Avontur-3 : We Make People Fly

Hujan deras pagi itu tidak hanya mendera Makassar. Surabaya ternyata juga hujan. Tapi tinggal gerimis. Menyisakan tempias di sudut-sudut bandara Juanda. Genangan air di mana-mana. Tepat pukul 07.25 WIB, pesawat mendarat. Badan sudah lelah. Celana masih basah, sisa dari banjir di Makassar. Dan ku kira ini bakal jadi salah satu momen menunggu yang membosankan karena pesawat ke Medan baru take off pukul 11.40. Seperti biasa, dalam setiap perjalanan, menunggu di Masjid selalu menenangkan.  Itu pun yang kulakukan di Juanda. Masjid terletak di dekat pintu gerbang bandara.

Aku cepat-cepat mencari stop kontak untuk nge-charge telepon genggam. Baterai hampir habis. Tentu tidak lucu kalau sampai di Medan aku tidak bisa menghubungi kawan yang akan menjemput. Sambilnge-charge, aku baca majalah Tempo edisi terbaru. Gila. Harga reguler 27 ribu rupiah, di Jogja biasanya aku beli dari Syamsul dengan harga mahasiswa yang 17 ribu rupiah. Sementara di bandara ini, harganya 35 ribu! Oh! Mungkin karena orang-orang yang ke bandara dianggap kaya jadi harganya pun dimahalkan.

Di masjid, aku makan nasi bungkus dan segelas air putih. Cukup dengan 7 ribu rupiah, kita bisa membeli nasi putih dengan lauk ayam, telur, tempe kering, dan air putih dari ibu-ibu yang biasa berjualan di bandara. Cukup mengenyangkan. Tapi tetap tidak bisa menutupi rasa lelah dan galau karena menunggu.

Bosan menunggu di luar, sekitar pukul 11.00 aku check-in, dan langsung menuju ke ruang tunggu. Semua berjalan biasa-biasa saja. Pesawat akan terbang tepat waktu. Ternyata tidak. Pada pukul 12.00 baru diumumkan bahwa pesawat Lion Air ke Medan dengan nomor penerbangan JT 0973 mengalami keterlambatan dan baru terbang pukul 12.30. Beberapa menit kemudian, para penumpang dipersilakan untuk masuk ke pesawat. Aku duduk di kursi nomor 4D.

Selanjutnya, penumpang duduk manis, sabuk pengaman terpasang, pramugari memperagakan aturan keselamatan sesuai dengan prosedur keselamatan, pesawat mulai melaju. Tapi aku merasakan keanehan, pesawat tidak melaju ke arah landasan pacu bandara. Pesawat justru menepi, dan berhenti. Tidak ada pengumuman apa-apa. Penumpang sudah mulai gelisah. 10-15 menit kemudian baru pramugari memberikan pengumuman bahwa pesawat mengalami kendala teknis dan akan terbang 15 menit lagi.

Sudah lewat 15 menit, pesawat belum menunjukkan tanda-tanda akan terbang. Beberapa penumpang semakin gelisah. Ada yang bolak-balik ke toilet, ada yang telepon pacarnya dan bilang dengan nada emosional, “yang! Pokoknya aku gak mau naek Lion Air lagi!” Wajah-wajah penuh ketegangan. Sepertinya mereka para pebisnis yang terancam merugi kalau gagal datang tepat waktu. Setengah jam, pramugari mempersilakan penumpang untuk menunggu kembali di ruang tunggu. Tidak ada pemberitahuan kapan pesawat lepas landas.

Di ruang tunggu, ada ibu-ibu yang bercerita dengan hebohnya. “Saya tadi ke toilet di pesawat mas, ada bau terbakar, dan pramugarinya lagi nyemprot pake pengharum, tapi tetep aja baunya masih pekat”. Nah! Siapa yang tidak keder mendengar informasi seperti itu. Beberapa penumpang terlihat semakin emosi. Ada penumpang yang memukul meja di depan petugas Lion Air. Ada penumpang yang sudah membatalkan tiketnya. “Siapa yang menjamin keamanan saya dengan pesawat semacam itu?”kata perempuan yang membatalkan tiketnya tersebut.  Kira-kira usianya sebaya denganku. Buat dia mungkin membuang uang tiket satu juta delapan puluh ribu terasa ringan.

Sementara ada keluarga yang duduk di sebelah saya sibuk ngobrol. Mereka pasrah. “Yowes lah, sing penting tekan Batam”. Begitu salah satu kalimat yang kudengar. Oiya, sebelum ke Medan pesawat ini akan transit dulu di Batam. Dan aku mengamini obrolan keluarga ini. Bisa apa coba orang-orang kecil seperti kami kecuali pasrah dan berdoa? Sudah hampir dua jam, belum juga ada tanda-tanda yang mempersilakan penumpang untuk naik pesawat. Tidak ada tanda-tanda juga Lion Air akan memberikan kompensasi.

Saya berharap terlambat paling tidak empat jam lah, biar bisa dapat tiga ratus ribu. Hehehe. Peraturan Menteri Perhubungan No. PM 77/2011 tentang Tanggung Jawab Pengangkut Udara memang salah satu peraturannya mengharuskan maskapai yang terlambat lebih dari empat jam membayar ganti rugi tiga ratus ribu rupiah kepada penumpang. Kalaupun tidak sampai empat jam, aku tetap berharap mendapat kompensasi. Setidaknya makan siang. Yang bener aja. Ini lewat jam makan siang. Perut sudah keroncongan.

Apalagi Keputusan Menteri Perhubungan No 25 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Angkutan Udara memang telah mencantumkan kompensasi, yaitu keterlambatan berkisar selama 30-90 menit adalah refreshment berupa makanan dan minuman ringan. Bila penerbangan terlambat 90-180 menit, refreshment ditambah dengan makanan berat atau mengalihkan penumpang ke penerbangan berikutnya atau penerbangan maskapai lain. Tapi Lion Air tidak memberikan apa-apa. Sekadar permintaan maaf pun tidak.

Entah apa yang terjadi dengan maskapai ini. Berita yang muncul belakangan malah menyebutkan adanya pilot Lion Air yang menggunakan narkoba. Seperti diketahui, Badan Narkotika Nasional (BNN) kembali melakukan penangkapan terhadap seorang pilot Lion Air berinisial SS, di Hotel Garden Palace, Surabaya, Jawa Timur, pada Sabtu 4 Februari 2012. Sebelumnya pada 10 Januari 2012, BNN juga menangkap pilot dari maskapai yang sama sedang mengisap sabu di sebuah tempat karaoke di Makassar.

Beberapa kawan yang kuceritakan tentang keterlambatan dan kasus pilot pengguna narkoba ini justru bercanda. “Yo bener Nu, tagline Lion Air kan “We Make People Fly””. Dia bilang, karena harus make people fly, maka ya pilotnya harus nge-fly dulu dengan mengonsumsi narkoba.

Pukul 14.40, penumpang dipanggil kembali untuk naik ke pesawat. Ini armada pesawat baru, bukan yang tadi mengalami gangguan operasional. Perut sudah melapar, kepala mulai sedikit pusing. Tapi ya sudah. Sing penting tekan Medan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s