Kampus dan Solidaritas Sosial

SELALU ada berkah di balik musibah. Bencana alam yang akhir-akhir ini rutin “menyapa” negeri ini memang telah merenggut banyak hal. Banyak nyawa manusia jadi korban, hewan ternak mati sia-sia, kerugian materi tak terhitung, sampai trauma yang membekas, terutama bagi para korban.

Namun di balik itu semua, bencana telah menunjukkan solidaritas sosial masyarakat Indonesia masih cukup tinggi. Kampus menjadi salah satu elemen yang ambil bagian dalam solidaritas sosial itu. Solidaritas yang muncul di tengah defisit keteladanan dari para pemimpin negeri ini.

Dalam bencana erupsi Merapi yang merenggut ratusan nyawa dan menyebabkan puluhan desa hancur, beberapa kampus di Yogyakarta sukarela menyediakan tempat pengungsian. Kampus juga meliburkan perkuliahan supaya mahasiswa bisa berkonsentrasi menjadi relawan dan membantu pengungsi.

Apa yang dilakukan kampus itu setidaknya bisa mementahkan kritik yang muncul selama ini. Kritik yang menyatakan kampus hanya jadi menara gading. Dalam bahasa sederhana, mampu menghasilkan teori besar, tetapi tidak relevan dengan masyarakat. Itu menyebabkan jarak yang lebar antara kampus dan masyarakat.

Relasi Baru

Dalam konteks pengalaman bencana, solidaritas sosial kampus membuka keterciptaan relasi baru dengan masyarakat. Jarak antara kampus dan masyarakat yang sebelumnya dipisahkan jurang lebar, kini pelan-pelan mendekat. Kampus membuka ruang privat sebagai “rumah ilmu pengetahuan modern” yang angkuh dan kemudian menyatu dalam masyarakat. Hannah Arendt dalam The Human Condition menyatakan pelepasan belenggu atas ruang privat itulah yang memunculkan solidaritas sosial.

Sebagaimana dijelaskan Arendt, solidaritas sosial adalah tindakan partisipatif. Setiap elemen merevelasikan diri dengan turut memperhatikan para korban bencana. Upaya yang tentu dilakukan dengan langkah berbeda-beda. Dengan tanggung jawab sosial yang dimiliki, kampus menunjukkan cara tersendiri. Setidaknya ada beragam cara dilakukan kampus dalam mengekspresikan solidaritas sosial, antara lain ketika bencana terjadi, rekonstruksi pascabencana, dan pendidikan bencana.

Ketika bencana terjadi, kampus bisa menyediakan tempat pengungsian bagi korban bencana. Dalam tempat pengungsian di kampus, mahasiswa menjadi relawan dan membantu pengungsi mencukupi kebutuhan. Mahasiswa juga membuka posko untuk menggalang bantuan bagi pengungsi.

Selain itu, beberapa kampus bahkan membuka program kuliah kerja nyata (KKN) bencana untuk merespons bencana yang terjadi. Program KKN dilakukan agar bantuan ke pengungsi lebih terarah dan sistematis. Bantuan itu tak hanya berupa aksi cepat tanggap seperti proses evakuasi pengungsi, tetapi juga usaha rekonstruksi pascabencana.

Rekonstruksi bisa berupa perbaikan rumah yang rusak atau proses trauma healing. Trauma healing terutama difokuskan ke anak-anak yang rentan terkena dampak psikologis bencana. Jika tak disembuhkan, rasa traumatik anak terkadang lebih berbahaya daripada bencana itu sendiri.

Upaya rekonstruksi pascabenca menjadi penting karena biasanya bantuan pada korban hanya difokuskan pada awal bencana. Karena hanya fokus pada awal, korban ditinggalkan begitu saja. Itu bisa dilihat dari bencana tsunami Aceh akhir tahun 2004. Kala itu, bantuan begitu menumpuk pada bulan-bulan awal. Namun begitu upaya rekonstruksi memasuki hitungan tahun, masyarakat ditinggalkan. Karena itu tak heran jika banyak bantuan diselewengkan untuk kepentingan sendiri, alih-alih disalurkan ke masyarakat.

Ke depan, solidaritas sosial kampus juga bisa ditunjukkan dengan melakukan pendidikan bencana ke masyarakat. Sebab, pendidikan bencana di Indonesia sangat minim. Kondisi itu membuat masyarakat yang belum pernah punya pengalaman menjadi tidak peka bencana. Karena itu ketika timbul bencana, masyarakat panik dan mudah frustrasi.

Padahal, jika pendidikan bencana dilakukan dengan cukup, kerugian dan kepanikan korban yang tak perlu bisa diminimalikan.

Apa yang dilakukan kampus-kampus di Jepang barangkali bisa jadi contoh. Seperti Indonesia, Jepang merupakan negeri yang rawan bencana alam seperti gempa bumi. Namun di Negeri Matahari Terbit, kampus melakukan penelitian mengenai kebencanaan secara komprehensif. Hasil penelitian itu dimanfaatkan oleh pemerintah dan masyarakat dalam memahami bencana alam. Hasilnya, korban bencana alam di Jepang setiap tahun menurun.

Belajar dari pengalaman Jepang, solidaritas sosial kampus saat bencana ini patut kita pandang secara optimistis. Setidaknya itu menunjukkan kampus belum tercerabut dari masyarakat sebagai basis awal. Selain itu juga menunjukkan betapa kampus memiliki fungsi strategis ketika bencana alam terjadi. Kini, tinggal menunggu bagaimana konsistensi kampus dalam membantu masyarakat dan mengawal penangana pasca bencana sampai tuntas.

(dimuat di Suara Merdeka, 17 November 2010)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s