Avontur-1 : Eka

“Wes to, percoyo wae, aku wes suwe urip ning terminal”. Kalimat ini diucapkan seorang lelaki tua yang duduk di depan gerbang terminal Giwangan. Ghofur yang malam itu mengantarku ke terminal mengarahkan untuk nyegat bus Eka di sebelah depan terminal. Lelaki tua yang kebetulan mendengarkan percakapan kami bilang, “ora neng kono mas, tapi neng kene,”  ujarnya setengah berteriak. Ia menunjuk ke arah tempat yang biasanya digunakan bus dalam kota untuk menunggu penumpang. Aku menurutinya, Ghofur pulang. Waktu sudah menunjukkan pukul 20.10 WIB.

Sesuai yang tertera di tiket, pesawat dari Surabaya ke Makassar baru akan berangkat besok pagi pukul 09.30. Jika bisa segera naik bus, kuperkirakan sekitar pukul setengah 4 sudah sampai di terminal Purabaya, Bungurasih. Setelah itu ke bandara Juanda, dan istirahat di masjid menunggu pesawat.

Sejam di terminal, bus Eka belum datang. Aku tenang-tenang saja. Banyak penumpang yang juga menunggu. Dua jam di terminal, dua bus Eka datang tapi aku tidak kebagian tempat duduk. Ternyata begitu banyak penumpang yang ingin ke Surabaya malam itu. Dan semua ingin dapat tempat duduk. Oiya, malam itu bus Eka memang mengalami keterlambatan jadwal. Sambil menunggu aku ngobrol dengan mas-mas di sebelah.

Dia pegawai negeri di Jombang. Sementara istrinya pegawai negeri di Pemkot Jogja. Hampir sebulan sekali dia ke Jogja untuk menengok sang istri. Yah, hubungan jarak jauh semacam ini pasti berat, kupikir. Apalagi buat yang sudah menikah. Kebutuhan biologis selalu mendesak untuk dipenuhi. Mungkin. Hehe. Mas-mas ini ngoceh panjang sekali. Ada beberapa pesannya yang kuingat.

“Dadi PNS kui pancen penak mas, uripe terjamin sampek pensiun,”  katanya. Tapi, dia buru-buru melanjutkan bahwa menjadi pegawai negeri berarti harus siap dengan hidup yang monoton. Siap dengan rutinitas. Apalagi sistem di birokrasi saat ini begitu busuknya dan memaksa setiap orang untuk berbuat korup. Memplesetkan kalimatnya Pram, korup sejak dalam pikiran.

Dia cerita juga soal kondisi di kantornya yang sebenarnya dipenuhi dengan orang-orang baik. Sayangnya, sistem sudah demikian busuk. Dan orang-orang baik ini ikut menjadi busuk. Setiap ada orang baik yang baru masuk, ia harus belajar untuk mengikuti sistem. Atau kalau tidak, ia akan disingkirkan oleh sistem. Pesan mas ini jelas, jangan coba-coba sok idealis kalau jadi pegawai negeri. Aku diam.

Tiga jam. Beberapa penumpang yang dari tadi menunggu kedatangan bus Eka sudah beralih ke shelter Mira dan Sumber Kencono yang sudah ngantri penumpang. Aku tergoda. Rasa-rasanya ingin ikut naik SK. Waktu semakin mepet. Tapi mas yang dari tadi kuajak ngobrol bilang “nyante ae mas, mengko melu aku wae nek gak entuk Eka”. Mungkin dia kasihan melihat wajahku yang dia anggap masih pertama kali melakukan perjalanan ke Surabaya.

Satu bus Eka datang. Dari gerbang depan masuk Giwangan penumpang sudah bersiap. Ternyata bus ini melaju terus sampai ke bagian tengah terminal. Para penumpang ini ikut lari sampai ke tengah. Tua muda. Laki perempuan. Semua berlari. Aku pun ikut lari. Meski bisa naik sampai di atas bus, ternyata semua sudah penuh. Calo-calo sudah duduk manis di atas. Penumpang yang datang terlambat bisa dapat tempat duduk.

Aku turun. Mas yang tadi kuajak ngobrol ternyata sudah dapat tempat duduk di bus. Ia memandangku. Ku kira dia mbatin, “hidup itu berat mas, siapa cepat, dia dapat tempat duduk”. Masih dengan nafas ngos-ngosan aku kembali lagi ke tempat duduk tadi. Sebenarnya biasa saja. Dalam momen perjalanan semacam ini, ketinggalan bus adalah hal yang biasa. Tapi aku tergoda untuk sedikitmisuh-misuh. Entah kenapa pisuhan ini selalu lebih nyaman kalau dialamatkan ke SBY. Anda bisanya cuma prihatin-prihatin saja sih pak.

Sederhana saja. Eka ini bus eksekutif. Ku kira orang-orang berebutan naik Eka karena harganya yang relatif terjangkau. Wajar jika untuk naik saja orang-orang berebutan bahkan berlarian di terminal. Jumlah armadanya terbatas. Ini persoalan. Jumlah armada yang terbatas mau tidak mau membuat orang untuk menggunakan bus lain seperti Sumber Kencono.

Nah. Bus ini sudah menelan banyak nyawa. Dari 2009 hingga 2011 kemarin, kecelakaan yang melibatkan Sumber Kencono tercatat sebanyak 76 kasus. Dari 76 kasus itu, ada 72 korban yang meninggal dunia. Dengan angka statistik yang “wah” itu, wajar saja jika banyak orang menyebut bus ini sebagai sumber bencana. Repot bukan. Mau naik Eka, jumlahnya terbatas, dan tidak selalu bisa dapat kursi. Mau naik SK, statistik bus ini cukup untuk membuat ngeri batin kita. Jadi kesimpulannya, SBY gagal menyediakan alat transportasi yang layak buat masyarakat. Simplifikasi yang terlalu berlebihan ya. Biarlah. Maaf buat anda para pendukung SBY.

Empat jam kurang beberapa menit. Bus Eka datang lagi. Aku berlari. Cepat-cepat masuk. Akhirnya, dapat tempat duduk. Pukul 23.40 bus melaju meninggalkan Giwangan. Ini akan menjadi perjalanan yang panjang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s