Avontur-2: Makassar yang Aneh

Tepat pukul 11.45 waktu Indonesia bagian tengah, pesawat Batavia Air yang kutumpangi mendarat di Bandara Hasanuddin. Ini kedatanganku yang ketiga di Makassar. Sebelumnya, 2009 ketika acara Pena Emas yang diadakan kawan-kawan Unit Kegiatan Pers Mahasiswa (UKPM) Unhas. Yang kedua, bulan September 2011 setelah KKN di Pulau Buton. Dan sekarang, kedatangan untuk menuntaskan tugas akhir kuliah yang menggalaukan itu.

Sesungguhnya tidak ada yang mengesankan dari Makassar. Bahkan sejak keluar dari bandara, aku sudah disambut dengan genangan air di beberapa tempat dan kemacetan yang parah. Kesan kumuh dan kotor segera menyergap sepanjang jalan Perintis Kemerdekaan. Jalan yang macet. Traffic Lightyang mati. Pengguna jalan yang tidak teratur. Bangunan ruko yang belum jadi dan menghiasi sepanjang kanan-kiri jalan. Aneh. Padahal jalan ini adalah jalan utama yang menghubungkan Bandara Hasanuddin dengan pusat kota.

Apalagi,  kota ini sudah meniatkan dirinya menjadi salah satu kota terbesar di Indonesia dengan megaproyek yang sangat ambisius, Center Point of Indonesia (CPI). Megaproyek yang dibangun di kawasan Losari dan Tanjung Bunga ini nilainya trilyunan rupiah. Kawasan ini diniatkan sebagai kawasan bisnis, pemerintahan, dan hiburan di Sulawesi Selatan. Simak saja beberapa program CPI yang saya kutip dari laman darimakassar.com.

“Di kawasan ini akan dibangun Istana Presiden, yang berdiri di atas laut. Di kawasan CPI juga akan dibangun Masjid Termegah di Asia, sekelas Taj Mahal di India. Ada juga The Makassar Notradamus, yaitu taman 1000 patung Pahlawan Indonesia. Masih di lokasi yang sama, Makassar juga akan membangun Public Space atau area publik terluas di Dunia. Di lapangan nan luas ini, akan terdapat banyak kawasan hijau, tempat bermain, taman bunga, tempat beristrahat, dan tentunya pantai buatan. Di sekitar kawasan ini juga akan terdapat Waterfront dan Marinas. Center Point of Indonesia juga akan dilengkapi dengan sebuah menara yang menyerupai Oriental Pearl Tower di Shanghai. Nantinya beberapa pantai dan pulau-pulau buatan di CPI juga akan dihubungkan dengan kereta gantung (Gondola) terpanjang di Asia”.

Benar-benar megaproyek. Aku tak habis pikir. Nah, lagi-lagi pengen misuhi SBY. Bayangkan. Untuk membuat Istana Presiden saja harus ngurug laut. Ini proyek yang sangat tidak penting dan terlalu banyak menghabiskan uang rakyat. Sempatkan main ke Makassar khususnya di Losari dan anda akan melihat betapa kotornya daerah itu sekarang. Kotor karena sampah yang berada di mana-mana. Kotor karena proyek pembangunan yang tidak jelas.

Sekarang soal kemacetan. Makassar nyaris menyerupai kota-kota besar lain di Indonesia seperti Jakarta, Medan, dan Surabaya. Bersama Dimas, sahabat yang menemaniku selama di Makassar, aku menyusuri jalan-jalan utama di kota ini, di antaranya yaitu jalan Perintis Kemerdekaan, Urip Sumohardjo, dan Pettarani. Salah satu titik kemacetan ada di tugu Adipura yang berada di jalan Perintis Kemerdekaan.

Ini yang paling ironis. Kota ini pernah mendapatkan penghargaan Adipura pada tahun 1995 dan 1996. Namun justru di depan tugu Adipura ini, kemacetan dan kesemrawutan terlihat dengan jelas. Sampah berserakan di sekitar tugu tersebut. Aku bahkan melihat sarang laba-laba di salah satu sudut tugu. Jelas sudah lama tugu ini tidak dibersihkan. Perilaku para pengguna jalan membuat kemacetan menjadi semakin parah dan berbahaya. Beberapa kali aku melihat mobil hampir menabrak motor, motor hampir menabrak motor, pete-pete berhenti di tengah jalan, dan orang-orang marah. Ini ciri khas kota besar kota besar di Indonesia.

Selama di Makassar aku menginap di beberapa tempat. Di kos Dimas, di sekretariat UKPM, di daerah Tanjung ketika mengikuti rapat kerja UKPM, di sekretariat Walhi, dan terakhir di rumah kak As’ad. Penelitian di UKPM menarik. Tapi tentu tak akan dibahas di sini. Sudah cukup di skripsi saja. Ada beberapa hal menarik selama di Makassar. Pertama, ketika ikut rapat kerja kawan-kawan UKPM. Hari pertama, kawan-kawan perempuan di UKPM memasak nasi untuk makan malam dan ternyata nasi belum matang betul. Nasi masih agak keras. Beberapa kawan yang cowok sedikit “memprotes”. Dan malamnya ku jadikan bahan diskusi singkat tentang diskriminasi gender dalam masyarakat.

Sebenarnya aku kaget. Tepat ketika rapat kerja malam pertama diakhiri, aku diminta untuk menjadi pemantik diskusi tentang analisis wacana. Khususnya tentang skripsi yang sedang ku kerjakan. Ini pukul 01.00 WITA. Karena tidak ada persiapan, akhirnya muncullah berbagai contoh seperti nasi yang keras dan kaitannya dengan ketimpangan gender tadi. Hehehe. Terima kasih kepada Uga, Kak Eluk, Dini, Abot, Irsyad, Aman dan kawan-kawan yang lain untuk diskusi yang menyenangkan sampai diakhiri pukul 03.30 WITA.

Hal kedua yang menarik adalah ketika menginap di Walhi. Aku “terjebak” di rapat Front Perjuangan Rakyat (FPR) Sulawesi Selatan yang sedang membahas tentang persiapan Rapat Umum Anggota (RUA) petani di Kabupaten Bulukumba. Rapat yang dihadiri elemen masyarakat, aktivis LSM, termasuk mahasiswa ini berlangsung hingga tengah malam.

Untuk ini aku harus merelakan putaran kelima piala FA Liverpool vs MU. Tapi tidak apa. Dialektika rapat pada malam minggu ini berjalan hangat. Kopi, rokok, dan buah langsat tersaji di atas meja. Pokok bahasannya jelas, petani harus berorganisasi. Karena dengan berorganisasilah para petani bisa berjuang melawan kekerasan, perampasan tanah dan intimidasi terhadap kaum tani sebagaimana yang terjadi di Bima, Mesuji, dan beberapa daerah lain di republik. Terima kasih kepada kak Adam, kak Reza, dan Dimas yang telah mengajakku ke Walhi.

Ketiga, kebanjiran. Ya. Seumur hidup baru sekali ini aku merasakan banjir. Malam terakhir di Makassar aku menginap di rumah kak As’ad. Aku baru terlelap sekitar pukul 23.30. aku tidur di lantai dengan beralaskan tikar. Rasa-rasanya ini akan jadi malam yang biasa-biasa saja sampai ketika aku terbangun pukul 02.00. Aku merasakan tetesan air di pojok ruangan. Ku kira bocor biasa karena hujan sedang turun dengan derasnya. Aku membangunkan Dimas. Badannya kugoyang-goyangkan tapi tetap tidak bangun juga. Terlalu nyenyak tidurnya. Barangkali karena kelelahan.

Tiba-tiba dia bangun terkaget dan langsung meloncat. Banjir. Air mendadak memenuhi seluruh ruangan. Banjir setinggi mata kaki. Dimas langsung mencabut kabel-kabel yang menancap di stop kontak. Kak As’ad dan saudaranya terbangun. Hujan di luar semakin bertambah deras. Listrik padam. Dan benak mulai dipenuhi dengan pikiran-pikiran negatif. Jangan-jangan ini banjir bandang. Jangan-jangan aku tidak bisa ke bandara. Jangan-jangan pesawat bakal delay. Jangan-jangan aku tidak jadi ke Medan. Banyak sekali jangan-jangan.

Sampai pukul 05.00, hujan belum berhenti. Tapi harus ditembus. Dimas mengantarku ke bandara dengan menggunakan motor. Kami memakai jas hujan, tentu saja. Ku kira jalanan bakal penuh dengan air yang meluap. Tapi ternyata salah. Makassar tidak banjir. Hujan hanya menimbulkan genangan air di beberapa tempat. Banjir tadi hanya melanda kawasan Bumi Tamanlarea Permai, perumahan terbesar di Makassar.

Ini perumahan terbesar, tapi penataan ruangan yang buruk membuatnya rawan banjir. Setiap pemilik rumah berlomba-lomba meninggikan halaman rumahnya. Tidak ada tindakan yang tegas dari pemerintah. Wajar saja ketika sedang ada acara di Panta Losari.  JK menegur walikota yang lebih sibuk kampanye untuk persiapan pemilihan Gubernur tahun depan alih-alih mengurus kotanya.

Jadi, Makassar begitu membosankan. Beruntung ada banyak sahabat yang menyenangkan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s