebloskan ke dalam sel. Mahasiswa-mahasiswa simpatisannya diculik. Tapi Suu bersama tim suksesnya yang masih tersisa tetap bergerak. Hari pemilu telah tiba. Mengagetkan. Sang Anggrek Baja memenangi pertarungan dengan mutlak. Ia mendapatkan 392 suara. Sementara calon dari militer hanya 10 suara. Myanmar bersiap menyambut pemimpin barunya.

Tapi rupanya pemilu ini tak lebih dari akal-akalan junta militer. Kemenangan Suu diabaikan. Semua orang yang terlibat kemenangannya kembali ditangkapi. Aksi represif berlangsung dengan keras. Suu dikenakan tahanan rumah. Dia tidak boleh berhubungan dengan siapapun.

Sementara itu sang suami yang dicekal oleh otoritas Myanmar tidak diperkenankan masuk ke negeri itu. Ia dengan berbagai cara mengusahakan agar Myanmar mendapat tekanan internasional. Berbagai cara ia lakukan. Salah satunya dengan meminta bantuan profesor di Universitas Oxford agar mengusulkan Suu sebagai peraih Nobel Perdamaian.

Ikhtiar itu terbayar dengan lunas. Suu meraih Nobel Perdamaian tahun 1991. Dalam malam penghargaan, Alexander anak pertama Suu, membacakan pidato yang mengharukan.  Setelah itu, tekanan dari berbagai negara kepada Myanmar semakin menguat. Negeri itu dijatuhi embargo ekonomi. Namun, junta militer ternyata tetap keras kepala. Tekanan fisik dan psikologis diberikan kepada kaum oposan. Suu tetap ditahan, Aris tidak boleh masuk Myanmar, dan demokrasi tetap menjadi impian terlarang.

Dalam satu adegan, junta militer menawari akan membebaskan Suu dari tahanan rumah. Syaratnya satu, Suu harus mau kembali ke Inggris. Di saat yang sama, Aris divonis terkena kanker prostat. Hidupnya sudah tidak lama lagi. Dengan sulitnya akses komunikasi Suu sempat bimbang. Ia harus memilih. Pulang ke Inggris sama saja dengan membiarkan perjuangannya selama ini sia-sia.

Namun, bertahan di Myanmar berarti membiarkan sang suami berjuang dengan sakitnya. Ia juga kehilangan kesempatan untuk melihat dua anaknya, Kim dan Alexander, tumbuh besar. Film ini jika diperhatikan lebih detail memang lebih banyak mengupas pergolakan batin seorang Suu. Ia terjebak di antara negara dan keluarga. Jika ingin mengajukan kritik, barangkali di sinilah letaknya.

Perkembangan Suu tidak ditampilkan dengan detail terutama mengenai perjuangannya belajar politik di Universitas Oxford. Bisa dibilang, film ini menampilkan Suu sebagai sosok yang populer sebagai pemimpin gerakan oposisi hanya karena ia anak salah seorang founding fathers Myanmar. Padahal, kedewasaan dan kemampuan berpolitik Suu ditempa keras selama ia belajar di London.

Terlepas dari kekurangan tersebut, film ini adalah sepenuhnya kisah tentang cinta, keberanian dan dedikasi  untuk demokrasi. Suu adalah sosok yang dengan gagah berani memperjuangkan kebebasan untuk semua orang, freedom of fear. Demokrasi adalah semangat menempatkan kemanusiaan dalam kesetaraan.

Sayangnya manusia modern masih juga menunjukkan paradoksnya : hiruk pikuk dengan kebebasan berekspresi tetapi penuh dengan persoalan kemanusiaan. Kemajuan peradaban membawa manusia merasakan berbagai kesejahteraan dan kenikmatan. Berbagai pendapat dan gagasan memiliki ruang. Namun pada saat yang sama, gerak peradaban membawa ketidakadilan.

Barangkali ini yang menjelaskan mengapa Myanmar dan China melarang film ini diputar di negerinya. Dua negeri yang terkenal buruk soal penegakan hak asasi manusia. Namun angin kebebasan adalah sebuah keniscayaan. Kemenangan Suu di pemilu sela Myanmar tahun 2012 ini bisa menjadi ikhtiar untuk mewujudkan demokrasi di negeri tersebut. Ikhtiar panjang yang tak kenal lelah dan penuh pengorbanan. Siapapun yang mencintai kebebasan dan menginginkan kesetaraan, layak untuk menonton film ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s