Catatan dari Buton-1

Image

Belum juga kapal bersandar di dermaga, ribuan penumpang sudah berdesakan memenuhi tiga pintu keluar yang disediakan. Tua muda, laki-laki perempuan, ibu-ibu yang menggendong anak, sampai orang-orang tua yang sudah renta seolah berlomba untuk pertama kali menginjakkan kaki di pelabuhan. Sementara itu, kuli-kuli barang sudah bersiap siaga di pelabuhan untuk mencari sebongkah rezeki yang menanti mereka dari penumpang di atas kapal. Sebagian bertugas untuk mengambil barang dari atas kapal, sementara yang lain bersiap di pelabuhan dengan menggunakan gerobak kecil untuk mengangkut barang-barang.

Tepat pukul 18.00 WITA, 4 Juli 2011, kapal Lambelu akhirnya merapat di pelabuhan Baubau, Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Perjalanan melelahkan selama dua hari tiga malam yang dimulai sejak hari Sabtu 2 Juli 2011 dari pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya pun usai sudah. Disambut dengan terbenamnya matahari di sebuah senja yang mengesankan, kerja-kerja pengabdian masyarakat di daerah Indonesia Timur ini akan segera dimulai. Perjuangan yang cukup keras untuk membawa turun barang-barang dari kapal ke pelabuhan pun seperti menandakan bahwa kerja pengabdian ini bukanlah kerja yang main-main. Ia harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab dan kerja keras.

Sebelum melanjutkan perjalanan menuju daerah yang akan ditinggali selama Juli-Agustus 2011 ini, kami makan dulu di warung nasi padang. Letaknya tidak terlalu jauh dari pelabuhan. Harga untuk sepiring nasi ayam adalah 30 ribu rupiah. Tiga kali lipat bila dibandingkan dengan harga di Jogja. Setelah itu, lima mobil yang menjemput langsung mengantarkan kami ke kecamatan Batauga, sekitar satu jam perjalanan dari kota Baubau. Untuk mencapai tempat ini kami harus melewati bukit karena letaknya yang memang berada di daerah atas.

Tidak banyak yang bisa disaksikan selama perjalanan menuju Batauga. Lampu penerangan jalan yang minim membuat kami hanya bisa melihat sedikit pepohonan yang ada di kanan-kiri jalan. Ditambah dengan jalanan yang tidak rata, sebagian besar dari kami memutuskan untuk memejamkan mata. Melepas lelah barang sejenak setelah terombang-ambing di lautan. Akhirnya pada pukul 21.30 WITA kami sampai di desa Laompo. Sebenarnya tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) kami akan disambut oleh kepala kecamatan Batauga. Kepala-kepala desa pun sudah diinstruksikan untuk menyambut kedatangan kami. Di rumah pak camat, beberapa kepala desa sudah berkumpul sejak lepas magrib.

Namun kami datang terlambat, keterlambatan ini dimulai sejak dari kapal yang terlambat berlabuh hampir sepuluh jam. Kepala-kepala desa memutuskan untuk pulang dan menyambut keesokan harinya. Karena merasa tidak enak, malam itu juga kami memutuskan datang ke rumah Pak Camat, La Ode Sadikin, untuk meminta maaf. Dengan mimik wajah yang sepertinya sedikit mangkel, Pak Camat menyambut kami sekaligus menitipkan pesan. “Selain menyelami pikiran-pikiran warga di daerah ini yang selanjutnya berperan dalam proses pemberdayaan masyarakat, etika kebhinekaan tetap harus kalian jaga”, ujarnya. Malam itu kami menginap di rumah kawan Irwan, koordinator unit KKN ini.

***

Pagi seolah berjalan sangat lambat di daerah ini. Hembusan angin yang cukup kencang disertai suara deburan ombak pantai Laompo cukup untuk membuat kami meringkuk di tempat tidur. Dan yang pasti, membuat kami juga sedikit enggan untuk memulai aktivitas pada hari kedua di pulau ini. Pagi itu, kami akan memulai agenda pertama yaitu bertemu dengan kepala kecamatan serta kepala desa di Batauga. Semacam acara penyambutan formal kepada kami, mahasiswa-mahasiswa yang akan tinggal selama kurang lebih dua bulan di daerah ini.

Sore harinya, kami bertemu dengan Bupati Buton yang sedang menghadiri acara pelantikan pejabat struktural di Batauga. Acara pelantikan yang seperti biasa berjalan seperti di banyak tempat di Indonesia, membosankan. Dalam pidato di acara pelantikan tersebut, Bupati berbicara mengenai pemilukada yang sebentar lagi akan berlangsung. Ada sedikit tendensi politik dalam ungkapan-ungkapannya. Tentu saja ungkapan yang wajar disampaikan oleh seorang politisi menjelang pemilu. Ah, saya baru sadar bahwa KKN ini akan berbarengan dengan pemilihan Bupati Buton yang akan dilaksanakan pada tanggal 4Agustus 2011.

Pantas saja di sana-sini bertebaran baliho-baliho kampanye. Gambar-gambar calon bupati diselingi dengan kalimat-kalimat yang berisi ajakan kepada warga untuk memilih. Janji-janji surga bisa dilihat dari baliho tersebut. Ada yang akan menggratiskan biaya kesehatan, memberikan modal untuk usaha masyarakat, ada juga yang berjanji akan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Intinya, kecap nomor satu. Janji-janji ditebarkan dengan ringan. Mengenai realisasi, itu urusan nanti. Jujur saja ini membuat saya eneg. Politik pencitraan nampaknya masih akan bertahan cukup lama di republik ini. Tidak hanya di level elite politik nasional, tetapi juga di level elite politik daerah. Citra di atas segala-galanya, bahkan di atas rakyat. Akhirnya, rakyat tidak lebih hanya dianggap sebagai angka-angka statistik yang berfungsi ketika pemilihan umum saja.

Oh iya, di kecamatan Batauga ini, kelompok KKN kami dibagi ke dalam tiga subunit. Subunit 1 yang terdiri dari delapan orang akan tinggal di desa Lawela.  Sembilan orang subunit 2 tinggal di kelurahan Busoa, dan delapan orang subunit 3 tinggal di desa Laompo. Laompo dan Busoa merupakan daerah yang terletak di pesisir pantai, sementara Lawela dikelilingi oleh perkebunan. Ketiga desa ini dihubungkan oleh jalan aspal yang kondisinya sudah cukup memprihatinkan. Jalan tidak rata, banyak lubang di sana-sini. Lampu penerangan jalan pun minim. Sebagian besar warga menghentikan aktivitas di luar rumah ketika malam sudah menjelang. Jalanan pun menjadi lengang. Angkutan umum yang menjadi alat transportasi antardesa sudah berhenti beroperasi sejak pukul 15.00 WITA.

Dari desa-desa tersebut, ada beberapa hal yang dapat dijadikan catatan. Laompo menjadi desa yang paling strategis. Barangkali karena ini merupakan ibukota kecamatan. Hampir semua kantor cabang pemerintahan berada di desa ini. Di sebelah timur jalan, terdapat pantai Laompo yang menggoda mata untuk melihat ke arahnya. Ombaknya yang tenang dengan tepi pantai yang cukup bersih sering membuat pantai ini ramai dikunjungi oleh warga. Setidaknya oleh anak-anak muda yang berpacaran. Ada juga pasar Laompo yang menjadi tempat penampungan ikan dari laut. Hanya dengan bermodal lima ribu rupiah, anda bisa membeli seratus ekor Ikan Anggora yang besarnya seukuran telapak tangan manusia. Ikan jenis ini adalah salah satu ikan yang enak untuk dijadikan lauk.

Di Busoa, kondisi pantai Bandar Batauga bisa dikatakan cukup memprihatinkan. Penambangan pasir liar sudah berlangsung cukup lama di daerah ini. “Kegiatan ini sudah berlangsung sejak tahun 1970-an, mas”, ujar salah seorang warga. Penambang pasir menggunakan bom untuk menghancurkan lapisan tanah yang tertutup karang sehingga bisa mengeruk pasir dengan leluasa. Banyak lubang-lubang bekas pengeboman yang dilakukan para penambang pasir itu. Pasir-pasir dari pantai ini sendiri dibawa ke Baubau.

Di desa ini terdapat Madrasah Tsanawiyah Busoa yang baru berdiri selama tiga semester. Meskipun sudah mendapatkan izin dari Departemen Agama, muridnya baru enam belas orang. Delapan orang kelas 1, delapan orang kelas 2. Bangunan sekolahnya dibuat dari papan yang terdiri dari tiga ruang kelas. Di dalamnya hanya ada empat meja dan delapan kursi kayu.  Lantainya sendiri masih berupa tanah liat dengan kerikil-kerikil sekepalan tangan manusia. Belum ada pengajar tetap di sekolah ini. La Faizu, Kepala Sekolah Mts Busoa, meminta bantuan sementara kepada guru-guru di SMP 1 Batauga untuk mengajar di sekolah ini. SMP 1 Batauga adalah SMP terbesar di kecamatan ini.

Dalam pembukaan Masa Orientasi Siswa Baru (MOS) 2011/2012 yang dimulai 7 Juli 2011 lalu, La Faizu berkali-kali mengatakan kepada siswa baru untuk tidak putus asa. “Meskipun berada di sekolah kecil, kalian harus tetap rajin belajar supaya nanti bisa jadi bos di Jakarta”, ungkapnya. La Faizu sendiri sedang mengusahakan beasiswa Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk seluruh muridnya. Bapak tiga anak ini ingin membuat siswa-siswa miskin mampu mengakses pendidikan dengan layak. Karena itu ia mendirikan MTs ini yang ditujukan untuk siswa-siswa miskin yang tidak tertampung di sekolah besar.

Sementara itu di Lawela, sebelah utara Busoa, kondisi yang cukup ironis juga terjadi. Tidak mudah menemukan air bersih di desa ini. Warga harus mengambil air di beberapa sumber air bersama yang jumlahnya terbatas. Penggunaan air harus diirit-irit, warga biasanya menyimpan air di dalam jerigen. Di masjid Lawela, sekadar air untuk berwudhu pun tidak ada. Padahal dalam jarak kurang dari 5 kilometer dari desa ini, terdapat sumber mata air yang cukup melimpah. Sungai Kabura-Burana. Ini adalah sebuah sungai yang indah. Airnya masih jernih dengan batuan kapur yang menjadi dasarnya. Bentuknya mirip terasering, berundak-undak. Upaya untuk mengalirkan air dari sungai ini ke Lawela bukan tidak ada. Beberapa kali sudah dicoba cara-cara untuk mengalirkan air ke atas. Namun tetap saja gagal.  Bahkan sampai saat ini.

***

Tuli-tuli dan pisang goreng sudah siap di atas meja makan. Tuli-tuli yang dibuat dari ubi kayu ini adalah salah satu makanan khas Batauga. Bentuknya dibuat menyerupai angka delapan. Dimakan dengan sambel, ia menjadi cemilan yang kami makan sebelum memulai aktivitas seharian. Dalam satu setengah bulan ke depan, sepertinya tuli-tuli akan menjadi teman yang setia di pagi hari.

(bersambung)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s