Avontur-4 : Medan yang Menipu

Berangkat dari Makassar hujan, mendarat di Surabaya hujan, dan sampai di Medan pun hujan. Ini kedatangan kedua kalinya di kota ini. Tahun 2006, saya sempat singgah sebentar ketika dalam perjalanan menuju Aceh. Tapi hanya transit di bandara Polonia. Jadi saya anggap ini pengalaman pertama ke Medan. Pengalaman pertama yang disambut hujan deras. Beruntung, hujan malam itu hanya berusia singkat, dan kemudian reda.

Setelah menunggu kurang lebih setengah jam, Upa datang menjemput. Kami menuju ke kampus USU. Badan sebenarnya sudah pating nggreges, kedinginan dan kelelahan. Tapi perjalanan dari bandara menuju USU memberikan kesan awal yang menarik tentang kota ini. Saya tidak menemukan kemacetan di sepanjang jalan Monginsidi, Jamin Ginting, dan Dr. Mansyur di kawasan USU. Jalanan yang tidak terlalu lebar dengan median di tengahnya, lampu kota remang-remang, kendaraan sedikit, dan hawa dingin yang menyergap badan.

Ini tidak seperti Medan yang sering diceritakan teman-teman. Katanya, Medan itu panas, macet, sumpek, angkutan yang tidak teratur, pengendara yang seenaknya sendiri. Karena keheranan dan tidak sesuai bayangan awal, saya tanyakan itu ke Upa. Dia menjawab, “ah, kamu cuma belum melihat Medan yang sebenarnya.” Mungkin juga. Kesan pertama memang selalu menggoda, tapi bisa juga menipu.

Setelah wawancara dengan beberapa alumni dan pengurus Suara USU seperti Bang Yul, Bang Vinsen, Hanan, Anas, Yassir, Januar dan yang lain, kepala terasa penat. Sudah sampai di Medan, mau tidak mau harus menyempatkan diri mengunjungi beberapa lokasi yang menjadi trademark kota ini. Pertama saya ke Masjid Raya dan Istana Maimun.

Untuk menuju dua lokasi ini, saya naik angkot dari depan kampus USU. Ongkosnya cuma tiga ribu rupiah. Cukup murah. Jauh lebih murah bila dibandingkan dengan pengalaman yang didapatkan ketika naik angkot. Bayangkan saja, lampu merah diterabas. Klakson berungkali berbunyi. Umpatan dan makian dalam logat Medan. Nyalip lewat kiri. Dan ini terjadi jam sembilan pagi. Setidaknya angkot ini berhasil mendekatkan penumpangnya kepada Tuhan.

Lebih dari dua kali saya melihat angkot yang hampir menabrak motor, motor yang tiba-tiba nyelonongmenyeberang jalan tanpa menengok kanan kiri, becak motor yang enggan berhenti di belakang marka jalan ketika lampus merah, dan klakson yang tak kunjung diam. Kalau anda punya penyakit jantung, saya sarankan untuk tidak terlalu sering berada di jalanan Medan. Dan jalanan kota ini membuatnya sama angkuh seperti Jakarta, Makassar, Surabaya, dan Denpasar. Jalanan yang tidak manusiawi. Atau memang tidak ada jalanan yang manusiawi dan ramah kepada orang-orang?

Sampai di Masjid Raya, saya merasakan deja vu. Masjid ini arsitekturnya hampir mirip dengan Masjid Baiturrahman di Aceh dengan kubah berwarna hitam. Masjid yang bernama Al-Mashun ini didirikan oleh Sultan Ma’moen Al Rasyid pada tahun 1906. Berarti kini usianya sudah lebih dari seratus tahun. Ornamen di dalamnya menyerupai tapal kuda. Melengkung setengah lingkaran dengan menghubungkan tiang satu ke tiang yang lain. Mirip dengan Masjid Raya Bau-Bau di Pulau Buton.

Kalau saya tidak salah, ornamen semacam ini pada awalnya muncul di Andalusia. Tepatnya di Mezquita de Cordoba, masjid yang kini menjadi gereja. Di samping masjid ada makam keluarga kesultanan Deli. Sultan Ma’moen tidak hanya meninggalkan jejak dalam bentuk mesjid. Tidak jauh dari situ, ada Istana Maimoen yang menjadi langganan para backpacker dan traveller. Letaknya persis di depan perpustakaan daerah Sumatera Utara. Ehm, ngomong-ngomong, sebenarnya saya baru mendengar nama istana ini ketika sudah berada di Medan.

Istana ini cukup menarik. Letaknya tepat di pusat kerajaan Deli yang sekarang berada di Jalan Brigjen Katamso. Dari depan bentuknya kelihatan jelas, warnanya kuning mentereng. Istana ini terdiri dari dua lantai dengan tiga ruang yaitu ruang utama, sayap kanan, dan sayap kiri. Ada 40 kamar di dalamnya. 20 kamar di lantai atas, tahta Sultan dan 20 kamar di bawahnya, tidak termasuk 4 kamar mandi, gudang, dapur, dan penjara di lantai bawah. Entah kenapa warna yang begitu ngejreng ini menjadi warna primer di Istana Maimoen. Mungkin karena kuning keemasan adalah warna kebesaran khas Melayu.

Didirikan pada tahun 1888, konon material pokok pada awal pembangunan seluruhnya berasal dari Eropa. Di samping Istana ada rumah kecil yang berisi potongan kanon yang dikeramatkan sampai saat ini. Dari beberapa artikel yang saya baca, potongan kanon ini konon adalah jelmaan dari Mambang Khayali, adik laki-laki Putri Hijau dari kerajaan Deli Tua. Kisahnya, Raja Aceh kecewa dan marah lantaran lamarannya ditolak oleh Putri Hijau. Karena itu ia bersama pasukannya menyerang kerajaan Deli Tua.

Karena kalah jumlah pasukan, kerajaan Deli Tua hampir kalah. Karena itu Mambang Khayali menjelma kanon sebagai upaya terakhir untuk mempertahankan kerajaan. Kanon itu terus menerus memuntahkan peluru dan membuat larasnya menjadi sangat panas sampai pecah menjadi dua bagian. Bagian ujung kanon mencelat terbang ke angkasa dan mendarat di Kampung Sukanalu, Kecamatan Barus Jahe, Tanah Karo.

Selesai berkunjung ke Istana ini saya balik ke USU. Iseng-iseng nyoba naik becak motor. Dika bilang bayar saja sepuluh ribu. Tukang becaknya minta lima belas ribu. Saya tawar tiga belas ribu. Deal.Tukang becaknya tidak memakai helm. Ngebut dan menerabas lampu merah. Selama di Medan saya pernah naik angkot, motor, taksi, dan becak motor. Semua sama saja kalau di jalan. Medan memang menipu.

(bersambung)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s