Catatan dari Buton-2 : (Tidak) Takut Laut

Laporan Rencana Kegiatan (LRK) belum selesai dibuat ketika kami memutuskan ke Pantai Laompo, Jum’at (15/7). LRK ini adalah laporan yang harus dikirimkan ke kampus maksimal dua minggu setelah mahasiswa menginjakkan kaki di lokasi KKN. Isinya, identifikasi berbagai permasalahan masyarakat serta upaya untuk memecahkan persoalan-persoalan tersebut. Upaya tersebut diwujudkan dalam bentuk rencana program yang akan kami jalankan. Apa bentuk programnya, berapa anggaran dananya, bagaimana cara pelaksanaanya, serta beberapa hal lain harus dituliskan dengan detail.

LRK ini bisa ditulis setelah mahasiswa KKN melakukan survei langsung ke masyarakat. Survei ini sekaligus memastikan program yang diajukan mahasiswa sejak dari kampus cocok dengan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Dalam seminggu pertama di Buton, kami melakukan itu. Menemui warga dari rumah ke rumah, mewawancarai kepala-kepala lingkungan, menghadiri kegiatan kemasyarakatan, dan beberapa hal lainnya. Dari hasil survei inilah terungkap beberapa persoalan yang dialami oleh masyarakat di Kelurahan Busoa, Kecamatan Batauga.

Salah satunya, mengenai rumput laut. Lebih dari dua puluh persen penduduk Busoa ini berprofesi sebagai petani rumput laut. Namun, pengolahan rumput laut belum dilakukan dengan maksimal. Dengan jumlahnya yang melimpah, warga hanya menjual rumput laut mentah dan belum diolah. Per kilogram harganya bisa mencapai Rp 10.000,- Tapi ini pun bukan angka yang tetap. “Harga bisa dipermainkan oleh tengkulak dengan seenaknya, mas. Kadang bisa jauh lebih murah dari itu”, ujar La Ode Herman.

Kepala lingkungan Batauga Selatan ini juga menambahkan bahwa dalam sehari harga bisa berubah sampai tiga kali. Warga pun pasrah dengan tetap menjualnya kepada tengkulak karena kesulitan untuk menjualnya sendiri.Kesulitan ini masih ditambah dengan penyakit ice-ice yang melanda rumput laut. Penyakit ini datang pada bulan September setiap tahun. Ciri-ciri penyakit ini adalah bintik-bintik putih yang menempel pada rumput laut. Setelah beberapa saat, bintik-bintik putih ini akan menyebar dan mematikan rumput laut. Kerugian warga menjadi berlipat.

Masalah yang hampir serupa juga melanda tanaman jambu mete milik warga. Sebagaimana diketahui, Sulawesi Tenggara menyuplai  35 % produksi jambu mete di Indonesia. Tak mengherankan jika pohon jambu mete begitu melimpah di Buton. Tapi potensi alam ini juga belum bisa dimaksimalkan oleh warga. Sampai sejauh ini jambu mete hanya diambil bijinya saja dan buahnya dibuang. Mete ini dijual mentahan, tidak diolah terlebih dahulu. Harga per kilo mete yang kulitnya masih utuh sekitar Rp 6.000,-

Harga ini juga bisa anjlok sewaktu-waktu karena dipermainkan para tengkulak. Padahal jika diolah lebih lanjut, pengelolaan jambu mete bisa memperbaiki taraf perekonomian warga. Harga per kilo mete yang kulitnya sudah dipecah bisa mencapai Rp 60.000,- Sayangnya sudah dua tahun belakangan ini pohon jambu mete tidak berbuah. Perubahan cuaca yang tidak menentu menjadi penyebabnya. Musim hujan dan musim kemarau tidak datang rutin seperti dulu.

Kondisi ini diperparah dengan minimnya penerangan jalan di malam hari. Sepanjang jalan Gadjah Mada yang menjadi jalan utama di kecamatan ini praktis tidak ada lampu di pinggir jalan. Penerangan jalan hanya berasal dari lampu-lampu yang dipasang di teras rumah warga. Bisa dibayangkan bagaimana gelapnya jalan ketika malam hari. Akibatnya, aktivitas perekonomian warga pun terhambat. Berbagai kegiatan yang dilakukan di siang hari harus dihentikan ketika matahari mulai tenggelam.

Beberapa persoalan tersebutlah yang menjadi pertimbangan bagi tim kami dalam membuat LRK. Namun sebelum berkutat dengan detail program untuk LRK, saya, Irwan, Mas Angga dan Ajud memutuskan untuk pergi ke Pantai Laompo. Sekadar melepas penat.

***

Saya, Ajud, dan Irwan naik sampan yang kami pinjam dari warga. Ajud berada di depan dan Irwan di belakang. Saya sendiri – yang tidak bisa berenang – berada di tengah sambil memegang dayung. Sementara mas Angga memilih untuk berada di tepi pantai menjaga tas dan baju ganti sambil merekam tingkah polah kami menggunakan handycam yang ia bawa. Kami berencana menyeberang ke Pulau Siompu, pulau yang persis terletak di seberang Batauga ini. Pada awalnya rencana penyeberangan berjalan baik-baik saja. Angin berhembus sepoi-sepoi, ombak tidak terlalu kencang.  Kami beberapa kali melambaikan tangan ke arah mas Angga yang masih merekam.

Kira-kira seratus meter dari tepi pantai, Ajud berdiri dan merentangkan kedua tangannya. Sepertinya terobsesi adegan Jack yang memeluk Rose dalam film Titanic sambil berteriak, “I’m King of The World!” Adegan itu tiba-tiba hilang dalam benak saya. Sampan tenggelam. Ajud terjatuh sementara saya masih dalam posisi duduk dengan kedua tangan memegang tepi sampan. Air sudah memenuhi sampan. Saya berteriak. Irwan meloncat ke dalam air. Kepanikan serta merta menyergap. Ketakutan yang tak akan pernah bisa terkatakan. Saya masih duduk di dalam sampan yang sudah penuh dengan air. Sampan tetap mengambang karena ada pengaman di kanan-kirinya.

Ajud menyuruh saya turun dari sampan. Saya mengikuti perintah tersebut. Tangan masih memegang erat pada sampan. Selanjutnya, hampir setengah jam kami terombang-ambing di tengah laut sambil merencanakan apa yang harus kami lakukan. Tidak ada bantuan. Karena tidak bisa berenang saya sendiri terus memegang sampan. Dalam hati saya berdoa, tentu saja. Setengah jam tidak ada pertolongan, Ajud memutuskan untuk berenang ke tepi sambil membawa jerigen. Tinggal saya dan Irwan yang masih berpegangan pada sampan.

Saya kemudian teringat film Adrift yang pernah saya saksikan bersama anak-anak Balairung di B-21. Film ini berkisah tentang 6 orang sahabat yang menggunakan kapal pesiar untuk berlayar. Sampai di tengah laut, semuanya memutuskan untuk berenang. Tangga yang biasa digunakan untuk naik ke kapal lupa dibuka. Mereka tidak bisa naik kapal lagi. Hampir selama dua jam film ini berkisah tentang usaha 6 orang ini untuk bisa naik ke atas kapal lagi. Ending film ini, hanya satu orang yang selamat. Dan ketakutan masih menyergap saya.

Irwan memiliki ide untuk menguras air yang memenuhi sampan. Siapa tahu nanti posisi sampan bisa dikembalikan. Ia akan naik ke atas sampan. Posisinya membelakangi saya. Ketika ia naik, sampan justru semakin tenggelam semakin dalam. Saya yang masih berpegangan juga ikut tenggelam. Kepala saya masuk ke dalam air. 10-15 detik. Dunia seolah berhenti. Doa, ketakutan, harapan, dan entah apa lagi tiba-tiba memenuhi pikiran. Saya teringat banyak orang. Sebentar lagi nama saya hanya akan tinggal kenangan. 22 tahun. Bukan akhir seperti ini yang saya harapkan. Ampuni hamba Ya Allah.

Tidak ada teriakan. Saya diam dan memejamkan mata. Tangan saya masih memegang sampan. Tidak akan saya lepaskan. Masih ada sedikit keyakinan bahwa sampan akan kembali mengambang. Dan benar. Kepala saya akhirnya terangkat ke atas permukaan air. Saya berteriak, “Irwan!!!” Irwan kemudian menolong saya dan berpegangan di kayu pengaman sampan. Ajud belum juga kembali dengan membawa pertolongan. Saya harus tenang. Lebih dari sepuluh menit kami menunggu. Akhirnya ada nelayan yang datang dan memberikan pertolongan. Ajud juga kembali dengan meminta bantuan nelayan yang berada di tepi pantai. Alhamdulillah. Saya kedinginan.

Di tepi pantai, mas Angga terlihat marah. Demikian juga dengan Doni dan Hanifah yang menyusul datang ke pantai. Ada penyesalan mendalam karena insiden yang konyol ini. Semua sudah digariskan. Tapi, saya tidak akan pernah takut kepada laut. Bahkan setelah peristiwa hari ini. Maaf untuk semuanya.  Akhirnya kami memutuskan untuk berjalan kaki sampai di pasar Lakambau. Membeli air minum dan pisang goreng. Terombang-ambing di laut sungguh membuat perut terasa lapar.

***

“Terima kasih kepada Bapak Gubernur Sulawesi Tenggara dan Bupati Buton yang telah mengaspal jalan kami secara bertahap”. Tulisan ini terpampang dalam baliho yang terdapat di depan pasar Lakambau. Pasar pusat di Kecamatan Batauga dan terletak berhadap-hadapan dengan pantai Laompo. Kalau dilihat dari bentuknya yang masih relatif bagus, baliho tersebut belum terlalu lama dipasang. Mungkin sekitar satu-dua bulan. Diletakkan di lokasi yang strategis, hampir setiap orang yang melintas langsung bisa melihatnya. Pemasangan baliho tersebut menjelaskan sebuah ironi.

Kenyataannya, kondisi di jalan utama yang menghubungkan kecamatan Batauga dengan kota Baubau cukup memprihatinkan. Lebar jalan sekitar 3-4 meter dengan banyak lubang di sana-sini. Permukaannya tidak rata. Tidak ada pembatas jalan. Kurangnya rambu-rambu lalu lintas. Keadaan ini membuat ketika malam hari, kondisi semakin berbahaya karena penerangan jalan praktis tidak ada. Seorang ibu yang kebetulan satu angkot dengan saya dalam perjalanan ke kota mengeluhkan kondisi ini. “Buton itu penghasil aspal terbesar di Indonesia tapi kondisi jalan seperti ini, tidak seperti di Jawa, dimaklumi saja mas”.

(bersambung)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s